LSI Denny JA dan Anak Yatim: Jalan Sunyi Menuju Berkah

ORBITINDONESIA.COM - Ada tradisi kecil yang selama ini tumbuh di lingkungan kantor Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Setiap ada acara khusus, baik dalam suasana duka karena kematian, syukuran, maupun momentum Ramadan, anak-anak yatim sering diundang untuk hadir bersama.

Termasuk, saat acara Tahlil meninggalnya adik kandung Mas Denny JA, Ibu Diana Dewi Binti Filini Ali, yang dimulai dari hari pertama sampai ke-7, Sabtu 6 Juni 2026.

Mereka bukan sekadar tamu pelengkap acara. Mereka adalah tamu istimewa, tamu yang kehadirannya membawa suasana batin yang berbeda.

Di tengah kesibukan kerja, hitungan strategi, angka survei, kalkulasi politik, dan berbagai urusan duniawi yang sering terasa sangat rasional, kehadiran anak-anak yatim seperti mengingatkan kami bahwa hidup tidak seluruhnya bisa diselesaikan dengan rumus manusia.

Ada wilayah sunyi yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan. Ada jalan keberkahan yang tidak selalu bisa dihitung dengan logika bisnis, manajemen, atau ilmu pengetahuan.

Karena itu, dalam banyak kesempatan, anak-anak yatim itu kami minta untuk membaca doa lebih banyak. Bukan karena kami tidak mau berdoa sendiri. Justru karena kami tahu diri. Kami ini orang-orang dewasa, bahkan sebagian sudah tua, yang mungkin terlalu banyak dosa, terlalu banyak salah, terlalu sering lalai, dan terlalu banyak kepentingan duniawi yang menempel dalam hidup.

Dalam kesadaran seperti itu, sering muncul perasaan: jangan-jangan doa kami terlalu berat menembus langit karena tertahan oleh dosa-dosa kami sendiri.

Maka kami meminta adik-adik yatim itu berdoa. Bukan dalam arti meremehkan doa kami sendiri, tetapi karena kami percaya, mereka memiliki kemurnian yang mungkin tidak lagi kami miliki.

Mereka adalah makhluk Allah yang mungkin belum banyak dicemari dosa-dosa kehidupan. Air mata mereka, suara lirih mereka, dan doa polos mereka terasa lebih dekat kepada langit.

Dalam kepolosan mereka, ada kekuatan spiritual yang tidak bisa diukur oleh manusia.

Tentu, mengundang anak yatim tidak boleh dipahami secara transaksional. Seolah-olah mereka diundang semata-mata agar kantor mendapat kelancaran rezeki, bisnis menjadi maju, atau urusan duniawi menjadi mudah. Itu cara pandang yang terlalu sempit.

Anak yatim tidak boleh dijadikan alat spiritual untuk kepentingan ekonomi. Mereka harus dimuliakan karena memang mereka mulia. Mereka harus disayangi karena memang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan manusia untuk menyayangi, menghormati, dan menjaga anak yatim.

Namun, pengalaman hidup kadang mengajarkan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan secara ilmiah. Dari waktu ke waktu, kami sering merasakan adanya keajaiban kecil yang datang setelah doa bersama anak-anak yatim.

Ada urusan yang tiba-tiba dimudahkan. Ada jalan yang sebelumnya buntu lalu terbuka. Ada rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Ada suasana kantor yang terasa lebih teduh. Ada energi batin yang membuat kami lebih yakin, lebih tenang, dan lebih kuat melangkah.

Karena itulah, kami semakin memahami bahwa rezeki tidak hanya lahir dari kerja keras, strategi, jaringan, kecerdasan, atau kalkulasi bisnis. Semua itu penting dan tetap harus dilakukan.

Tetapi di balik semua ikhtiar lahiriah itu, ada wilayah gaib yang menjadi hak prerogatif Allah. Ada cara Tuhan membuka pintu rezeki yang sering kali tidak bisa dijelaskan oleh rumus manusia.

Ada kemahakuasaan Allah yang bekerja secara halus, sunyi, tetapi nyata.

Buat kami, keputusan Mas Denny JA sebagai pimpinan tertinggi di LSI Network, untuk terus menghadirkan anak-anak yatim dalam berbagai acara khusus sangat bisa dipahami.

Ini bukan hanya tentang kepedulian sosial. Ini juga bukan sekadar tradisi kantor. Lebih dari itu, ini adalah bentuk kesadaran spiritual bahwa manusia, setinggi apa pun ilmunya, sebesar apa pun perusahaannya, dan seluas apa pun pengaruhnya, tetap membutuhkan pertolongan Allah.

Mengundang anak yatim adalah cara untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan. Cara untuk mengingat bahwa keberhasilan tidak sepenuhnya milik manusia.

Cara untuk mengakui bahwa di balik setiap capaian, ada campur tangan Allah yang Maha Gaib sekaligus Maha Nyata. Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang spektakuler.

Kadang Allah hadir melalui doa anak yatim, melalui senyum mereka, melalui rasa haru ketika mereka mengangkat tangan, dan melalui keberkahan yang pelan-pelan menyusup ke dalam kehidupan kita.

Dalam Al-Qur’an, anak yatim memiliki tempat yang sangat khusus. Mereka bukan hanya harus dikasihani, tetapi harus dimuliakan. Mereka bukan objek belas kasihan, tetapi subjek kehormatan.

Memuliakan anak yatim berarti memuliakan nilai kemanusiaan. Menyantuni anak yatim berarti menyentuh salah satu pintu kasih sayang Allah.

Maka, ketika anak-anak yatim hadir di kantor kami, sesungguhnya yang datang bukan hanya anak-anak kecil yang membutuhkan perhatian. Yang datang adalah pengingat tentang kerendahan hati. Yang datang adalah cermin agar kami tidak sombong dengan ilmu dan usaha.

Dan yang datang adalah pesan bahwa dunia ini tidak hanya bergerak oleh logika manusia, tetapi juga oleh doa, ketulusan, dan keberkahan.

Jadi, sekali lagi, tradisi mengundang anak-anak yatim ini adalah pelajaran spiritual bagi kami semua. Bahwa bekerja tetap harus profesional. Berusaha tetap harus maksimal. Berpikir tetap harus rasional.

Tetapi hati jangan pernah putus dari Allah. Sebab ada banyak pintu rezeki yang tidak dibuka oleh kecerdasan manusia, melainkan oleh kasih sayang Tuhan.

Dan boleh jadi, salah satu kunci kecil pembuka pintu itu adalah doa anak-anak yatim yang tulus, polos, dan bersih. Doa yang mungkin tidak panjang, tidak indah secara bahasa, tetapi sangat mungkin lebih cepat sampai ke langit.

Jakarta, 6 Juni 2026

Toto Izul Fatah

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA. ***