David Hardcastle Mengaku Bersalah Wire Fraud, Kerugian 45 Juta Dolar
ORBITINDONESIA.COM – Kasus wire fraud David Hardcastle kembali menegaskan betapa rapuhnya kepercayaan dalam investasi, ketika satu orang dapat menggerakkan dua skema berbeda dan meninggalkan kerugian gabungan sekitar 45 juta dolar AS. Kantor Kejaksaan AS Distrik Timur California mengumumkan pada 3 Juni 2025 bahwa Hardcastle, 61 tahun, mengaku bersalah atas konspirasi melakukan wire fraud.
Hardcastle terseret dua perkara: skema pinjaman “hard money” melalui Startop Investments LLC dan dugaan pola Ponzi di Voyager Pacific Capital Management. Dua jalur ini berbeda bentuk, tetapi sama-sama bertumpu pada manipulasi dokumen dan narasi kinerja investasi.
Dalam perkara Startop, periode kejadiannya singkat, dari Desember 2022 hingga Mei 2023. Namun dampaknya besar karena terkait runtuhnya Bitwise Industries, startup teknologi yang berbasis di Fresno County.
Menurut dokumen pengadilan, Hardcastle dan Andrew Adler menyalurkan sekitar 20 juta dolar AS pinjaman berbunga tinggi ke Bitwise melalui entitas khusus Startop Investments LLC. Pinjaman itu kemudian “dipecah” dan dijual lagi ke investor lain, seolah menjadi produk yang lebih aman.
Di titik inilah metode klasik penipuan finansial bekerja: risiko disamarkan, imbal hasil dijanjikan, dan dokumen dibuat tampak rapi. Hardcastle dan Adler disebut mengubah dokumen pinjaman agar terlihat bahwa Bitwise hanya wajib membayar bunga jauh lebih rendah dari yang sebenarnya.
Lebih jauh, tanda tangan Co-CEO Bitwise, Jake Soberal, dipalsukan pada dokumen yang telah diubah. Pemalsuan ini membuat pinjaman tampak lebih kredibel dan lebih “layak beli” bagi investor sekunder.
Dalam perkara kedua, Hardcastle berperan sebagai general partner dan CEO Voyager Pacific Capital Management, firma investasi real estat berbasis Florida. Periode skemanya jauh lebih panjang, dari Juni 2020 hingga Januari 2025, dengan operasi di berbagai wilayah AS.
Investor Opportunity Fund II diberi gambaran bahwa dana akan dipakai membeli rumah tinggal, lahan, dan tax liens. Namun menurut dokumen pengadilan, dana justru dipakai untuk membayar “imbal hasil” peserta lain, investasi pribadi, serta pembelian yang tidak semestinya.
Dua perkara ini memperlihatkan dua wajah penipuan: rekayasa kontrak dan rekayasa arus kas. Pada Startop, inti permainan adalah mengubah parameter bunga dan memalsukan persetujuan, sehingga investor sekunder membeli sesuatu yang tidak mereka pahami.
Modus itu juga membuka ruang “secret profits” yang tidak diumumkan ke investor. Jaksa menyebut Hardcastle dan Adler menerima puluhan ribu dolar dalam origination fees dan berpotensi meraup jutaan dolar dari selisih bunga yang disembunyikan jika pinjaman lunas.
Elemen yang paling mengganggu adalah keberadaan secure interest reserve sekitar 700 ribu dolar AS pada salah satu pinjaman. Dana cadangan ini semestinya diungkap karena berfungsi melindungi investor bila peminjam gagal bayar.
Investor tidak mengetahui cadangan tersebut, dan dana itu justru dipakai untuk investasi lain yang dioperasikan Hardcastle dan Adler tanpa otorisasi. Ketika Bitwise kolaps pada Mei 2023 tanpa membayar pinjaman, cadangan itu tidak tersedia untuk mengurangi kerugian investor.
Di Voyager, pola Ponzi tidak selalu tampil sebagai “pembayaran bunga dari uang investor baru” secara telanjang. Dokumen menyebut ada pemolesan kinerja melalui informasi keuangan palsu yang menggambarkan Fund seolah berjalan baik.
Selain itu ada praktik “penjualan” aset bermasalah kepada pihak internal, termasuk kepada mereka sendiri, tanpa pengungkapan kepada peserta. Transaksi ini disebut hanya di atas kertas, tanpa perpindahan uang, tetapi cukup untuk menggelembungkan valuasi Fund dan porsi kepemilikan peserta.
Motifnya disebut sederhana dan brutal: mempertahankan citra kinerja agar manajemen fee dan kompensasi tetap mengalir. Ketika Fund akhirnya diakuisisi pihak ketiga dengan diskon, nilai saham peserta menyusut dan kerugian menjadi nyata.
Angka kerugian gabungan sekitar 45 juta dolar AS dalam dua kasus ini menjadi sinyal bahwa pengawasan investor sering kalah cepat dari kreativitas pelaku. FBI menyelidiki kedua perkara, dan penuntutan ditangani Assistant U.S. Attorneys Joseph Barton dan Cody Chapple.
Rantai peristiwa ini juga tersambung dengan skandal Bitwise yang lebih besar. Jake Soberal dan Irma Olguin Jr. telah mengaku bersalah menipu investor dan pemberi pinjaman Bitwise sekitar 115 juta dolar AS, lalu dijatuhi hukuman 11 tahun dan 9 tahun pada Desember 2024.
Kasus David Hardcastle memperlihatkan satu pelajaran pahit: “dokumen lengkap” tidak sama dengan “kebenaran lengkap.” Ketika dokumen bisa diubah dan tanda tangan bisa dipalsukan, due diligence yang hanya mengandalkan berkas menjadi rapuh.
Skema Startop menyorot titik lemah pasar sekunder pinjaman, tempat produk finansial dijual kembali dengan narasi risiko yang sudah dipoles. Investor sering datang belakangan, menerima cerita yang sudah disunting, dan membayar harga atas informasi yang tidak pernah mereka miliki.
Skema Voyager mengingatkan bahwa real estat pun bisa menjadi panggung ilusi, terutama ketika valuasi dan laporan kinerja menjadi alat persuasi. Jika transaksi internal tidak diungkap, maka “angka” berubah dari alat ukur menjadi alat tipu.
Yang membuat kasus ini relevan bagi publik adalah pola universalnya: janji imbal hasil, bahasa legal yang menenangkan, dan laporan yang tampak profesional. Pada akhirnya, penipuan finansial sering bukan soal kurangnya kecerdasan investor, melainkan soal asimetri informasi yang sengaja diciptakan.
Hardcastle dijadwalkan menjalani vonis pada 14 September 2026 di hadapan U.S. District Judge Jennifer L. Thurston. Ia menghadapi ancaman maksimum 20 tahun penjara dan denda 250 ribu dolar AS, meski hukuman final mengikuti pertimbangan pengadilan dan Federal Sentencing Guidelines.
Dua perkara ini menutup satu kesimpulan keras: pasar investasi bisa runtuh bukan karena kurang peluang, melainkan karena kepercayaan diperdagangkan tanpa kontrol memadai. Kerugian 45 juta dolar AS adalah angka, tetapi di baliknya ada tabungan, rencana hidup, dan keyakinan yang patah.
Pertanyaannya kini bukan hanya berapa lama hukuman dijatuhkan, tetapi seberapa cepat ekosistem belajar memperkuat transparansi dan pengungkapan. Jika investor terus dipaksa percaya pada “kertas” yang bisa dimanipulasi, maka skema berikutnya hanya menunggu waktu.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)