Krisis Polandia-Ukraina: Zelenskyy Kembalikan Order Elang Putih

Euronews

Euronews

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Krisis Polandia-Ukraina memanas setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengembalikan Order of the White Eagle, penghargaan tertinggi Polandia. Langkah ini terjadi usai Presiden Polandia Karol Nawrocki mencabut kehormatan itu, dipicu penamaan unit militer Ukraina dengan simbol “Heroes of the UPA”.

Terjemahan ringkas artikel sumber: pejabat Ukraina kini dan mantan pejabat berencana mengembalikan penghargaan Polandia setelah Zelenskyy dicopot dari Order of the White Eagle. Ketegangan meningkat sejak Zelenskyy menamai satuan militer berdasarkan UPA, kelompok gerilya era Perang Dunia II yang kontroversial di Polandia.

Zelenskyy mengatakan ia mengirim kembali Order itu dan mengunggah foto paketnya di media sosial. Ia menulis bahwa penghargaan tersebut diyakini ditujukan bagi rakyat Ukraina dan tentaranya, seraya tetap berterima kasih kepada rakyat Polandia atas dukungan.

Nawrocki menyatakan pencabutan itu tidak ditujukan kepada rakyat Ukraina dan Polandia tetap mendukung Kyiv. Namun di Ukraina, langkah itu dipandang sebagai serangan simbolik terhadap legitimasi perjuangan mereka.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menjadi yang pertama mengumumkan pengembalian penghargaan Polandia yang ia terima pada 2022. Kepala kantor kepresidenan Kyrylo Budanov dan duta besar Ukraina untuk Polandia Vasyl Bodnar menyusul dengan melepas penghargaan mereka.

Tiga mantan presiden Ukraina, Leonid Kuchma, Viktor Yushchenko, dan Petro Poroshenko, juga menyatakan melepas Order of the White Eagle. Poroshenko menegaskan reaksinya diarahkan pada keputusan Nawrocki, bukan pada rakyat Polandia.

Krisis bermula pada 27 Mei ketika Zelenskyy menandatangani dekret menamai Pusat Operasi Khusus Independen “Utara” sebagai “Heroes of the UPA”. Ia menyebutnya upaya memulihkan tradisi historis tentara nasional dan mengapresiasi pelaksanaan misi pertahanan kedaulatan.

UPA dibentuk pada Oktober 1942 di Volhynia sebagai sayap militer OUN-B yang ultranasionalis di bawah Stepan Bandera. Walau melawan Jerman dan Soviet, UPA juga melakukan pembantaian warga Polandia di Volhynia, memori yang masih sangat sensitif di Polandia.

Nawrocki mengatakan ia sedih dan menilai glorifikasi UPA merusak relasi antarbangsa serta memberi “oksigen” bagi propaganda Rusia. Ia menggandakan sikapnya dengan menyebut tindakan Zelenskyy telah melewati batas, sehingga pencabutan penghargaan dianggap sah.

Dalam diplomasi, penghargaan negara adalah mata uang simbolik yang nilainya sering melampaui dokumen perjanjian. Saat penghargaan dicabut lalu dikembalikan, yang retak bukan hanya etiket, tetapi juga kepercayaan publik di kedua negara.

Polandia adalah simpul logistik utama bantuan Barat sejak invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022, sekaligus penampung ratusan ribu pengungsi Ukraina. Karena itu, sengketa simbol sejarah berisiko mengganggu kerja sama praktis, meski para pejabat masih berkata “dukungan tetap jalan”.

Yang dipertaruhkan adalah narasi: Ukraina membutuhkan simbol perlawanan nasional, sementara Polandia menuntut pengakuan atas trauma Volhynia. Ketika Zelenskyy memilih UPA sebagai nama kehormatan satuan, ia memasukkan sejarah berdarah ke ruang strategi modern.

