Literasi Keuangan Mahasiswa: Budgeting, Utang, dan Kebiasaan Kecil

The Pennsylvania State University

The Pennsylvania State University

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan mahasiswa kembali disorot ketika Penn State memperluas layanan Sokolov-Miller Family Financial and Life Skills Center ke kampus Behrend. Program ini menargetkan budgeting mahasiswa, pengelolaan utang, dan kebiasaan menabung yang sering tertunda sampai krisis datang.

Keuangan kerap terasa menakutkan bagi mahasiswa yang baru memasuki dunia dewasa. Di momen transisi ini, penghasilan terbatas bertemu biaya hidup yang terus merayap naik.

Penn State merespons lewat Sokolov-Miller Center yang menyediakan lokakarya, webinar, dan coaching satu lawan satu. Tahun ini, layanan itu hadir di Penn State Behrend melalui peran “financial literacy ambassador”.

Abhirath Baiju, mahasiswa tahun ketiga, membuka kantor kecil sekaligus “lending library” berisi sumber belajar gratis di Reed Union Building. Kehadiran fisik ini penting, karena literasi keuangan sering kalah oleh urusan akademik yang terasa lebih mendesak.

Baiju menyebut pola yang berulang: mahasiswa kesulitan mengatur uang karena minim pengalaman membuat anggaran, impuls belanja, dan tidak paham kredit maupun pinjaman. Ia juga menekankan jebakan “pengeluaran kecil harian” yang tampak sepele tetapi menumpuk diam-diam.

Masalahnya bukan semata kurang informasi, melainkan cara otak memprioritaskan risiko. Banyak mahasiswa baru belajar uang ketika sudah “kehabisan”, atau ketika tagihan dan utang mulai mengejar.

Fenomena menunda ini selaras dengan temuan National Endowment for Financial Education (NEFE) yang menilai stres finansial dapat mengganggu performa akademik dan kesehatan mental mahasiswa. Dalam banyak studi, tekanan biaya kuliah dan biaya hidup ikut mendorong kecemasan, sekaligus menurunkan fokus belajar.

Di sisi lain, akses terhadap kredit membuat keputusan buruk terasa mudah dan cepat. Tanpa pemahaman bunga, denda, dan skema pembayaran, utang kecil bisa berubah menjadi beban yang mengunci pilihan setelah lulus.

Baiju menawarkan langkah yang sederhana namun disiplin: buat budget, bangun dana darurat, pahami struktur utang, dan gunakan high-yield savings account untuk menumbuhkan tabungan. Ini terdengar klise, tetapi justru karena sederhana, ia sering diabaikan.

Catatan pentingnya ada pada “konsistensi”, bukan trik finansial. Coaching yang disediakan pusat layanan menempatkan kebiasaan sebagai target, bukan sekadar pengetahuan.

Program literasi keuangan di kampus seharusnya dibaca sebagai intervensi perilaku, bukan seminar sesekali. Jika mahasiswa hanya diberi modul, mereka akan kembali pada kebiasaan lama saat tekanan tugas dan pergaulan meningkat.

Keberadaan ambassador dan ruang konsultasi membuat bantuan terasa dekat, sehingga rasa malu atau takut bertanya bisa berkurang. Ini penting, karena banyak mahasiswa menganggap masalah uang sebagai kegagalan pribadi, padahal sering kali itu masalah sistem dan kurangnya pelatihan sejak dini.

Namun ada risiko lain: literasi keuangan bisa menjadi narasi “semua salah individu” yang menutup fakta biaya hidup memang menekan. Kampus perlu jujur bahwa budgeting membantu, tetapi tidak selalu cukup ketika pendapatan mahasiswa tidak sebanding dengan kebutuhan dasar.

Karena itu, literasi keuangan harus berjalan bersama kebijakan dukungan: akses kerja paruh waktu yang layak, informasi bantuan, dan rujukan layanan sosial. Tanpa itu, mahasiswa hanya diajari bertahan, bukan benar-benar naik kelas secara ekonomi.

Pelajaran paling tajam dari kisah ini adalah: banyak mahasiswa tidak kekurangan kecerdasan, mereka kekurangan sistem kebiasaan. Ketika uang dipelajari hanya saat darurat, keputusan yang lahir biasanya reaktif dan mahal.

Literasi keuangan mahasiswa bukan soal menjadi kaya cepat, melainkan soal mengurangi kebocoran kecil dan memahami konsekuensi utang sejak awal. Pertanyaannya, apakah kita akan menunggu generasi muda “jatuh” dulu sebelum mengajari mereka cara berdiri?

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)