Inflasi Global Terancam: Super El Nino dan Harga Minyak 100 Dolar

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Inflasi global kembali dibayangi risiko baru ketika super El Nino berpotensi datang bersamaan dengan lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. JPMorgan memperkirakan kombinasi ini dapat menahan laju penurunan inflasi dan menambah sekitar 0,3 poin persentase pada headline inflation dunia.

Dalam laporan JPMorgan yang dikutip OilPrice pada 24 Juli 2026, risiko super El Nino disebut meningkat tajam hingga peluang 81 persen pada akhir tahun. Bank itu juga menilai ada probabilitas 97 persen El Nino bertahan sampai 2027.

El Nino dan energi sebenarnya dua cerita berbeda yang sering datang silih berganti. Masalahnya, ketika keduanya muncul pada waktu yang sama, tekanan harga bisa saling menguatkan dan menyebar ke banyak sektor.

Super El Nino biasanya mengganggu pertanian Asia dan Amerika Latin lewat kekeringan, hujan ekstrem, dan perubahan musim tanam. JPMorgan memperkirakan efeknya dapat mendorong inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase pada puncaknya.

Risiko membesar ketika harga minyak menyentuh 100 dollar AS per barel dan rantai pasok energi ikut mengetat. Dalam skenario itu, inflasi pangan diproyeksikan melonjak ke kisaran 1,3 persen hingga 1,5 persen karena biaya solar, pupuk, transportasi, dan kemasan ikut naik.

Pasar minyak disebut sudah menunjukkan tekanan yang konsisten dengan skenario tersebut. Brent menembus 100 dollar AS per barel setelah konflik di sekitar Selat Hormuz memanas dan serangan Houthi mengganggu kapal tanker di Laut Merah.

Dua jalur ekspor utama dari kawasan Teluk kembali terasa rapuh, dan pasar membaca risiko geopolitik sebagai premi harga yang nyata. Ketika jalur logistik energi terganggu, dampaknya tidak berhenti di pompa bensin, tetapi merambat ke ongkos produksi hampir semua barang.

Gangguan pasokan juga datang dari Kazakhstan setelah serangan pesawat nirawak menghentikan pemuatan tanker di terminal CPC di Laut Hitam. Berkurangnya pasokan minyak mentah yang diperdagangkan internasional membuat pasar lebih sensitif terhadap berita buruk berikutnya.

Di sisi lain, tekanan pada pasar solar dinilai bahkan lebih besar daripada minyak mentah. Solar adalah bahan bakar utama logistik, alat berat, dan sebagian rantai produksi pangan, sehingga kenaikannya cepat berubah menjadi inflasi biaya.

Yang sering luput dibaca publik adalah bahwa inflasi sekarang bukan sekadar urusan permintaan yang terlalu panas. Ini inflasi yang semakin ditentukan oleh guncangan pasokan, mulai dari cuaca ekstrem hingga risiko perang di jalur energi.

Di titik ini, kebijakan moneter seperti kenaikan suku bunga hanya bekerja sebagian, karena ia tidak membuat hujan turun atau kapal tanker aman melintas. Jika bank sentral terlalu agresif, ekonomi bisa diperlambat tanpa benar-benar menurunkan harga pangan dan energi yang didorong faktor eksternal.

Karena itu, respons yang lebih cerdas seharusnya menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai agenda inflasi, bukan sekadar agenda sektor. Negara yang tidak punya bantalan stok pangan, diversifikasi sumber energi, dan manajemen logistik akan membayar inflasi lebih mahal dari negara yang siap.

Indonesia dan banyak negara berkembang berada di garis depan risiko ini karena porsi belanja pangan dalam konsumsi rumah tangga lebih besar. Ketika harga beras, gula, atau minyak goreng naik, dampaknya langsung terasa sebagai penurunan daya beli, bukan sekadar angka statistik.

Super El Nino dan lonjakan harga energi mengingatkan bahwa inflasi global bisa kembali “lengket” justru saat banyak orang berharap ia turun. Proyeksi JPMorgan tentang tambahan 0,3 poin persentase pada inflasi utama dunia adalah sinyal bahwa badai harga bisa datang dari dua arah sekaligus.

Pertanyaannya bukan hanya apakah inflasi akan naik, tetapi siapa yang paling menanggungnya ketika pangan dan energi sama-sama mahal. Jika krisis iklim dan geopolitik terus menjadi mesin inflasi baru, maka ketahanan—bukan sekadar pertumbuhan—akan menjadi ukuran utama kebijakan ekonomi. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)