Di sisi Polandia, Nawrocki memposisikan diri sebagai penjaga memori nasional, dan itu efektif untuk konsumsi politik domestik. Namun keputusan mencabut Order of the White Eagle dari pemimpin negara yang sedang berperang juga menciptakan kesan bahwa solidaritas bisa dibatalkan oleh satu dekret.

Sejumlah pejabat Polandia sendiri menilai hanya Rusia yang diuntungkan dari pertikaian ini. Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski menyebut, dalam konteks sejarah, sengketa Polandia-Ukraina adalah hadiah bagi Moskow.

Sikorski mengutip kolumnis Witold Jurasz dari Onet yang menyatakan Nawrocki meraih kemenangan moral, tetapi Polandia secara keseluruhan menderita kekalahan politik. Logikanya jelas: kemenangan simbolik dibayar dengan melemahnya posisi strategis bersama menghadapi Rusia.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, yang berseteru dengan Nawrocki, mengkritik keputusan Zelenskyy namun menekankan tidak ada niat menghina Polandia. Tusk meminta kedua bangsa tidak membiarkan sejarah merusak masa depan, sebuah kalimat yang terdengar sederhana namun sulit diterjemahkan menjadi kebijakan.

Di Ukraina, Sybiha menyebut keputusan Nawrocki sebagai “kesalahan strategis” yang hanya menguntungkan Rusia. Ia juga berterima kasih kepada warga Polandia yang menolak eskalasi, seraya menegaskan ancaman utama tetap “musuh lama” di Moskow.

Respons Rusia menunjukkan mengapa isu ini berbahaya: pejabat Rusia menyambut keputusan Nawrocki dengan gembira. Dmitry Medvedev bahkan menyatakannya sebagai momen “akhirnya” Zelenskyy dicopot dari Order tersebut, selaras dengan narasi Kremlin tentang “neo-Nazi” yang kerap dikaitkan dengan simbol-simbol ekstrem historis.

Krisis Polandia-Ukraina ini bukan sekadar salah paham protokoler, melainkan benturan dua politik ingatan yang sama-sama keras. Ukraina sedang membangun identitas perang, sementara Polandia menolak normalisasi simbol yang mengingatkan pada pembantaian warga mereka.

Namun, keputusan Zelenskyy menamai unit dengan UPA tampak seperti pilihan yang tidak perlu, karena Ukraina punya banyak simbol perlawanan lain yang tidak memicu luka lintas batas. Saat perang sedang menentukan hidup-mati negara, memilih simbol yang memberi amunisi propaganda Rusia adalah risiko yang sulit dibenarkan.

Di sisi lain, pencabutan penghargaan oleh Nawrocki juga tampak lebih sebagai gestur politik ketimbang strategi keamanan. Ia memuaskan sebagian audiens domestik, tetapi membuka ruang bagi Moskow untuk memecah koalisi pendukung Ukraina.

Pengembalian massal penghargaan oleh pejabat dan mantan presiden Ukraina memperlihatkan solidaritas internal yang kuat. Tetapi ia juga mengubah sengketa menjadi duel harga diri, dan duel semacam ini jarang menghasilkan jalan tengah.

Solusi realistis bukan saling mengunci simbol, melainkan membangun mekanisme bersama untuk mengelola sejarah, termasuk pengakuan, riset, dan peringatan korban. Jika tidak, setiap keputusan militer atau seremoni kenegaraan akan terus menjadi pemantik krisis berikutnya.

Ketika Order of the White Eagle dipaketkan dan dikirim balik, yang ikut terkirim adalah pesan bahwa aliansi dapat rapuh oleh sejarah yang belum selesai. Polandia dan Ukraina bisa tetap bekerja sama secara militer, tetapi tanpa rekonsiliasi memori, kerja sama itu akan selalu berisik dan mudah diguncang.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah Warsawa dan Kyiv mau menahan ego simbolik demi tujuan strategis yang lebih besar, yakni menahan agresi Rusia. Jika jawabannya ya, maka keberanian terbesar bukan mengangkat simbol lama, melainkan menutup luka lama tanpa melupakan korbannya. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)