Sekutu AS di Kalangan Monarki Arab Teluk Mulai Mencari Alternatif di Luar Washington

Ilustrasi Presiden Rusia Putin dan pemimpin Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Ilustrasi Presiden Rusia Putin dan pemimpin Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Di satu sisi, jet tempur yang lepas landas dari pangkalan udara AS di Bahrain dan Qatar bersiap untuk membom Teheran. Di sisi lain, pada saat yang sama, para diplomat dari negara-negara monarki Arab tersebut sedang duduk di ruang konferensi mewah di Moskow, menandatangani perjanjian perdagangan bersejarah dengan Iran dan Rusia.

Sekilas, hal ini mungkin tampak seperti bunuh diri politik atau standar ganda, namun di baliknya tersimpan drama geopolitik terbesar abad ke-21.

Tepat ketika dunia Barat mengira mereka bisa menghapus Moskow dan Teheran dari peta dunia melalui sanksi ekonomi yang ketat, kedua negara tersebut justru memunculkan senjata ekonomi yang meluluhlantakkan dominasi Washington yang telah lama bertahan.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh kantor berita negara Rusia yang berpengaruh, RIA Novosti, analis geopolitik Rostislav Ishchenko menyoroti perubahan dramatis ini.

Menurut pandangannya, di balik unjuk kekuatan militer Amerika di Timur Tengah, negara-negara Arab yang menjadi sekutu AS diam-diam mulai mencari alternatif selain Washington.

Namun, apa sebenarnya yang sedang terjadi di kawasan ini? Inti dari seluruh permainan catur geopolitik ini adalah Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan, atau disingkat INSTC.

Ini bukan sekadar proyek jalan biasa. Ini adalah jaringan transportasi multimoda masif sepanjang 7.200 kilometer yang membentang dari Saint Petersburg hingga Mumbai, India. Jaringan kompleks yang terdiri dari jalur kereta api, jalan raya, dan rute laut ini menghubungkan Asia dan Eropa secara langsung, serta sepenuhnya menghindari Terusan Suez—jalur nadi paling krusial bagi perdagangan dunia.

Jika melihat statistiknya, Anda akan terkejut. Menurut data dari Federasi Asosiasi Freight Forwarder di India, dibandingkan dengan rute laut tradisional melalui Terusan Suez, koridor ini memangkas jarak tempuh sekitar 40 persen dan mengurangi biaya transportasi setidaknya sebesar 30 persen.

Pengiriman barang dari Mumbai ke Rusia yang sebelumnya memakan waktu 40 hingga 45 hari melalui Terusan Suez, kini dapat ditempuh hanya dalam waktu 18 hari melalui koridor ini. Para pedagang menghemat uang tunai sebesar 2.500 dolar untuk setiap 15 ton kargo yang diangkut!

Lantas, negara mana saja yang bergabung dalam aliansi komersial besar ini? Meskipun proyek ini awalnya dimulai pada tahun 2000 atas prakarsa Rusia, Iran, dan India, negara-negara seperti Azerbaijan, Armenia, Kazakhstan, Turkmenistan, Belarus, Uzbekistan, Oman, Suriah, Turki, Afghanistan, dan Pakistan kini telah bergabung.

Kejutan terbesarnya adalah bahwa sekutu dekat Amerika—Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi—akan segera masuk dalam daftar ini! Kantor berita internasional Reuters dan Al Jazeera mengonfirmasi bahwa negara-negara monarki Arab tersebut sedang merampungkan pembahasan perjanjian logistik formal dengan Moskow.

Dana dalam jumlah besar dikucurkan untuk pembangunan infrastruktur ini. Sebuah kesepakatan senilai 1,6 miliar dolar ditandatangani antara Rusia dan Iran untuk membangun jalur kereta api Rasht-Astara sepanjang 162 kilometer, dengan sebagian besar dananya diberikan dalam bentuk pinjaman oleh Kremlin.

