Denny JA: Spider-Man, Superhero Itu Kesepian
SPIDER-MAN, SUPERHERO ITU KESEPIAN
- Inspirasi dari Film Spider-Man: Brand New Day (2026)
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang lelaki melompat dari puncak gedung Manhattan ketika matahari baru tenggelam. Orang-orang di bawah bersorak melihat aksi heroiknya.
Mereka mengangkat telepon genggam, merekamnya, lalu pulang dengan hati lega karena kota kembali selamat.
Namun ketika malam tiba dan topeng itu dilepas, tak seorang pun mengetuk pintu apartemennya. Gadis yang paling ia cintai berjalan melewatinya tanpa mengenali wajahnya.
Tepuk tangan dunia ternyata tak pernah mampu mengusir sunyi seorang manusia.
-000-
Spider-Man: Brand New Day, yang tayang perdana di Dolby Theatre Hollywood pada 27 Juli 2026 dan dirilis di Amerika Serikat pada 31 Juli 2026, membawa Peter Parker memasuki babak kehidupan yang paling sepi.
Film ini disutradarai Destin Daniel Cretton, dengan Tom Holland kembali memerankan Peter Parker bersama Zendaya sebagai MJ dan Jacob Batalon sebagai Ned Leeds.
Film ini melanjutkan konsekuensi besar dari Spider-Man: No Way Home (2021), ketika mantra Doctor Strange membuat seluruh dunia melupakan identitas Peter Parker.
Tema utamanya bukan lagi sekadar pertarungan melawan penjahat, melainkan pencarian kembali jati diri seorang pahlawan yang kehilangan seluruh hubungan pribadinya.
Sinematografinya menampilkan New York dengan nuansa lebih sunyi dan intim. Kota tetap megah, tetapi terasa asing bagi Peter.
Kamera tidak hanya mengejar aksi di udara, melainkan juga diam cukup lama pada wajah seorang pemuda yang menyadari bahwa kemenangan terbesar sering kali dibayar dengan kehilangan yang tak dapat dipulihkan.
Dalam film ini, Peter kembali menghadapi ancaman baru, tetapi luka terdalam bukan berasal dari musuh.
Luka itu datang ketika ia berdiri di depan MJ dan Ned, lalu menyadari bahwa dua orang yang pernah menjadi rumah bagi hidupnya kini memandangnya seperti orang asing.
Di balik kostum merah biru yang gagah, film ini menampilkan seorang manusia yang rapuh. Mungkin justru karena itulah Spider-Man selalu terasa paling dekat dengan kehidupan kita.
-000-
Saya pertama kali mengenal Spider-Man bukan melalui layar bioskop, melainkan melalui lembaran komik yang mulai lusuh karena terlalu sering dibaca.
Sebelum mengenalnya, saya lebih dahulu mengagumi Superman. Ia datang dari langit, hampir tak terkalahkan, menjadi lambang harapan.
Superman lahir pada 1938 dan membuka era superhero modern. Dua puluh empat tahun kemudian, pada 1962, Stan Lee dan Steve Ditko memperkenalkan Spider-Man melalui Amazing Fantasy nomor 15. Dunia superhero berubah selamanya.
Persaingan DC Comics dan Marvel Comics sejak itu bukan sekadar persaingan bisnis. DC banyak menghadirkan sosok-sosok yang hampir mitologis.
Marvel justru membawa para pahlawannya turun ke bumi. Peter Parker bukan miliarder, bukan alien, bukan dewa. Ia seorang remaja yang canggung, miskin, sering dirundung, tetapi sangat cerdas.
Awalnya Peter tidak terlalu peduli pada orang lain. Setelah memperoleh kekuatan akibat gigitan laba-laba radioaktif, ia lebih tertarik mencari popularitas.
Sampai suatu hari ia membiarkan seorang penjahat melarikan diri. Penjahat yang sama kemudian membunuh Paman Ben.
Dari tragedi itulah lahir salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah budaya populer.
“With great power comes great responsibility.”
Kalimat itu bukan hanya slogan superhero. Ia adalah etika kehidupan. Semakin besar kekuasaan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus kita pikul.
-000-
Dalam No Way Home, Peter meminta Doctor Strange menghapus ingatan dunia tentang dirinya demi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai. Mantra itu berhasil. Dunia tetap mengenal Spider-Man, tetapi melupakan Peter Parker.
Di sinilah kisah Brand New Day dimulai. Peter terus melindungi New York secara anonim. Ia masih mengayun di antara gedung-gedung pencakar langit, tetapi hidupnya menjadi kosong.
