Strategi Investasi Aktif Merrill: Raj Bhatia Kelola $3,4 Miliar

ORBITINDONESIA.COM – Strategi investasi aktif Merrill Private Wealth Management kembali jadi sorotan setelah tim Raj Bhatia di Chicago–Naples mengelola sekitar $3,4 miliar. Di tengah pasar yang volatil, mereka menjual janji sederhana: bukan menghentikan badai, melainkan membangun perahu yang lebih kuat.

Di industri wealth management, tekanan utama datang dari dua arah: biaya rendah investasi pasif dan tuntutan personalisasi klien kaya. Banyak investor menginginkan return lebih tinggi, tetapi juga ingin risiko terkendali dan strategi yang bisa menyesuaikan kebutuhan keluarga lintas generasi.

Dalam wawancara dengan Barron’s, Raj Bhatia dan putrinya, Ariana Bhatia, menggambarkan bagaimana mereka memadukan riset BofA Global Research dengan kerangka “economic profits”. Mereka menyebut mengelola sekitar 150 keluarga klien, plus $1 miliar aset “partner client” milik klien penasihat Merrill lainnya.

Model tim Bhatia menarik karena mereka bukan sekadar penasihat, tetapi juga semacam “mesin strategi” internal untuk penasihat lain. Raj menyebut skemanya sebagai discretionary advisory service, dengan pool sekitar 40 penasihat di AS yang menempatkan akun klien tertentu ke strategi mereka.

Ada lapisan pengawasan yang menambah legitimasi, sekaligus menandai institusionalisasi prosesnya. Merrill Investment Solutions Group (ISG) mulai mengaudit “numbers” mereka pada 2017, setelah strategi berjalan sejak 2012.

Inti narasi mereka adalah tiga janji active management: excess return yang konsisten, mitigasi risiko, dan fleksibilitas. Ariana menegaskan strategi dibangun lewat “economic value-added framework” yang dipadukan dengan riset kualitatif mendalam dari BofA Global Research.

Kerangka “economic profits” pada dasarnya menaikkan standar kualitas laba, bukan hanya laba akuntansi. Ariana memberi analogi restoran: GAAP bisa menunjukkan laba $400.000 dari pendapatan $1 juta dan biaya $600.000, tetapi ekonomi bertanya biaya modal dan kewajiban tersembunyi, sehingga “laba” bisa saja nol.

Di titik ini, strategi mereka terdengar seperti upaya memisahkan perusahaan yang sekadar untung di laporan keuangan dari perusahaan yang benar-benar menciptakan nilai setelah memperhitungkan biaya modal. Ini sejalan dengan tradisi value investing modern yang menilai kualitas compounding, bukan hanya pertumbuhan pendapatan.

Namun, kekuatan utama mereka justru ada pada cara menggabungkan aset lintas kelas, bukan hanya saham. Ariana menekankan portofolio klien tidak berhenti di kas, fixed income, dan public equities, tetapi juga private equity, hedge funds, real estate, serta instrumen income sesuai spektrum risiko.

Pada level industri, klaim “tidak terjebak style box” adalah jawaban terhadap pasar yang cepat bergeser. Banyak manajer aktif terpukul ketika rezim berubah—misalnya dari era suku bunga rendah ke suku bunga tinggi—karena portofolio dibangun untuk satu musim saja.

Di sisi lain, ada pertanyaan besar yang tak mereka jawab dengan angka: seberapa konsisten “excess return” itu setelah biaya dan pajak, serta dibandingkan benchmark yang relevan. Wawancara ini kaya filosofi, tetapi minim metrik kinerja historis yang biasanya dicari investor untuk memverifikasi janji.

Tim Bhatia memotret tren penting: wealth management kini makin menyerupai industri “platform”, bukan sekadar hubungan personal. Ketika satu tim bisa mengelola uang klien penasihat lain, muncul model semi-terpusat yang menggabungkan skala institusi dan sentuhan boutique.

Keunggulannya jelas, yaitu efisiensi keahlian dan standardisasi proses investasi. Penasihat lain bisa fokus pada relasi klien, sementara tim spesialis mengurus strategi, dengan jalur komunikasi yang, menurut mereka, “timely” dan transparan.

Tetapi sentralisasi juga membawa risiko konsentrasi: jika kerangka investasi salah membaca rezim, dampaknya bisa menyebar ke banyak akun sekaligus. Audit ISG membantu tata kelola, namun audit bukan jaminan strategi akan unggul dalam setiap siklus.

Kisah keluarga Bhatia menambah lapisan human interest yang tak kecil pengaruhnya bagi klien kaya. Raj menyebut “kalau saya tertabrak bus”, ada lima partner yang memastikan kesinambungan, yang secara psikologis menenangkan klien yang takut ketergantungan pada satu figur.

Namun, magnet “pedigree” juga bisa menjadi jebakan pemasaran, karena reputasi sering menggantikan bukti kuantitatif. Dalam era investor makin kritis, narasi “hurricanes” perlu diterjemahkan menjadi disiplin risk budgeting, drawdown control, dan evaluasi benchmark yang eksplisit.

Wawancara Barron’s tentang Raj dan Ariana Bhatia menunjukkan bahwa strategi investasi aktif Merrill tidak lagi sekadar memilih saham, melainkan merancang arsitektur portofolio lintas aset dengan kerangka economic profits. Mereka menawarkan kombinasi pengalaman panjang, riset institusional, dan proses yang diaudit untuk menjawab kebutuhan klien kaya yang kompleks.

Tetapi pembaca juga diajak jujur: filosofi yang meyakinkan tetap perlu diuji oleh data kinerja, biaya, dan konsistensi saat rezim pasar berubah. Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bagi investor bukan apakah badai bisa dihentikan, melainkan apakah perahu yang dibangun benar-benar tahan ketika gelombang tertinggi datang.

(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)