Lowongan Kerja AS Naik, Pasar Kerja Stabil dan Siap Ekspansi
ORBITINDONESIA.COM – Lowongan kerja di Amerika Serikat naik lagi, menandai pasar kerja AS yang stabil dan mulai bergerak menuju ekspansi. Data JOLTS terbaru menunjukkan posisi terbuka pada Mei mencapai hampir 7,6 juta, level tertinggi dalam dua tahun.
Papan “now hiring” di gerai Domino’s di Los Angeles menjadi simbol kecil dari sinyal besar yang muncul dari data resmi. Pada Selasa, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang memperlihatkan lowongan kerja meningkat untuk bulan kedua berturut-turut.
Estimasi lowongan kerja pada Mei naik menjadi hampir 7,6 juta dari 7,59 juta pada April, sekaligus mencetak rekor tertinggi dua tahun. Ini mengejutkan karena ekonom sebelumnya memperkirakan lowongan justru turun hampir 10% ke sekitar 6,975 juta, dan lonjakan April dianggap berlebihan.
Selama hampir dua tahun, pasar kerja AS terjebak dalam pola “low-hire, low-fire”, yakni perekrutan minim dan pemutusan kerja juga minim. Setelah ledakan pascapandemi, pertumbuhan pekerjaan menormal lalu melambat, dipengaruhi menyusutnya angkatan kerja dan ketidakpastian kebijakan federal.
Data Mei memperlihatkan kenaikan lowongan meluas di sejumlah sektor, termasuk leisure and hospitality, perdagangan grosir, konstruksi, serta manufaktur. Namun, lowongan menyusut di kesehatan, keuangan, dan teknologi, menegaskan pemulihan yang tidak merata.
Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, menyimpulkan momen ini sebagai perubahan suasana: “Resesi perekrutan sudah berakhir, dan kita mulai melihat lebih banyak industri mencari pekerja lagi.” Ia menilai perusahaan mulai sadar AI “tidak bisa melakukan semuanya” sehingga perekrutan kembali relevan, meski tetap hati-hati.
Kontras utama dalam laporan JOLTS adalah ketika lowongan naik, jumlah perekrutan baru justru turun untuk bulan ketiga berturut-turut. Ini memberi sinyal bahwa niat merekrut belum sepenuhnya menjadi tindakan, walau kebutuhan tenaga kerja terlihat membesar di beberapa lini produksi.
Sneha Puri, ekonom Indeed, menegaskan situasi ini “bukan kontradiksi” karena kenaikan pekerjaan lebih banyak didorong turunnya separations secara historis, bukan oleh banjir rekrutmen baru. Artinya lebih sedikit orang kehilangan atau meninggalkan pekerjaan, tetapi belum banyak tambahan orang yang masuk kerja lewat pintu rekrutmen.
Noah Yosif, kepala ekonom American Staffing Association, menambahkan faktor pasokan tenaga kerja yang menyusut ikut mengubah keseimbangan. Ia menulis bahwa stagnasi lowongan “diimbangi oleh pasokan tenaga kerja yang lebih kecil” karena populasi usia kerja mengecil.
Di sisi lain, data Mei tidak menunjukkan perubahan besar pada PHK maupun angka orang yang resign sukarela. Ini penting karena tingkat resign biasanya mengukur keberanian pekerja untuk pindah, dan angka yang datar mengisyaratkan kepercayaan diri pekerja belum pulih sepenuhnya.
Laporan terpisah dari The Conference Board memperkuat nuansa kehati-hatian itu. Indeks kepercayaan konsumen naik tipis pada Juni karena bensin lebih murah, tetapi porsi responden yang menilai pekerjaan “sulit didapat” naik ke 22,5%, tertinggi sejak Januari 2021, menurut ekonom Dana Peterson.
Meski persepsi publik masih muram, data pertumbuhan pekerjaan mulai menunjukkan perbaikan. Ekonomi AS menambah sekitar 172.000 pekerjaan pada Mei, bulan ketiga berturut-turut dengan tambahan di atas 100.000, sementara pengangguran bertahan di 4,3%.
Pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan berikutnya yang dimajukan karena libur 4 Juli. Proyeksi menyebut ekonomi menambah sekitar 100.000 pekerjaan pada Juni dengan tingkat pengangguran diperkirakan tetap.
Kenaikan lowongan kerja AS pada Mei adalah kabar baik, tetapi bukan alasan untuk euforia. Ada pesan yang lebih tajam: pasar kerja mungkin membaik, namun mekanisme perekrutan masih tersendat oleh kehati-hatian perusahaan dan keterbatasan pasokan tenaga kerja.
Yang terlihat adalah pemulihan yang memilih pemenang dan pecundang, bukan kebangkitan serentak. Sektor “blue-collar” seperti konstruksi dan manufaktur tampak rebound, sementara teknologi dan keuangan masih tertekan, sebagian karena adopsi AI yang menekan kebutuhan peran tertentu.
Di sinilah narasi “AI menggantikan manusia” menjadi terlalu sederhana. Data justru menyiratkan koreksi: perusahaan mulai menguji batas AI, lalu kembali mencari tenaga kerja manusia untuk tugas yang tidak mudah diotomatisasi, tetapi mereka tetap menahan diri untuk tidak merekrut agresif.
Masalahnya, publik tidak membaca data dengan cara yang sama seperti ekonom. Ketika konsumen merasa pekerjaan makin sulit didapat, ketakutan itu bisa menekan belanja, dan pada akhirnya melemahkan permintaan yang justru dibutuhkan agar perekrutan benar-benar menguat.
Jika tren “low-hire, low-fire” berlanjut, pasar kerja bisa tampak sehat di permukaan tetapi rapuh di bawah. Stabilitas tanpa mobilitas dapat menahan kenaikan upah, memperlambat perpindahan talenta, dan membuat pekerja muda atau pencari kerja baru lebih sulit masuk.
Data JOLTS Mei memberi sinyal bahwa pasar kerja AS tidak lagi membeku, dan bahkan mulai mengarah ke ekspansi, meski berjalan pelan. Namun, turunnya perekrutan baru dan pesimisme konsumen mengingatkan bahwa pemulihan ini masih bersifat selektif dan penuh kehati-hatian.
Pertanyaan kuncinya bukan sekadar “berapa banyak lowongan”, melainkan “siapa yang benar-benar direkrut” dan “di sektor mana peluang itu nyata.” Jika AI, demografi, dan sentimen publik terus menarik pasar ke arah berbeda, stabilitas hari ini bisa menjadi persimpangan, bukan garis finis. (Orbit dari berbagai sumber, 6 Juli 2026)