MJ dan Ned telah lulus kuliah, kembali ke New York, namun sama sekali tidak mengenalnya. Setiap kali bertemu mereka, Peter harus menahan kerinduan yang tak mungkin dijelaskan.
Sementara itu muncul ancaman baru di sekitar Department of Damage Control dan sosok Mac Gargan, dengan seorang mutan telepatis, Jean Grey, yang mampu merasuki pikiran orang lain.
Kekuatan Peter sendiri berevolusi ke arah yang lebih gelap dan agresif, memaksanya mencari bantuan Bruce Banner sekaligus berjalin nasib dengan Frank Castle, sang Punisher, yang menjadi cermin moral bagi kegelisahannya sendiri.
Dalam berbagai pertarungan, Peter kembali dipaksa memilih antara kemarahan dan belas kasih. Ia bahkan hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Yang paling menyentuh, dalam pembacaan saya, bukanlah adegan pertarungan, melainkan momen ketika Peter berdiri di hadapan MJ sebagai orang asing. Saya membayangkan sebuah kalimat sederhana yang bisa saja terucap dari bibirnya.
“Aku tidak mengenalmu. Kamu terasa orang baik. Tapi aku tak punya memori tentang hubungan kita. Aku tak bisa mencintaimu.”
Kalimat semacam itu, andaipun tak pernah benar-benar diucapkan, lebih menyakitkan daripada pukulan musuh mana pun. Peter akhirnya memahami bahwa cinta tidak selalu dapat dipanggil kembali hanya oleh kenangan satu pihak. Ada kehilangan yang memang harus diterima dengan lapang.
Saya pernah mengalami masa ketika orang yang dulu sangat dekat berubah menjadi orang asing. Bukan karena meninggal, melainkan karena hidup membawa kami ke arah yang berbeda.
Saat itulah saya memahami bahwa kehilangan tidak selalu berbentuk kematian. Kadang ia hadir ketika seseorang masih hidup, tetapi tak lagi mengenali ruang yang dulu kami bangun bersama.
Namun film ini tidak berhenti pada kesedihan. Peter belajar bahwa menjadi Spider-Man bukan berarti harus selamanya hidup sendirian. Ia mulai membuka dirinya kembali kepada dunia, bukan untuk menghapus luka masa lalu, melainkan agar luka itu tidak lagi menguasai masa depannya.
-000-
Di titik inilah Spider-Man bukan lagi sekadar hiburan, melainkan alegori eksistensial tentang keberanian manusia modern: memilih tetap setia pada nurani, meski seluruh dunia telah melupakannya.
Ada banyak pelajaran besar yang saya bawa pulang dari kisah ini.
Pengorbanan sering kali tidak mendapat penghargaan dari mereka yang kita selamatkan. Dalam kehidupan nyata, banyak orang tua, guru, tenaga kesehatan, atau pemimpin yang bekerja diam-diam tanpa pernah menerima ucapan terima kasih.
Nilai sebuah pengorbanan tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan, melainkan oleh ketulusan niatnya.
Identitas manusia ternyata tidak dibangun oleh ingatan orang lain, tetapi oleh kesetiaan terhadap nilai yang dipilihnya.
Kesepian tidak selalu berarti kita gagal mencintai. Peter kehilangan hubungan dengan orang-orang yang paling ia kasihi, tetapi ia tidak kehilangan kemampuannya untuk mengasihi. Ada saat ketika cinta terbaik adalah tetap berbuat baik meskipun tidak lagi dikenali oleh orang yang kita cintai.
Viktor Frankl mengatakan, manusia sanggup menanggung penderitaan selama penderitaan itu mempunyai makna.
Itulah Peter Parker. Ia kehilangan semuanya. Tetapi tidak kehilangan alasan untuk terus hidup dan berbuat baik, berani mengambil risiko.
Setiap manusia memakai topeng. Sebagian adalah topeng keberhasilan, sebagian topeng jabatan, sebagian lagi topeng kekuatan.
Namun di balik semua itu, hampir setiap orang menyimpan kerinduan yang sama, yaitu diterima apa adanya. Spider-Man mengingatkan kita bahwa bahkan seorang pahlawan pun membutuhkan seseorang yang mengenal wajah di balik topengnya.
-000-
Barangkali manusia tidak benar-benar bertumbuh ketika hidupnya dipenuhi tepuk tangan. Kita justru mengenal diri sendiri saat harus melewati kesendirian, ketika tak ada lagi pujian yang menguatkan dan tak ada lagi pengakuan yang dapat dijadikan sandaran.
