Alan Greenspan Meninggal: Warisan Ketua The Fed dan Krisis 2008

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Alan Greenspan meninggal dunia pada usia 100 tahun, sosok yang selama 18 tahun memimpin Federal Reserve dan ikut membentuk arah ekonomi global. Ia dipuji sebagai arsitek era stabilitas, tetapi juga dituding membiarkan benih gelembung yang meledak pada krisis keuangan 2008.

Kabar duka itu disampaikan istrinya, jurnalis Andrea Mitchell, yang menyebut Greenspan wafat di rumah akibat komplikasi penyakit Parkinson. Nama Greenspan segera memantik perdebatan lama: apakah ia penyelamat pasar, atau justru pengantar badai.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Greenspan memimpin bank sentral AS sejak 1987, ditunjuk Ronald Reagan dan kemudian dipertahankan oleh George H.W. Bush, Bill Clinton, serta George W. Bush. Masa jabatannya bertepatan dengan “Great Moderation”, periode dari pertengahan 1980-an hingga 2007 yang ditandai inflasi rendah, pasar saham menguat, dan pertumbuhan yang relatif solid.

Namun masa itu tidak steril dari guncangan, dari crash pasar saham 1987 hingga runtuhnya dot-com di awal 2000-an. Pada 1996 ia memperkenalkan frasa “irrational exuberance”, peringatan tentang gelembung yang dipompa optimisme investor.

Kontroversi terbesar datang setelah ia pensiun pada awal 2006, ketika krisis 2008 menghantam dan menyeret ekonomi dunia ke Great Recession. Kritik publik kemudian mengarah pada kebijakan “uang longgar” dan keyakinannya pada efisiensi pasar yang dinilai ikut memperparah gelembung perumahan subprime.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di satu sisi, Greenspan dianggap berhasil menstabilkan ekspektasi inflasi dan menjaga kepercayaan pasar pada bank sentral. John Williams, Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of New York, menyebut 18 tahun kepemimpinannya meninggalkan “warisan yang bertahan lama” dan menginspirasi generasi bankir sentral.

Di sisi lain, stabilitas yang tampak bisa meninabobokan, karena volatilitas rendah sering mendorong pengambilan risiko yang lebih tinggi. Ketika suku bunga rendah bertahan, kredit mengalir lebih mudah, dan aset seperti rumah serta saham terdorong naik, pasar cenderung menganggap itu “normal” padahal rapuh.

The Economist pada esai 2017 merangkum kritik pascakrisis: Greenspan “naif” terhadap efisiensi pasar, gagal “memecahkan gelembung” pada akhir 1990-an atau pertengahan 2000-an, serta gagal mengatur sektor keuangan dengan memadai. Kritik ini bukan sekadar soal suku bunga, tetapi soal filosofi pengawasan: seberapa jauh negara boleh menahan euforia.

Greenspan sendiri menolak narasi tunggal yang menyalahkannya, dan pada 2007 mengatakan ia korban “revisionist history” sambil menegaskan telah memperingatkan bahaya subprime. Tetapi pada 2008 ia mengakui kesalahan penilaian, karena ia percaya bank-bank besar akan lebih berhati-hati demi melindungi diri dan pemegang saham.

Pengakuan itu penting, karena menunjukkan titik lemah model kebijakan yang terlalu percaya pada disiplin pasar. Dalam wawancara dengan Fortune, ia juga mengakui dulu meremehkan peran perilaku manusia, lalu menyadari ada “variabel yang hilang” dalam sistem peramalan yang terkait aktivitas sistemik manusia.

Ia bahkan menyimpulkan bahwa euforia dan ketakutan adalah konstanta, bukan anomali. Jika demikian, kebijakan moneter dan regulasi seharusnya tidak hanya mengukur inflasi dan pertumbuhan, tetapi juga mengukur suhu psikologi pasar yang mudah meluap.

Greenspan juga dikenal dengan gaya komunikasi yang kerap kriptik, membuat politisi dan investor berlomba menafsirkan setiap kalimat. Namun ia juga mendorong transparansi yang lebih besar dibanding era sebelum 1980-an, dengan prinsip bahwa pasar tidak boleh “dikejutkan” tanpa tujuan.

Warisan komunikasinya terasa hingga kini, ketika bank sentral modern memakai forward guidance untuk membentuk ekspektasi. Paradoksnya, panduan yang menenangkan bisa sekaligus menyuburkan rasa aman berlebihan, terutama jika risiko sistemik tumbuh diam-diam di balik stabilitas.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Greenspan adalah potret paling jelas tentang kekuasaan teknokratik yang bekerja di ruang sunyi, tetapi berdampak ke dompet miliaran orang. Ia memimpin pada masa ketika globalisasi, deregulasi, dan inovasi keuangan diperlakukan sebagai mesin kemakmuran yang nyaris tak perlu rem.

Masalahnya, “Great Moderation” mungkin lebih tepat dibaca sebagai moderasi di permukaan, bukan di fondasi. Ketika risiko dipindahkan ke instrumen yang rumit dan pengawasan melemah, stabilitas berubah menjadi ilusi yang menutupi akumulasi kerentanan.

Greenspan bukan satu-satunya penyebab krisis 2008, tetapi ia simbol dari keyakinan zaman bahwa pasar akan mengoreksi dirinya sendiri. Pengakuannya tentang perilaku manusia justru menjadi pelajaran paling relevan: kebijakan publik harus mengantisipasi euforia, bukan sekadar merapikan puing setelah jatuh.

Dalam politik, ia mengaku tak pernah diminta langsung menurunkan suku bunga, hanya “disinggung”, dan ia bercanda tak ada politisi meminta suku bunga dinaikkan. Kalimat itu mengungkap insentif demokrasi yang sering berat sebelah, karena keputusan pahit jarang populer meski kadang perlu.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Greenspan meninggalkan dua warisan yang berjalan beriringan: kredibilitas bank sentral modern dan peringatan keras tentang bahaya percaya berlebihan pada pasar. Ia menunjukkan bahwa angka-angka makro bisa tampak sehat, sementara perilaku kolektif justru mengantar pada jurang.

Di akhir hidupnya, ia seperti kembali pada pertanyaan paling mendasar dalam ekonomi: seberapa rasional manusia saat uang, harapan, dan ketakutan bertemu. Jika euforia “tak akan pernah berubah”, maka tantangan generasi berikutnya adalah merancang kebijakan yang berani menahan pesta sebelum tagihan datang.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)