Harga Minyak Dunia Naik: Selat Hormuz dan Bab Al Mandab Tersendat
ORBITINDONESIA.COM – Harga minyak dunia melonjak ketika Selat Hormuz dan Bab Al Mandab sama-sama tersendat, membuat pasar kembali dihantui krisis pasokan. Dua jalur pelayaran strategis ini adalah nadi perdagangan energi, dan gangguan kecil saja cukup mengerek premi risiko secara brutal.
Setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran menekan arus kapal di Selat Hormuz, kini Bab Al Mandab di pintu masuk Laut Merah ikut terguncang. Jalur itu belum diumumkan ditutup resmi, tetapi serangan kelompok Houthi membuat kapal-kapal praktis menghindar.
Bab Al Mandab menjadi alternatif penting ketika rute Hormuz melemah, terutama bagi ekspor minyak Arab Saudi. Karena itu, gangguan ganda ini terasa seperti “pintu depan dan pintu samping” yang sama-sama dikunci pada saat bersamaan.
Di atas peta, kedua selat itu tampak sempit, tetapi dampaknya luas karena menghubungkan produsen utama ke pasar global. Di bawah permukaan, ini bukan sekadar persoalan keamanan pelayaran, melainkan pertaruhan geopolitik yang menempel pada setiap barel minyak.
Data Reuters mencatat Brent di US$99,97 per barel pada Jumat (24/7), hanya turun 0,72 persen harian tetapi naik sekitar 13,5 persen secara mingguan. WTI berada di US$91,49 per barel, turun 0,76 persen harian namun menguat sekitar 10,9 persen sepanjang pekan.
Sehari sebelumnya, Brent sempat ditutup melonjak 7 persen hingga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara WTI menguat 6,2 persen. Pola ini khas pasar yang bereaksi pada risiko rute, bukan pada perubahan produksi yang nyata dan terukur.
Ketika kapal menghindari selat berbahaya, biaya logistik naik karena rute memutar, premi asuransi melonjak, dan waktu pengiriman memanjang. Pada akhirnya, pasar memperlakukan keterlambatan sebagai kekurangan pasokan, meski minyak secara fisik masih ada di sumur dan tangki.
Bab Al Mandab disebut sebagai jalur pelayaran energi terbesar kedua setelah Selat Hormuz, sehingga gangguan di sana mengubah kalkulasi pelaku pasar. Jika Hormuz menekan volume, Bab Al Mandab seharusnya menjadi katup pengaman, tetapi kini katup itu juga macet.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan lanjutan menambah eskalasi psikologis. Pasar membaca sinyal itu sebagai peluang respons militer atau sanksi baru, yang berarti risiko tambahan pada pasokan dan pengiriman.
Di sisi lain, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, dan Iran disebut meminta kesiapan menutup Bab Al Mandab bila AS terus menyerang infrastruktur energi Iran. Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana konflik proksi dapat mengunci jalur dagang global tanpa perlu deklarasi penutupan resmi.
Lonjakan harga minyak dunia kali ini memperlihatkan satu kenyataan yang sering diabaikan, yaitu energi global masih disandera “geografi sempit” dan “politik keras.” Dunia boleh bicara transisi energi, tetapi harga tetap ditentukan oleh selat yang lebarnya hanya beberapa mil laut.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi gangguan, karena pasar mulai terbiasa dengan serangan dan ancaman blokade sebagai bagian dari rutinitas. Ketika kekerasan menjadi latar, yang berubah bukan hanya harga, tetapi juga standar risiko yang diterima publik.
Di atas semua itu, narasi “pembalasan” dan “pertanggungjawaban” mudah sekali mendorong spiral eskalasi. Setiap pihak merasa sedang mengirim pesan strategis, tetapi yang membayar pesan itu adalah konsumen global lewat inflasi energi.
Negara pengimpor, termasuk di Asia, berada pada posisi rentan karena tidak ikut menekan tombol konflik tetapi ikut menanggung tagihannya. Ketergantungan pada rute tertentu menuntut diversifikasi pasokan, cadangan strategis yang disiplin, dan diplomasi yang tidak reaktif.
Peristiwa ini juga menjadi ujian bagi klaim stabilitas pasar minyak yang sering dikaitkan dengan kapasitas cadangan produsen besar. Kapasitas cadangan tidak banyak berarti jika minyak tidak bisa bergerak aman dari titik produksi ke titik konsumsi.
Selat Hormuz dan Bab Al Mandab menunjukkan bahwa krisis energi modern tidak selalu dimulai dari ladang minyak, tetapi dari jalur yang menghubungkan ladang itu ke dunia. Harga minyak dunia naik bukan semata karena kekurangan barel, melainkan karena kekurangan rasa aman.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menohok, apakah dunia akan terus menambal risiko dengan premi harga, atau mulai serius mengurangi ketergantungan pada titik-titik sempit yang mudah disandera. Jika selat menjadi senjata, maka ketahanan energi bukan lagi isu ekonomi, melainkan ujian kematangan politik global.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)