Selain itu, dana sebesar 620 juta dolar lainnya digelontorkan untuk jalur kereta api lintas negara Kazakhstan-Turkmenistan-Iran, dan Iran sendiri melakukan investasi baru senilai 22 juta dolar di pelabuhan Astara di Teluk Persia. Menurut data internasional, volume kargo yang melewati koridor ini meningkat sebesar 19 persen pada tahun 2024, mencapai 26,9 juta ton.

Saat bergabung melalui konferensi video dalam upacara penandatanganan tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dengan tegas bahwa peluncuran jalur kereta api ini akan menghadirkan keragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam arus perdagangan dunia serta menjamin ketahanan pangan di kawasan Teluk Persia.

Dalam upacara yang sama, Presiden Iran saat itu, Ebrahim Raisi, menyebut proyek ini sebagai revolusi strategis dalam struktur ekonomi kawasan.

Hal ini memunculkan pertanyaan: mengapa negara-negara seperti Qatar, Bahrain, atau Arab Saudi—yang menjadi tuan rumah Armada Kelima AS dan pangkalan militer seperti Al Udeid—justru menjalin kerja sama dengan pihak yang dianggap musuh? Apakah langkah ini bisa disebut sebagai tindakan menikam sekutu mereka, Amerika, dari belakang?

Menurut para analis di lembaga penelitian geopolitik Responsible Statecraft dan Financial Times, langkah ini disebut sebagai strategic hedging (lindung nilai strategis) atau penyebaran risiko.

Negara-negara Arab Teluk telah menyadari bahwa masa dominasi tunggal Washington akan segera berakhir, dan AS bisa saja menarik diri dari Timur Tengah sewaktu-waktu.

Ketika serangkaian serangan Houthi di Laut Merah melumpuhkan Terusan Suez, dunia Arab menyadari bahwa ketergantungan buta pada Barat dapat menghancurkan perekonomian mereka. Oleh karena itu, alih-alih hanya mengandalkan inisiatif Belt and Road milik Tiongkok, mereka kini menciptakan alternatif yang seimbang dengan dukungan Rusia.

Menilik sejarah, pada abad ke-19, Imperium Inggris menerapkan strategi memblokir jalur laut untuk menghambat Rusia sebagai bagian dari Great Game.

Selama berabad-abad, Rusia mendambakan akses ke pelabuhan yang bebas es sepanjang tahun (*warm-water ports*), namun "Singa Inggris" berulang kali menghalangi Moskow dengan tetap memegang kendali atas Terusan Suez dan Laut Merah.

Namun, dalam konstelasi baru tahun 2026 ini, dominasi Terusan Suez yang dikuasai Inggris dan AS mulai runtuh.

Kendali perdagangan yang dulunya berada di tepian Sungai Thames, London, kini beralih ke Kremlin di Moskow dan pusat kekuasaan di Teheran.

Lantas, ke mana arah politik dunia akan bergerak dalam waktu dekat? Para analis melihat dua skenario utama yang mungkin terjadi.

Pertama, jika Amerika mencoba menggunakan kekuatan militernya untuk memaksa negara-negara Arab keluar dari proyek ini, hubungan diplomatik AS di Timur Tengah akan hancur, dan kerajaan-kerajaan Arab akan meningkatkan tekanan agar pangkalan militer AS ditutup.

Kedua, Rusia, Iran, India, dan negara-negara Arab di Timur Tengah akan membentuk poros ekonomi Eurasia yang independen, di mana transaksi dilakukan menggunakan mata uang lokal, bukan dolar.

Saat ini, di tengah gemuruh suara pesawat tempur AS yang terdengar di atas Teluk Persia, sebuah tatanan dunia geo-ekonomi baru diam-diam sedang dibangun. Mengungguli suara dentuman senjata, koridor Utara-Selatan menyadarkan umat manusia akan kenyataan pahit bahwa perhitungan perdagangan—secara senyap—mampu mengalahkan sebuah negara adidaya. ***