Shokz OpenFit Pro Resmi Dijual: TWS Open-Ear Dolby Atmos

ORBITINDONESIA.COM – Shokz OpenFit Pro resmi masuk Indonesia lewat Erajaya Active Lifestyle, membawa konsep TWS open-ear untuk warga kota yang ingin audio premium tanpa menutup telinga. Produk ini dijual Rp4.499.000 dan diposisikan sebagai flagship yang menekankan Dolby Atmos, kenyamanan, serta kesadaran situasional. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Pasar earbud makin ramai, tetapi kebutuhan urban berubah dari sekadar “suara kencang” menjadi “suara bagus tanpa mengorbankan keamanan.” Di jalan raya, transportasi umum, dan ruang kerja hibrida, telinga yang sepenuhnya tertutup sering dianggap tidak praktis dan berisiko. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Di titik ini, tren open-ear menjadi kompromi yang menarik, karena pengguna tetap bisa mendengar klakson, pengumuman, atau rekan kerja. Namun kompromi itu biasanya dibayar dengan bass yang tipis, kebocoran suara, dan panggilan telepon yang kurang rapi. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Erajaya Active Lifestyle (ERAL) membaca celah tersebut dengan memboyong Shokz OpenFit Pro, sekaligus mempertegas strategi memperluas portofolio gaya hidup global di Indonesia. CEO ERAL Djohan Sutanto menekankan perangkat ini dirancang untuk produktivitas dan gaya hidup aktif yang padat. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Nilai jual utama OpenFit Pro ada pada narasi “premium” yang biasanya identik dengan earbud in-ear, tetapi kini dibawa ke format open-ear. Shokz menonjolkan dukungan Dolby Atmos untuk efek audio yang lebih imersif dan minim distorsi pada konten digital. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Di sisi hardware, Shokz mengandalkan synchronized dual-diaphragm driver dan teknologi Shokz SuperBoost™. Kombinasi ini diklaim menjaga treble tetap halus, mid stabil, dan bass presisi meski tanpa menyumbat lubang telinga. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Masalah klasik open-ear adalah kebocoran suara, karena speaker berada dekat namun tidak menutup kanal telinga. Shokz menjawabnya lewat DirectPitch™ 3.0 untuk meminimalkan suara “bocor” ke sekitar, yang penting di kantor terbuka atau transportasi publik. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

OpenFit Pro juga disebut sebagai produk pertama Shokz dengan fitur Open-Ear Noise Reduction berbasis pemodelan akustik. Klaimnya menarik karena open-ear biasanya kalah di peredaman, sehingga pendekatan berbasis pemodelan anatomi telinga menjadi diferensiasi. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Untuk komunikasi, ada Triple Mic System dengan dukungan AI yang memprioritaskan suara manusia. Shokz mengklaim reduksi gangguan latar hingga 99,4% dan tetap stabil saat angin 25 km/jam, meski klaim ini idealnya diuji independen di berbagai skenario jalanan Indonesia. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Dari sisi ergonomi, material Ultra-Soft Silicone™ 2.0 dan ear hook fleksibel berbahan paduan nikel-titanium menjadi taruhan utama. Ini penting karena open-ear hanya akan diterima luas jika nyaman dipakai lama tanpa tekanan, terutama bagi pengguna berkacamata. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Baterai menjadi argumen kuat lain: 12 jam pemakaian dan total 50 jam dengan charging case. Fitur fast charging 5 menit untuk 2,5 jam juga relevan bagi pekerja lapangan yang sering lupa mengisi daya. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Dari sisi distribusi, ERAL mengandalkan Shokz Monostore, Urban Republic, Eraspace.com, serta e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok. Strategi omnichannel ini memperbesar peluang edukasi produk, karena open-ear sering butuh pengalaman langsung sebelum orang yakin. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Namun harga Rp4.499.000 menempatkannya di segmen premium yang sensitif terhadap pembanding. Di rentang ini, konsumen akan menimbang antara kualitas panggilan, kenyamanan, dan “rasa bass,” serta mempertanyakan apakah open-ear bisa menggantikan in-ear untuk semua kebutuhan. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

OpenFit Pro tampak seperti upaya Shokz dan Erajaya mengubah definisi “flagship” dari sekadar isolasi maksimal menjadi keseimbangan antara audio dan awareness. Ini bukan sekadar perangkat musik, melainkan perangkat perilaku: mengajak orang tetap terhubung dengan lingkungan sambil bekerja atau bergerak. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Di sisi lain, narasi “aman karena telinga terbuka” tidak otomatis menyelesaikan masalah keselamatan. Pengguna tetap bisa terdistraksi, dan volume tinggi pada open-ear tetap berpotensi mengganggu orang sekitar, sehingga etika pemakaian menjadi faktor sosial yang sering diabaikan. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Klaim AI dan angka reduksi noise yang sangat spesifik juga perlu dibaca hati-hati. Tanpa rujukan metodologi uji yang transparan, angka itu lebih tepat diperlakukan sebagai indikator pemasaran, bukan jaminan performa di setiap kondisi khas Indonesia. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Meski begitu, langkah ERAL tetap strategis karena memperluas kategori yang belum sepenuhnya mainstream. Jika edukasi pasar berhasil, open-ear bisa menjadi “kategori baru” yang berdiri sejajar dengan in-ear, bukan sekadar alternatif niche untuk pelari atau komuter. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Shokz OpenFit Pro datang dengan paket lengkap: Dolby Atmos, desain open-ear, fokus privasi kebocoran suara, dan baterai panjang yang masuk akal untuk ritme kota. Harga premiumnya menuntut pembuktian, terutama pada kualitas panggilan dan kontrol kebocoran suara di situasi nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “seberapa bagus suaranya,” melainkan “seberapa bijak kita memakai audio di ruang publik.” Jika teknologi membantu kita tetap sadar, mungkin yang paling dibutuhkan berikutnya adalah disiplin baru: mendengar tanpa menutup diri dari dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)