Aset Kelolaan Manajer Investasi Inggris Tembus £11,1 Triliun

Money Marketing

Money Marketing

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Aset kelolaan manajer investasi Inggris (UK investment management industry) melonjak 11% menjadi rekor £11,1 triliun pada 2025, menurut Investment Association (IA). Kenaikan dua tahun berturut-turut ini terjadi saat bisnis internasional kini menyumbang 53% dari total AUM, menegaskan posisi London sebagai pusat distribusi investasi global.

Angka £11,1 triliun bukan sekadar statistik, karena ia memotret arah baru industri yang kian bergantung pada klien luar negeri dan investor ritel. Di tengah ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar, IA menilai capaian ini sebagai bukti daya saing Inggris sebagai financial centre.

Namun, di balik narasi optimistis, ada pergeseran struktural yang diam-diam mengubah peta kekuasaan di pasar modal. Porsi dana pensiun, terutama skema defined benefit, terus menyusut seiring de-risking dan perubahan suku bunga pasca gejolak gilt 2022.

IA mencatat AUM naik dari £10 triliun pada 2024 menjadi £11,1 triliun pada 2025, menandai tahun kedua pertumbuhan dua digit. Pertumbuhan datang dari dua arah sekaligus, yakni klien domestik dan klien internasional.

Aset yang dikelola di Inggris untuk klien luar negeri naik 15% menjadi £5,9 triliun, atau 53% dari total AUM. Porsi ini melonjak jauh dibanding 37% pada 2016, menandakan ekspor jasa pengelolaan aset menjadi mesin utama industri.

Eropa tetap sumber terbesar aset internasional, naik dari £3 triliun menjadi £3,5 triliun dan setara 59% dari total internasional. Ketergantungan ini menguntungkan saat arus modal Eropa stabil, tetapi bisa menjadi titik lemah bila regulasi lintas batas atau sentimen politik berubah.

Amerika Utara menembus £1 triliun untuk pertama kali, naik dari £990 miliar menjadi £1,1 triliun. Ini sinyal bahwa manajer investasi Inggris masih mampu bersaing di pasar yang biasanya didominasi raksasa Wall Street.

Asia-Pasifik mencatat pertumbuhan paling kuat di antara kawasan besar, naik 19% dari £740 miliar menjadi £880 miliar dan mengambil 15% porsi aset luar negeri. Timur Tengah juga menguat dengan £330 miliar, atau 6% dari total internasional, menunjukkan diversifikasi sumber dana makin nyata.

Di sisi domestik, industri mengelola £5,2 triliun untuk klien Inggris pada akhir 2025, naik 46% dibanding £3,6 triliun pada 2015. Kenaikan aset domestik selama 2025 mencapai £345 miliar, yang disebut IA sebagai lonjakan tahunan terbesar sejak 2020.

Perubahan paling simbolik datang dari komposisi klien, karena investor ritel kini menjadi kelompok terbesar setelah menyalip dana pensiun pada 2024. Porsi aset ritel naik menjadi 30%, menggeser pola lama ketika klien institusional menguasai sekitar 80% aset.

IA mengaitkan tren ini dengan dorongan kolektif industri, pemerintah, regulator, dan kelompok konsumen agar masyarakat berinvestasi jangka panjang. Kampanye seperti Invest for the Future disebut bertujuan membuat investasi terasa lebih mudah diakses, termasuk lewat perbaikan cara risiko dikomunikasikan.

Sebaliknya, porsi dana pensiun atas aset yang dikelola di Inggris turun ke 25% dari puncak 45% pada 2018. IA menilai penyebabnya adalah pematangan dan de-risking skema defined benefit, yang dipercepat oleh suku bunga lebih tinggi serta disrupsi pasar gilt pada 2022.

Kenaikan AUM dan dominasi bisnis internasional memang terdengar seperti kemenangan, tetapi ia juga memperbesar ketergantungan pada arus modal lintas negara. Saat 53% aset datang dari luar, stabilitas industri Inggris menjadi semakin sensitif terhadap perubahan regulasi global, konflik geopolitik, dan rotasi portofolio investor asing.

Pergeseran dari dana pensiun ke ritel juga bukan sekadar “demokratisasi investasi”, karena ia memindahkan beban risiko dari institusi ke individu. Jika literasi finansial dan transparansi biaya tertinggal, pertumbuhan ritel bisa berubah menjadi gelombang kekecewaan saat siklus pasar berbalik.

Kutipan CEO IA John Owen merangkum optimisme industri: “Reaching a record £11.1tn in assets under management is a significant achievement… against a backdrop of geopolitical tension and market volatility.” Pernyataan itu kuat, tetapi tetap perlu diuji dengan pertanyaan sederhana, yakni seberapa tahan model pertumbuhan ini jika pasar global memasuki fase risk-off berkepanjangan.

Inggris memang punya “deep capital markets” dan jaringan distribusi internasional, namun daya saing tidak hanya ditentukan oleh skala AUM. Keunggulan juga bergantung pada kepercayaan, tata kelola, serta kemampuan melindungi investor ritel dari mis-selling, komunikasi risiko yang menyesatkan, dan euforia produk yang terlalu kompleks.

Rekor £11,1 triliun menunjukkan industri manajemen investasi Inggris sedang berada di puncak gelombang, ditopang ekspansi global dan naiknya peran investor individu. Tetapi gelombang yang sama dapat berubah arah, terutama jika ketergantungan pada modal asing dan optimisme ritel tidak diimbangi ketahanan regulasi dan edukasi yang memadai.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya “berapa besar AUM”, melainkan “siapa yang menanggung risiko ketika pasar jatuh, dan apakah mereka benar-benar paham apa yang dibeli”. Jika investasi memang ingin dibuat lebih inklusif, maka inklusi harus berarti juga perlindungan, bukan sekadar partisipasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)