Serangan Rusia ke Kyiv Manfaatkan Krisis Rudal Patriot Ukraina

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan Rusia ke Kyiv kembali memakan korban, saat Ukraina kekurangan rudal pencegat dan pertahanan udara kian menipis. Sedikitnya 18 orang tewas setelah gelombang rudal balistik dan drone menghantam ibu kota serta wilayah sekitarnya.

Rusia melancarkan beberapa drone bertenaga jet ke Oblast Kyiv pada Kamis siang, termasuk ke ibu kota, dan menewaskan sedikitnya dua orang. Serangan ini menyusul hantaman rudal balistik yang menewaskan sedikitnya 16 orang dan membuat ledakan terdengar di sejumlah distrik Kyiv.

Distrik Holosiivskyi, Sviatoshynskyi, Solomianskyi, dan Shevchenkivskyi termasuk yang terdampak. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyebut sebuah gedung hunian sembilan lantai di Solomianskyi runtuh dan terbakar, sementara sebuah rumah sakit anak juga mengalami kerusakan.

Dinas Darurat Negara Ukraina melaporkan kebakaran di bangunan hunian dan gudang, serta evakuasi korban dari reruntuhan. Sebagian wilayah Sviatoshynskyi dan Solomianskyi juga mengalami pemadaman listrik, menandai dampak yang melampaui sekadar kerusakan fisik.

Menurut angkatan udara Ukraina, Rusia menembakkan sedikitnya 44 rudal dan 39 di antaranya berhasil ditembak jatuh. Moskow mengklaim sasarannya adalah “fasilitas industri-militer, pusat transportasi dan logistik, serta gudang” di Kyiv dan sekitarnya.

Di sisi lain, negara NATO di sekitar Ukraina ikut siaga karena risiko pelanggaran wilayah udara. Polandia mengerahkan pesawat dan mengaktifkan pertahanan udara, sementara Rumania menyebut sebuah drone sempat masuk wilayahnya dekat Galati sebelum jatuh di area tak berpenghuni di Tulcea.

Inti persoalan bukan hanya intensitas serangan, melainkan momentum yang dipilih Rusia ketika Ukraina kekurangan pencegat Patriot. Koresponden Al Jazeera, Audrey MacAlpine, menekankan kekurangan ini akan menjadi masalah besar saat Rusia mulai menarget infrastruktur energi yang menjaga pemanas dan listrik tetap menyala pada musim dingin.

Data “44 rudal, 39 ditembak jatuh” terdengar meyakinkan, namun menyisakan celah mematikan ketika beberapa rudal lolos dan menghantam kawasan padat penduduk. Dalam perang udara, satu rudal yang menembus pertahanan bisa meruntuhkan satu gedung, memicu kebakaran, dan melumpuhkan layanan kota.

Serangan berdurasi sembilan jam semalaman yang merusak gudang di Boryspil memperlihatkan pola kelelahan sistem pertahanan dan respons darurat. Ketika alarm serangan udara terus berbunyi, ritme hidup kota dipaksa berubah menjadi mode bertahan, bukan sekadar bertempur.

Rusia juga mengeklaim menembak jatuh 726 drone Ukraina dalam rentang Rabu malam hingga Kamis pagi di berbagai wilayah, termasuk Laut Hitam dan Laut Azov. Klaim ini, benar atau dilebihkan, menunjukkan perang drone telah menjadi kompetisi skala besar yang menguras amunisi, radar, dan kapasitas produksi kedua pihak.

Dampak regionalnya terlihat dari respons Polandia dan Rumania yang cepat, karena satu objek terbang yang melenceng bisa memicu krisis diplomatik. Dengan kata lain, setiap gelombang serangan di Kyiv kini membawa risiko eskalasi yang menempel pada perbatasan NATO.

Rusia tampak membaca “kekosongan” sebagai peluang, yakni celah pertahanan udara yang muncul ketika pasokan pencegat menipis dan prioritas perlindungan harus dipilih. Dalam situasi seperti ini, serangan bukan hanya soal menghancurkan target, tetapi juga memaksa Ukraina menukar keselamatan warga dengan keputusan alokasi pertahanan.

Di saat bom jatuh, Kyiv juga diguncang politik internal: parlemen mengonfirmasi Yevhenii Khmara sebagai menteri pertahanan baru dengan suara 312-2. Khmara, pejabat intelijen karier dari SBU dan eks pemimpin unit Alpha, berjanji menekan potensi perang Rusia dan memaksa “perdamaian yang adil”.

Namun penunjukan itu tidak sepenuhnya menutup keretakan, karena oposisi menilai menarik Khmara dari kerja intelijen bisa menjadi kesalahan. Kekosongan sebelumnya muncul setelah Mykhailo Fedorov dicopot pada Juli usai konflik terbuka dengan panglima, Oleksandr Syrskii, yang juga diganti beberapa pekan kemudian.

Kontroversi melebar ketika Fedorov menyerukan Ukraina bergerak menuju pemilu, yang saat ini ditangguhkan oleh hukum darurat perang. Sejumlah demonstran di Kyiv mendukung gagasan itu, tetapi juga meragukan pemungutan suara yang benar-benar bebas dapat dilakukan saat perang masih berlangsung.

Di sinilah paradoks Ukraina mengeras: demokrasi membutuhkan rotasi kekuasaan, tetapi perang menuntut stabilitas komando dan aturan darurat. Masa jabatan Presiden Volodymyr Zelenskyy berakhir pada Mei 2024, namun pemilu ditunda selama status darurat tetap berlaku, sehingga legitimasi politik menjadi isu yang terus diperdebatkan.

Serangan Rusia ke Kyiv menegaskan bahwa krisis rudal Patriot dan pertahanan udara bukan sekadar masalah teknis, melainkan faktor yang menentukan hidup-mati warga sipil. Ketika satu gedung runtuh dan rumah sakit anak terkena dampak, narasi “target militer” kehilangan daya menenangkan di mata publik.

Pada saat yang sama, perubahan menteri pertahanan dan desakan pemilu memperlihatkan Ukraina bertarung di dua front: langit yang dipenuhi rudal dan ruang politik yang dipenuhi pertanyaan legitimasi. Jika musim dingin datang dengan ancaman pada energi, pertanyaannya menjadi lebih tajam: seberapa lama sebuah negara bisa bertahan ketika listrik, rasa aman, dan kepercayaan politik sama-sama diuji?

(Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)