Tren Squishy Microwave Picu Luka Bakar Anak, Dokter Beri Peringatan
ORBITINDONESIA.COM – Tren squishy microwave di media sosial berubah menjadi mimpi buruk ketika mainan lunak dipanaskan lalu meledak dan menyemburkan gel panas. Dokter luka bakar memperingatkan bahaya tren online ini karena sejumlah anak mengalami luka bakar serius, bahkan sampai operasi dan cangkok kulit.
Video yang beredar memperlihatkan anak-anak memanaskan mainan squishy agar lebih lentur dan “memuaskan” saat diremas. Padahal, pemanasan membuat tekanan di dalam mainan meningkat dan dapat memicu ledakan kecil yang menyemburkan gel panas.
Royal Hospital for Children (RHC) di Glasgow melaporkan telah merawat enam anak akibat tren tersebut dalam delapan bulan terakhir, menurut The Independent. Angka itu kecil di atas kertas, tetapi cukup untuk menunjukkan pola risiko yang berulang dan mudah ditiru.
Kasus Joseph Erskine, 8 tahun, memperlihatkan betapa cepatnya insiden terjadi di rumah. Ibunya, Stephanie Ewing, mengatakan Joseph hanya menekan tombol mulai karena timer microwave masih tersisa 40 detik dari pemakaian sebelumnya.
“Semuanya terjadi begitu cepat dan mudah,” kata Stephanie. Ia menegaskan keluarganya tidak pernah menyangka sebuah mainan bisa memicu cedera sedalam itu.
Joseph mengalami luka bakar di dada dan tangan, lalu harus menjalani cangkok kulit dari pahanya untuk menutup luka di dada. Ia juga harus menghindari paparan matahari langsung pada area cangkok selama dua tahun.
Kasus lain menimpa Scarlet Rowe, 11 tahun, yang mengalami luka bakar di wajah dan kelopak mata setelah memanaskan squishy yang baru diterimanya. Ibunya, Gina, awalnya mengira yang menempel di wajah hanya “lendir mainan”, sebelum sadar itu gel panas yang membakar kulit.
Bahaya utama tren squishy microwave bukan sekadar “mainan meleleh”, melainkan mekanisme luka bakar yang memperpanjang paparan panas. Spesialis luka bakar di RHC menjelaskan gel di dalam squishy dapat tetap bersuhu sangat tinggi dan menempel pada kulit.
Ketika zat panas menempel, panas tidak cepat hilang seperti percikan air panas yang segera mengalir. Akibatnya, kerusakan jaringan bisa lebih dalam dan lebih lama, sehingga meningkatkan peluang perlu operasi, perawatan luka intensif, dan rehabilitasi.
Sharon Ramsay, perawat luka bakar di RHC, menegaskan pola cedera ini sebenarnya bisa dicegah. “Ketika mainan ini dipanaskan, isinya dapat meledak dan menempel pada kulit sehingga menyebabkan luka bakar yang dalam,” kata Ramsay.
Dari sisi ekosistem digital, tren semacam ini lahir dari logika viral yang mengutamakan reaksi cepat dan visual mengejutkan. Anak-anak tidak membaca peringatan risiko, sementara algoritma cenderung mengulang konten serupa karena dianggap menarik.
Faktor rumah tangga memperparah situasi karena microwave adalah perangkat yang mudah diakses dan sering sudah “siap pakai”. Kasus Joseph menunjukkan satu tombol dapat menjadi pemicu, bahkan ketika anak tidak benar-benar paham cara kerja microwave.
Masalahnya juga bersifat lintas rantai, dari produsen, penjual, hingga platform konten. Mainan populer dan mudah dibeli, tetapi informasi keselamatan tidak selalu menonjol, dan konten demonstrasi sering tampil tanpa konteks bahaya.
Dampak luka bakar pada anak tidak berhenti di ruang gawat darurat. RHC menyebut penyembuhan bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, dengan rangkaian penggantian perban, fisioterapi, hingga penanganan bekas luka.
Tren online berbahaya seperti squishy microwave memperlihatkan celah besar dalam literasi risiko digital di rumah. Kita terlalu sering menyederhanakan persoalan menjadi “anaknya nakal”, padahal yang terjadi adalah kombinasi rasa ingin tahu, desain konten yang menggoda, dan akses alat yang tidak disadari berbahaya.
Orang tua tidak mungkin mengawasi setiap detik, tetapi bisa membangun kebiasaan dialog yang konkret dan tidak menggurui. Stephanie mengimbau orang tua membicarakan risiko tren semacam itu, dan imbauan ini terdengar sederhana tetapi sering terlambat dilakukan.
Platform juga memegang tanggung jawab moral, karena konten berisiko bisa ditandai, dibatasi, atau disertai peringatan yang jelas. Jika algoritma mampu mendorong video viral, maka seharusnya ia juga mampu mengerem konten yang berpotensi mencederai.
Di sisi lain, industri mainan perlu lebih proaktif dengan label peringatan yang mudah dipahami anak dan orang tua. Produk yang terlihat “imut” dan “aman” tidak boleh meninggalkan ruang tafsir ketika dipakai di dekat sumber panas.
Tren squishy microwave dan luka bakar anak adalah pengingat bahwa bahaya modern sering datang dari kombinasi benda sehari-hari dan tantangan viral. Enam anak dirawat di satu rumah sakit dalam delapan bulan, dan itu cukup untuk menyebutnya sebagai pola, bukan kebetulan.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang salah, melainkan apa yang bisa diubah agar kejadian serupa tidak berulang di rumah lain. Jika satu video bisa menggerakkan anak menekan tombol “mulai”, maka satu percakapan jujur di rumah seharusnya bisa menggerakkan anak menekan tombol “berhenti”.
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Juli 2026)