Mungkin itulah yang dialami Spider-Man. Dunia boleh melupakan Peter Parker, tetapi dunia tidak pernah mampu merampas nuraninya.
Barangkali memang begitulah kehidupan. Di balik topeng keberhasilan dan keberanian yang kita kenakan tiap hari, sering tersembunyi kelelahan dan kesepian yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Spider-Man hanya membuat kenyataan itu terlihat lebih jelas. Ia mengajarkan bahwa menjadi manusia bukan berarti selalu tampak kuat, melainkan tetap memilih berbuat baik meski hati sedang terluka.
Dua buku membantu memperluas pemahaman kita mengenai dunia Spider-Man.
Buku pertama adalah Spider-Man: Life Story karya Chip Zdarsky, diterbitkan oleh Marvel Comics pada 2019. Buku ini membayangkan bagaimana jika Peter Parker benar-benar menua mengikuti perjalanan waktu sejak 1962.
Di sana terlihat bahwa menjadi pahlawan bukan hanya soal memenangkan pertempuran, tetapi juga menghadapi usia, kehilangan, keluarga, dan penyesalan.
Buku ini memperlihatkan bahwa kepahlawanan sejati bukanlah hidup tanpa luka, melainkan tetap setia pada nilai moral ketika usia dan kenyataan mengikis semua ilusi masa muda.
Buku kedua adalah Marvel Comics: The Untold Story karya Sean Howe, diterbitkan oleh Harper pada 2012. Buku ini bukan biografi Spider-Man, melainkan sejarah lahirnya Marvel sebagai industri kreatif.
Howe mencatat bahwa Stan Lee sengaja menginginkan pahlawan yang “would have real problems”—remaja dengan tagihan sewa, patah hati, dan rasa bersalah—sesuatu yang pada awal 1960-an dianggap risiko komersial oleh penerbit lain. Keputusan itu justru mengubah sejarah komik dunia.
Spider-Man menjadi bukti bahwa karakter yang paling kuat bukanlah yang paling sempurna, melainkan yang paling manusiawi.
-000-
Ada yang berpendapat bahwa film-film superhero hanyalah hiburan ringan yang dipenuhi efek visual mahal. Menurut pandangan ini, kisah-kisah tersebut terlalu sederhana untuk dijadikan bahan perenungan tentang kehidupan.
Pandangan itu memang memiliki dasar. Banyak film superhero memang berakhir pada pola klasik: kebaikan mengalahkan kejahatan.
Namun Spider-Man menunjukkan sesuatu yang berbeda. Musuh terbesarnya bukan selalu Green Goblin, Venom, atau penjahat lain.
Musuh terbesarnya sering kali adalah rasa bersalah, kesepian, dan pilihan moral yang tidak memiliki jawaban mudah. Di titik itulah Spider-Man berubah dari sekadar hiburan menjadi cermin psikologi manusia. Ia berbicara tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih melakukan yang benar.
Barangkali karena itu kisah Spider-Man terus bertahan lebih dari enam puluh tahun. Teknologi berubah. Generasi berganti. Musuh-musuh baru bermunculan. Tetapi kebutuhan manusia untuk dicintai, dikenali, dan diterima tidak pernah berubah.
Saya sering membayangkan, mungkin setiap orang pernah menjadi Peter Parker dalam bentuk yang berbeda. Kita pernah melakukan sesuatu yang baik tanpa diketahui siapa pun.
Kita pernah kehilangan seseorang yang tidak mungkin kembali. Kita pernah berdiri di tengah keramaian, tetapi merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal diri kita.
Di situlah Spider-Man berhenti menjadi tokoh komik. Ia berubah menjadi metafora tentang manusia modern.
Kita semua memakai topeng. Kita semua memikul tanggung jawab. Kita semua menyimpan kesepian yang tidak selalu terlihat.
Yang membedakan hanyalah apakah kita tetap memilih melakukan kebaikan ketika tidak ada lagi yang mengingat nama kita.
“Kesepian mungkin menghapus tepuk tangan, tetapi tidak pernah mampu menghapus makna sebuah pengorbanan.”
Jakarta, 2 Agustus 2026
-000-
REFERENSI
1. Spider-Man: Life Story, Chip Zdarsky, Marvel Comics, 2019.
2. Marvel Comics: The Untold Story, Sean Howe, Harper, 2012.
3. “Spider-Man: Brand New Day,” Wikipedia, diakses 3 Agustus 2026, en.wikipedia.org/wiki/Spider-Man:_Brand_New_Day.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.
https://www.facebook.com/share/1DJswxBuTp/?mibextid=wwXIfr ***