Meghan Markle As Ever Bertahan Saat Harry Pulang Inggris

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Meghan Markle memastikan brand gaya hidup As Ever tetap berjalan, bahkan ketika ia dan Pangeran Harry dikabarkan bersiap meninggalkan Montecito dan kembali ke Inggris. Di tengah surutnya “kerajaan Hollywood” mereka, As Ever justru diposisikan sebagai jangkar bisnis yang tak ikut pindah.

Sumber-sumber dekat brand menyebut As Ever akan tetap merayu konsumen dengan citra lembut, kemasan rapi, serta produk seperti selai, lilin, dan teh. Ini menjadi salah satu warisan paling tahan lama dari “Megxit”, ketika pasangan Sussex membangun identitas baru di luar istana.

Pada Jumat, beberapa hari setelah kabar kepulangan mereka ke Britania mencuat, As Ever mengirim email ke pelanggan dengan kalimat pembuka yang menggoda: “Bab baru untuk dirayakan”. Email itu mengarahkan pembaca untuk memesan sparkling wine Napa Valley seharga US$89, dengan deskripsi “mineralitas halus, catatan buah yang anggun, dan akhir yang cerah”.

Tahun lalu, Meghan merilis dua musim serial Netflix “With Love, Meghan” untuk merombak citra dari mantan bangsawan menjadi figur “dewi domestik” bergaya Goop. Rujukannya jelas: Martha Stewart, Chrissy Teigen, hingga Gwyneth Paltrow, yang menjadikan rumah tangga sebagai panggung ekonomi.

Di saat yang sama, Meghan mendirikan As Ever dan menjual paket tiga selai—raspberry, orange marmalade, dan strawberry—seharga US$36. Ia juga menawarkan lavender honey “bersumber dari Spanyol” serta wine California, menempatkan merek ini di persimpangan antara kemewahan ringan dan narasi kurasi.

Strategi ini mengikuti pola industri lifestyle modern: menjual suasana, bukan sekadar barang. Ketika publik lelah pada drama selebritas, produk yang tampak “hangat” dan “rapi” memberi jalan lain untuk tetap relevan, sekaligus mengubah perhatian menjadi transaksi.

Harga US$89 untuk sparkling wine dan US$36 untuk tiga selai menegaskan posisi premium, bukan pasar massal. Ini penting karena brand seperti As Ever tidak bersaing dengan supermarket, melainkan dengan “cerita” yang membuat konsumen merasa ikut masuk ke dunia sang pendiri.

Email “bab baru” menunjukkan kemampuan brand memanfaatkan momentum berita sebagai alat pemasaran. Di era ekonomi perhatian, kabar kepulangan ke Inggris tidak hanya menjadi isu keluarga, tetapi juga kalender promosi yang bisa menggerakkan penjualan.

Keputusan mempertahankan As Ever saat Montecito ditinggalkan mengisyaratkan satu hal: Meghan tampaknya lebih percaya pada merek daripada pada mitos selebritas yang cepat basi. Jika “Megxit” dulu soal kebebasan, kini kebebasan itu diuji oleh kebutuhan paling klasik: arus kas dan relevansi.

Namun, ada sisi problematik yang patut dicatat. Ketika narasi “bab baru” dipakai untuk mendorong pembelian, batas antara pembaruan hidup dan komodifikasi pengalaman menjadi kabur, dan publik bisa membaca ini sebagai sinisme yang dibungkus estetika.

Di sisi lain, langkah ini juga dapat dibaca sebagai profesionalisme: brand yang matang tidak boleh bergantung pada alamat rumah atau cuaca Montecito. As Ever tampak ingin menjadi entitas yang berdiri sendiri, sementara pemiliknya bergerak mengikuti dinamika keluarga, media, dan politik citra.

As Ever menunjukkan bahwa Meghan Markle memilih jalur yang paling stabil di tengah perubahan: membangun “kerajaan kecil” lewat produk yang terasa personal, tetapi dijalankan secara strategis. Kepulangan Harry dan Meghan ke Inggris boleh menjadi simbol penutupan satu bab, tetapi mesin bisnis mereka tampaknya belum ingin berhenti.

Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah publik akan terus mengikuti kisah Sussex, melainkan apakah publik masih mau membayar untuk estetika yang mereka jual. Pada akhirnya, “bab baru” hanya akan bermakna jika konsumen percaya bahwa yang ditawarkan lebih dari sekadar kemasan dan momentum. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)