Work-Life Balance India: HR Minta “CEO-level Attitude” Viral
ORBITINDONESIA.COM – Work-life balance India kembali jadi sorotan setelah video Udita, perempuan Delhi, viral karena HR menuntut “CEO-level attitude” saat ia menanyakan opsi work from home pada Sabtu. Percakapan itu disebut berakhir mendadak, dan Udita merasa langsung “dicoret” dari proses rekrutmen.
Kisah bermula dari pertanyaan yang tampak biasa: jam kerja dan budaya kerja perusahaan. Udita diberi tahu posisi itu menerapkan enam hari kerja, dengan Minggu sebagai hari libur.
Saat ia mengusulkan remote working pada Sabtu, respons HR justru mengarah ke standar sikap: “CEO-level attitude.” Udita membalas dengan pertanyaan tajam, apakah yang dicari sebenarnya CEO, lalu panggilan diklaim berhenti tiba-tiba.
Di videonya, Udita melontarkan kalimat yang memukul inti masalah: “Sejak kapan kita mulai mengglorifikasi budaya kerja berlebihan?” Ia menegaskan work-life balance bukan sinonim dari tidak loyal atau tidak serius bekerja.
Viralnya video ini menunjukkan satu hal: rekrutmen kini bukan sekadar seleksi kandidat, tetapi juga audit budaya perusahaan oleh publik. Di era media sosial, satu frasa seperti “CEO-level attitude” bisa dibaca sebagai kode untuk jam kerja panjang dan batas kerja-pribadi yang kabur.
Secara ekonomi, tuntutan “attitude level CEO” pada posisi non-eksekutif sering memunculkan pertanyaan imbal balik: apakah kompensasinya juga “level CEO”? Banyak komentar warganet menyoroti ironi ini, karena ekspektasi tinggi tanpa transparansi gaji mudah dianggap sebagai eksploitasi yang dibungkus motivasi.
Di India, perdebatan jam kerja panjang memang sedang panas. Pada 2023, Ketua Infosys N.R. Narayana Murthy memicu kontroversi setelah menyarankan 70 jam kerja per minggu, dan wacana itu terus bergema di ruang publik serta dunia korporasi.
Kasus Udita menambah bukti bahwa friksi terbesar bukan hanya soal WFH atau WFO, melainkan soal kendali atas waktu. Enam hari kerja dengan penolakan fleksibilitas Sabtu menandakan perusahaan ingin kepastian kehadiran, sementara kandidat ingin kepastian kualitas hidup.
Yang lebih penting, insiden ini memperlihatkan bahasa HR bisa menjadi alat kuasa. Kalimat normatif seperti “CEO-level attitude” mudah dipakai untuk menguji kepatuhan, bukan kompetensi, dan itu menggeser wawancara dari dialog dua arah menjadi ujian ketundukan.
Reaksi publik yang masif juga menyingkap problem layanan rekrutmen. Banyak orang mengaku pernah mengalami HR yang defensif atau merendahkan saat kandidat menanyakan budaya kerja, padahal pertanyaan itu justru indikator kandidat berpikir jangka panjang.
Istilah “CEO-level attitude” terdengar heroik, tetapi ia sering menjadi slogan kosong yang menutupi manajemen kerja yang malas. Jika perusahaan benar-benar menginginkan pola pikir pemimpin, maka ia harus siap dipertanyakan soal sistem, target, beban kerja, dan kompensasi.
Budaya kerja sehat tidak anti kerja keras, tetapi anti kerja tanpa batas. Ketika work-life balance diposisikan sebagai “kurang niat,” perusahaan sedang menormalisasi gagasan bahwa manusia ideal adalah mesin yang selalu tersedia.
Di sisi kandidat, keberanian bertanya seperti Udita adalah bentuk literasi kerja. Pertanyaan tentang fleksibilitas bukan permintaan manja, melainkan negosiasi rasional atas risiko burnout, kesehatan mental, dan produktivitas jangka panjang.
Namun, perusahaan juga menghadapi tekanan kompetisi, target, dan klien yang menuntut respons cepat. Karena itu, jawaban yang tepat bukan menutup pintu, melainkan menyepakati ekspektasi yang jelas: kapan harus hadir, kapan boleh fleksibel, dan bagaimana kinerja diukur.
Kisah viral ini pada akhirnya bukan tentang satu HR dan satu kandidat, tetapi tentang arah baru dunia kerja India. Publik mulai menolak glorifikasi lembur, dan mulai meminta transparansi sebagai prasyarat kepercayaan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah perusahaan ingin pekerja yang patuh, atau profesional yang mampu berpikir kritis dan menjaga batas sehat? Jika “CEO-level attitude” hanya berarti bekerja lebih lama tanpa perlindungan dan penghargaan, siapa sebenarnya yang sedang diuntungkan.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)