Komedian Paling Terkenal di Tiongkok Diselidiki Akibat Lelucon tentang Lagu Komunis
Guo Degang tampil membawakan komedi cross-talk di sebuah teater di Beijing pada 26 Januari 2011.
CultureORBITINDONESIA.COM — Seorang komedian tunggal (stand-up comedian), yang dianggap sebagai salah satu tokoh budaya paling berpengaruh di Tiongkok, kini sedang diselidiki dan pertunjukannya dibatalkan setelah ia melontarkan lelucon mengenai lagu Partai Komunis.
Guo Degang, komedian paling ternama di Tiongkok, dituduh melanggar norma kesusilaan umum setelah ia mengubah lirik lagu revolusioner Tiongkok yang terkenal secara spontan saat tampil di Wuhan pada akhir Juli.
Ia dilaporkan ke Biro Kebudayaan dan Pariwisata kota tersebut oleh seseorang yang menyatakan bahwa Guo "tidak hanya mendistorsi dan merendahkan karya revolusioner klasik, tetapi juga melanggar norma kesusilaan umum serta standar perilaku yang berlaku," menurut tangkapan layar surat laporan yang diterbitkan oleh media yang berafiliasi dengan negara, thePaper.
Masalah yang dihadapi Guo menyoroti batasan tipis yang harus dilalui para komedian di Tiongkok—negara dengan tingkat penyensoran tinggi—terutama saat Partai Komunis yang berkuasa semakin memperkuat agenda ideologisnya.
Lagu yang dimaksud, "Memainkan Pipa Kesayanganku" (Playing my beloved pipa), disebut-sebut menggambarkan semangat pantang menyerah pasukan gerilya komunis saat melawan Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang.
Lagu ini ditampilkan dalam film Tiongkok terkenal era 1950-an berjudul Railroad Guerrillas, dan pada tahun 2019 menjadi salah satu dari 100 lagu yang dipilih untuk merayakan peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.
Lirik aslinya berbunyi: "Matahari akan terbenam di barat; suasana sunyi di Danau Weishan." Namun, Guo mengubah bagian kedua menjadi "suasana sunyi di Kota Terlarang" (Forbidden City) dan membawakan lagu tersebut dengan gaya komedi.
Penyebutan Kota Terlarang—kompleks istana luas di pusat Beijing yang menjadi pusat kekuasaan para penguasa kekaisaran Tiongkok selama berabad-abad—bisa menjadi hal yang sensitif secara politik di Tiongkok karena keterkaitan sejarahnya yang erat dengan siapa pun yang sedang memegang kekuasaan.
Biro Kebudayaan dan Pariwisata Wuhan menyatakan, "bagian yang diubah dan dibawakan oleh Guo Degang tidak termasuk dalam materi yang diajukan untuk persetujuan awal dan diduga melanggar Peraturan tentang Penyelenggaraan Pertunjukan Komersial," demikian dilaporkan oleh thePaper. Pihak biro mengonfirmasi kepada CNN bahwa penyelidikan terhadap Guo masih berlangsung, seraya menambahkan bahwa mereka belum mengetahui kapan hasilnya akan diumumkan.
CNN telah menghubungi Guo untuk meminta tanggapan.
Guo sebelumnya sedang menjalani tur nasional untuk merayakan ulang tahun ke-10 grup teaternya, namun CNN mendapat informasi bahwa beberapa pertunjukan berikutnya telah dibatalkan.
"Tidak ada tanggal atau rencana untuk kemungkinan kembali tampil. Dana bagi pemegang tiket akan dikembalikan secara otomatis," ujar seorang petugas di Xi’an Chanba Poly Grand Theater, tempat Guo dijadwalkan tampil pekan ini.
Guo dikenal luas karena jasanya menghidupkan kembali jenis komedi tradisional Tiongkok yang disebut crosstalk dan merupakan sosok yang sangat populer di Tiongkok.
Bersama beberapa seniman opera Peking ternama, ia mendirikan perusahaan teater Qilin untuk membantu mempromosikan bentuk seni tradisional Tiongkok yang kurang dikenal kepada khalayak yang lebih luas.
Kabar bahwa bintang pujaan publik ini sedang diselidiki telah menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan di media sosial Tiongkok.
Sebagian warganet berpendapat bahwa ia patut dihukum karena mengubah lagu-lagu "merah" (lagu bertema komunis); salah satu pengguna berkomentar bahwa "seni itu untuk melayani rakyat; jika rakyat tidak menyukainya, maka janganlah membuat seni semacam itu." Namun, ada pula pengguna di platform media sosial Tiongkok—yang diawasi ketat oleh sensor—beranggapan bahwa pihak berwenang bersikap "terlalu sensitif."
Ruang terbatas untuk ekspresi seni
Para seniman di Tiongkok menghadapi ruang ekspresi seni yang semakin terbatas, seiring upaya Partai Komunis untuk menyelaraskan dunia daring, selebritas, dan media di Tiongkok dengan doktrin "Pemikiran Xi Jinping."
Ini bukan kali pertama seniman menghadapi kecaman keras, atau bahkan akhir karier mereka, akibat melontarkan ucapan yang dianggap keliru.
Tiga tahun lalu, komedian stand-up Tiongkok, Li Haoshi, didenda sebesar 14,7 juta yuan (US$2 juta) pada tahun 2023 setelah menggunakan frasa yang dikaitkan dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) saat menceritakan kisah tentang dua ekor anjing liar.
Setelah leluconnya memicu kemarahan pejabat, Li menyampaikan permintaan maaf. Namun, ia dilarang tampil untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dan tidak pernah terlihat lagi di depan umum sejak saat itu.
Pada tahun 2022, komedian Li Bo didenda 50.000 yuan (US$7.400) karena melontarkan lelucon mengenai lockdown akibat pandemi Covid-19 di Shanghai dan mengejek para remaja. ***