Agen ICE Dituduh Bohong soal Penembakan Warga Venezuela

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Agen ICE Christian Castro dibebaskan dari tahanan federal setelah didakwa berbohong kepada penyidik soal penembakan Julio Cesar Sosa-Celis, pria asal Venezuela, di Minneapolis. Jaksa menilai klaim Castro bahwa ia diserang dengan sapu dan sekop salju sebelum menembak tidak sesuai bukti, termasuk rekaman video.

Kasus ini berakar pada operasi penegakan imigrasi besar-besaran Operation Metro Surge yang mengirim ribuan agen federal ke Twin Cities pada musim dingin lalu. Operasi itu memicu protes luas, gelombang penangkapan, dan dua warga negara AS tewas ditembak petugas federal, menurut laporan Associated Press.

Dalam dakwaan federal, Castro dituduh membuat pernyataan palsu kepada FBI tentang insiden Januari yang melukai Sosa-Celis. Ia menyerahkan diri Kamis malam, lalu hadir di pengadilan federal McAllen, Texas, dengan borgol di pergelangan tangan, pinggang, dan kaki.

Hakim membebaskan Castro dengan jaminan tanpa agunan 75.000 dolar AS dan mewajibkan pemantauan GPS melalui gelang kaki. Pengacaranya, David A. Lindenmuth dan Rolando Cantu, menyatakan Castro berniat mengajukan pembelaan tidak bersalah dan dijadwalkan hadir di pengadilan federal Minnesota pada 18 September.

Dakwaan federal menolak versi Castro yang menyebut seorang pria mengambil sapu merah dari teras lalu memukulinya saat ia mencoba menahan orang lain di luar rumah Minneapolis. Castro juga mengklaim ada orang lain memukulnya dengan sekop salju, lalu ia menembak ketika berada di tanah saat mereka lari.

Menurut dakwaan, yang terjadi adalah “interaksi fisik singkat” antara Castro, Sosa-Celis, dan seorang pria lain sebelum keduanya berlari masuk ke rumah yang di dalamnya ada anak berusia 1 tahun. Castro lalu menembakkan satu peluru menembus pintu depan saat berdiri ketika pintu ditutup, dan peluru itu mengenai kaki Sosa-Celis.

Dakwaan menegaskan tidak ada seorang pun memukul Castro dengan sapu seperti yang ia ceritakan, dan tidak ada orang yang mengayunkan sapu serta sekop salju seperti versinya. Detail ini penting karena membedakan respons defensif spontan dari tindakan ofensif yang berpotensi melanggar standar penggunaan kekuatan.

Kasus ini juga paralel dengan proses di tingkat negara bagian Minnesota, yang secara terpisah mendakwa Castro atas penyerangan dan pelaporan palsu terkait penembakan yang tidak mematikan itu. Artinya, Castro menghadapi risiko hukum berlapis, meski fokus federal saat ini terbatas pada dugaan kebohongan kepada penyidik.

Fakta yang paling mengganggu publik adalah bahwa jaksa federal semula mendakwa Sosa-Celis dan Alfredo Alejandro Aljorna atas penyerangan, namun kemudian mencabut dakwaan setelah video menunjukkan petugas mungkin berbohong tentang pertemuan tersebut. Castro pun dilaporkan diskors dari ICE pada Februari ketika penyelidikan berjalan.

Dimensi politik ikut menyala ketika Castro sempat keluar dari penjara pekan lalu setelah Gubernur Texas menolak segera menandatangani surat ekstradisi untuk menyerahkannya ke Minnesota. Penundaan ini menambah kesan bahwa perkara penegakan imigrasi kerap terseret tarik-menarik antarotoritas dan narasi keamanan perbatasan.

Di dalam Departemen Kehakiman AS, penyelidikan ini memicu turbulensi yang jarang muncul ke permukaan. Email yang diperoleh ProPublica menyebut jaksa Matthew Evans memprotes keputusan atasan yang hanya menjerat Castro dengan pasal pernyataan palsu, bukan tuduhan hak sipil yang lebih berat.

Sumber yang mengetahui penyelidikan mengatakan kepada AP bahwa penyelidikan hak sipil masih berlanjut dan dakwaan tambahan masih mungkin diajukan. Namun Evans telah dipecat, dan Departemen Kehakiman kini menyelidiki apakah ia melanggar hukum dalam penanganan kasus tersebut, menurut sumber yang berbicara anonim.

Kasus Christian Castro bukan sekadar soal “siapa yang berbohong,” melainkan soal bagaimana kebenaran diproduksi dalam operasi penegakan imigrasi yang agresif. Ketika narasi awal petugas dapat mengubah korban menjadi tersangka, risiko salah tangkap dan salah tuduh menjadi konsekuensi yang nyata, bukan abstrak.

Jika dakwaan benar, tembakan melalui pintu rumah yang dihuni anak kecil menunjukkan batas tipis antara penegakan hukum dan tindakan yang membahayakan warga sipil. Pernyataan pengacara Sosa-Celis, Robin Wolpert, menohok karena menyebut kebohongan itu untuk “menutupi fakta bahwa ia menembak klien saya melalui pintu rumah yang ditempati tanpa pembenaran pembelaan diri.”

Di sisi lain, pembela Castro meminta publik tidak menghakimi dan menekankan rekam jejak militernya serta pengabdian publiknya. Argumen ini sering efektif di ruang opini, tetapi tidak boleh menjadi tameng otomatis yang menurunkan standar akuntabilitas ketika bukti video dan dokumen pengadilan mengarah pada kontradiksi.

Yang paling krusial adalah pesan kelembagaan: apakah negara memprioritaskan keterbukaan atau perlindungan korps. Ketika jaksa internal mengaku dihambat untuk menuntut pasal hak sipil, publik berhak bertanya apakah sistem lebih takut pada preseden penuntutan petugas federal daripada pada kerusakan kepercayaan masyarakat.

ACLU Minnesota menyatakan Sosa-Celis juga berencana menuntut ganti rugi dari pemerintah federal. Gugatan semacam ini dapat membuka lebih banyak dokumen, tetapi juga memperlihatkan harga sosial yang dibayar ketika operasi besar dijalankan tanpa kontrol ketat atas penggunaan kekuatan.

Penembakan Julio Cesar Sosa-Celis dan dakwaan kebohongan terhadap agen ICE Christian Castro menempatkan Operation Metro Surge di bawah sorotan yang lebih keras. Perkara ini menguji apakah sistem federal mampu menindak aparatnya sendiri secara setara, atau hanya berhenti pada dakwaan yang paling “aman” secara politik.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan: jika pintu rumah bisa ditembus peluru karena cerita yang keliru, siapa yang menjamin pintu keadilan tidak ikut terkunci. Publik menunggu bukan hanya putusan pengadilan, tetapi juga keberanian institusi untuk menempatkan kebenaran di atas loyalitas korps.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)