Budaya Kerja India dan Presenteeism: Jam Panjang, Produktivitas Dipertanyakan
ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja India kembali dipersoalkan setelah unggahan LinkedIn Nistha Tripathi viral, menohok praktik presenteeism yang memuja “kelihatan sibuk” ketimbang hasil. Kata-kata “half day today?” menjadi simbol sindiran halus yang membuat karyawan merasa bersalah saat pulang tepat waktu, meski tugas sudah tuntas.
Dalam banyak kantor korporat India, jam pulang bukan sekadar penanda selesai kerja, melainkan ujian loyalitas. Bahkan setelah datang pukul 7 pagi dan menyelesaikan daftar tugas, pulang pukul 6 sore masih bisa dianggap “kurang niat”.
Tripathi membandingkannya dengan pengalaman bekerja bersama tim Eropa yang menutup laptop pukul 5 sore tanpa penjelasan dan tanpa rasa bersalah. Yang mengganggu bagi banyak profesional India bukan perbedaan jam, melainkan perbedaan cara kantor memaknai martabat waktu.
Isu ini membesar karena menyentuh pengalaman kolektif, terutama diaspora profesional yang pernah merasakan ritme kerja Barat. Bagi mereka yang berniat kembali, peringatan Tripathi terdengar seperti alarm: siap-siap dimikromanaj, tidak dipercaya, dan dihakimi soal prioritas.
Presenteeism bekerja lewat “optik dedikasi”, yakni keyakinan bahwa siapa yang paling lama terlihat di meja kerja adalah yang paling berkomitmen. Dalam logika ini, kehadiran menjadi mata uang, sementara output hanya pelengkap narasi.
Tripathi menulis, “In India, you feel guilty for leaving work at 6 pm,” lalu menegaskan bahwa di tim Eropa, orang “log off at 5” dan pekerjaan tetap selesai. Klaim ini mengguncang karena menantang mitos populer: jam panjang otomatis berarti produktif.
Di banyak MNC, ketimpangan zona waktu memperburuk situasi karena rapat sering mengikuti kenyamanan kantor AS dan Eropa. Tripathi menyindir asumsi yang sudah dinormalisasi: “Indian guy will take calls even at 10pm IST.”
Masalahnya bukan sekadar jadwal rapat, tetapi relasi kuasa yang membuat “ketersediaan” dianggap standar profesionalisme. Saat batas pribadi dibaca sebagai malas, perusahaan diam-diam memindahkan biaya operasional ke tubuh dan kesehatan mental karyawan.
Secara global, diskursus kesehatan mental di tempat kerja makin menguat, termasuk dorongan “right to disconnect” yang mulai dilembagakan di sejumlah negara Eropa. Kontras ini membuat budaya jam panjang tampak bukan sebagai keunggulan kompetitif, melainkan kebiasaan yang belum diperbarui.
Namun penolakan juga muncul karena sebagian orang menilai model Barat tidak bisa diimpor mentah-mentah. Mereka menyebut kantor India lebih sosial, dengan makan siang panjang dan jeda teh, sehingga jam kerja memanjang sebagai kompensasi.
Argumen itu terdengar masuk akal, tetapi tidak otomatis membenarkan normalisasi rasa bersalah saat pulang tepat waktu. Jika jeda sosial dianggap budaya, maka budaya yang sama seharusnya juga mampu menghormati batas, bukan memelihara sindiran.
Perdebatan akhirnya mengerucut pada satu pertanyaan: apakah kantor mengejar hasil atau mengejar pemandangan orang bekerja. Banyak komentar di komunitas profesional menyimpulkan bahwa “visibility” sering disalahartikan sebagai “commitment,” dan inilah akar dari kelelahan yang dipuja.
Unggahan Tripathi terasa tajam karena ia tidak menyerang kerja keras, melainkan cara kerja keras dipentaskan. Ia menolak ide bahwa nilai pekerja ditentukan oleh seberapa sering ia dapat dihubungi, bukan seberapa baik ia menyelesaikan tanggung jawab.
Kalimatnya, “Being available 24/7 doesn’t make you valuable. It means you are taken for granted,” adalah kritik terhadap ekonomi perhatian di kantor. Ketika “siap kapan saja” menjadi syarat tak tertulis, perusahaan sedang memanen kepatuhan, bukan kinerja.
Budaya “half day today?” adalah mekanisme kontrol yang halus, karena ia bekerja lewat rasa malu. Ia tidak perlu aturan tertulis, cukup candaan yang mengirim pesan: pulang cepat sama dengan kurang setia.
Di titik ini, presenteeism bukan hanya soal jam kerja, tetapi soal mistrust yang dilembagakan. Jika manajer percaya pada sistem dan metrik yang sehat, ia tidak membutuhkan bukti visual berupa kursi yang terus terisi.
India tentu punya kompleksitas ekonomi, persaingan tenaga kerja, dan ketimpangan kesempatan yang berbeda dari Eropa. Tetapi justru karena kompleksitas itu, energi manusia harus diperlakukan sebagai aset yang dijaga, bukan sumber daya yang diperas sampai habis.
Viralnya kritik Tripathi menunjukkan ada generasi pekerja yang tidak lagi mau menukar kesehatan dengan “optik” loyalitas. Mereka tidak anti kerja keras, tetapi menuntut kerja yang waras dan terukur.
Jika pekerjaan bisa selesai tanpa drama jam panjang, maka pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang diuntungkan oleh budaya lembur permanen. Apakah perusahaan benar-benar mengejar produktivitas, atau sekadar mempertahankan kebiasaan yang membuat orang takut terlihat “kurang sibuk”?
Pada akhirnya, kantor yang modern bukan yang paling lama lampunya menyala, melainkan yang paling jernih membedakan komitmen dari keterpaksaan. Barangkali saatnya kita berhenti memberi hadiah pada kelelahan, dan mulai menghormati mereka yang melindungi energinya. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)