Denny JA: Kalimantan Menangis Ketika Pohon Menjadi Api dan Langit Menjadi Abu
KALIMANTAN MENANGIS KETIKA POHON MENJADI API DAN LANGIT MENJADI ABU
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Pada suatu malam Agustus 2026, seorang anak di Kalimantan memandang keluar jendela. Matahari belum tenggelam, tetapi langit telah kehilangan warna birunya.
Ibunya menutup jendela rapat-rapat. Namun asap selalu menemukan celah, masuk perlahan seperti tamu gelap yang tak pernah diundang ke dalam rumah.
Sang anak bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar bersama pohon-pohon di kejauhan. Ibunya mungkin tak mempunyai jawaban yang sederhana.
Di luar, orang mengejar api dengan selang dan doa. Di dalam rumah, sebuah keluarga menunggu sesuatu yang tak dapat mereka beli: udara bersih.
Jauh di balik kabut, kehidupan yang dibentuk alam selama ratusan bahkan ribuan tahun sedang kehilangan bentuknya, menjadi arang, lalu terbang sebagai abu.
Pohon menjadi api. Langit menjadi abu. Di antara keduanya, Kalimantan seperti sedang menangis tanpa suara, sementara manusia mulai menghitung harga kehancurannya.
-000-
Tangisan Kalimantan bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah jerit alam yang menjelma asap, menyusup ke paru-paru, lalu mengetuk kesadaran manusia.
Di balik kabut asap, angka-angka mulai berbicara dingin: menghitung hutan yang hilang, kehidupan yang terusir, dan kerugian yang tak seluruhnya dapat dibeli kembali.
Kebakaran Kalimantan 2026 bukan satu api raksasa. Ia lahir dari banyak karhutla ketika cuaca, manusia, dan kerentanan ekologis bertemu pada waktu yang sama.
Pada 20 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.487 hotspot di Kalimantan. Sebanyak 767 berada di Kalimantan Tengah dan 560 lainnya di Kalimantan Barat.
Hotspot bukan luas kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas, sementara satu titik yang tertangkap satelit tetap memerlukan verifikasi di lapangan.
Namun lonjakan titik panas adalah alarm. Lanskap sedang rapuh, ketika kekeringan mengubah daun, ranting, semak, dan lahan terbuka menjadi bahan bakar.
Pada gambut yang kehilangan air, api bahkan dapat menyusup ke bawah tanah. Di permukaan tampak mati, sementara bara diam-diam mencari jalan untuk hidup kembali.
Tetapi cuaca bukan terdakwa tunggal. Dalam sejumlah kejadian yang diselidiki, aktivitas manusia diduga menjadi sumber awal api yang kemudian merembet lebih jauh.
Kapolri menyatakan sejumlah orang diamankan, sebagian diduga terkait pembukaan lahan dengan cara bakar di pinggir konsesi, sebagian lainnya membuka kebun di gambut.
Istilah “bencana alam” karena itu terlalu sederhana. Alam menyediakan kekeringan, manusia dapat menyediakan percikan, sedangkan tata kelola menentukan apakah percikan menjadi bencana.
Kalimantan pernah membaca cerita serupa. Kebakaran besar terjadi pada 1982–1983, kembali pada 1997–1998, kemudian menjadi krisis asap luar biasa pada 2015.
Pada 2015, El Niño dan aktivitas manusia ikut membakar sekitar 2,6 juta hektare lahan Indonesia, menciptakan salah satu krisis asap terburuk dalam sejarah modern.
Mengapa tragedi serupa terus kembali? Salah satu jawabannya menyakitkan karena sederhana: bagi sebagian pelaku, api murah, sedangkan pencegahan terasa lebih mahal.
Keuntungan datang sekarang. Tagihannya dikirim kepada masyarakat melalui asap, penyakit, kehilangan karbon, kerusakan habitat, banjir, serta kehidupan yang semakin rapuh.
Ilmu ekonomi menyebutnya externality. Karhutla bukan sekadar persoalan api, melainkan juga insentif ekonomi, institusi, penegakan hukum, dan cara manusia menghargai alam.
-000-
Satu juta hektare dalam esai ini bukan luas kebakaran Kalimantan 2026. Ia adalah skenario pembanding untuk membayangkan akibat jika api terus membesar.
Satu juta hektare sama dengan sepuluh ribu kilometer persegi. Tetapi angka sebesar itu tetap terlalu kecil untuk menggambarkan seluruh kehidupan yang berada di dalamnya.
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Fungi, serangga, burung, mamalia, mikroba, kesuburan tanah, penyimpan air, dan cadangan karbon ikut terluka.
Yang musnah bukan sekadar makhluk individual. Hubungan antarmakhluk ikut rusak. Burung kehilangan pohon buah, sementara pohon kehilangan penyebar biji dan kesempatan beregenerasi.
Biodiversitas bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah jaringan hubungan yang memungkinkan kehidupan saling menopang, berkembang, dan mempertahankan keberadaannya dari generasi ke generasi.
Bank Dunia mencatat kebakaran Indonesia 2015 membakar sekitar 2,6 juta hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun bagi Indonesia ketika itu.
Jika dibagi sederhana, kerugiannya sekitar Rp85 juta setiap hektare dalam nilai 2015. Maka satu juta hektare menghasilkan orde kerugian sekitar Rp85 triliun.
Namun Rp85 triliun bukan harga hutan. Ia hanyalah bagian kerusakan yang berhasil diterjemahkan manusia ke dalam bahasa uang dan perhitungan ekonomi.
Ilmu ekonomi lingkungan mengenal sesuatu yang lebih dalam daripada harga: irreversibility, kerusakan yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan kepada keadaan sebelumnya.
Gedung dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Pohon dapat ditanam. Tetapi ketika spesies terakhir punah, tidak ada anggaran mampu menghidupkannya kembali.
Sebuah pohon berusia tiga ratus tahun dapat diganti dengan bibit. Namun bibit itu tidak membawa kembali tiga abad kehidupan yang telah tumbuh bersamanya.
Akuntansi mampu menghitung kayu. Ekologi mengingat waktu.
-000-
Dunia pernah menyaksikan api yang jauh lebih luas. Namun membandingkan luas saja menyesatkan karena setiap ekosistem memiliki biodiversitas, kandungan karbon, dan kemampuan pemulihan berbeda.
Pada 2016, Fort McMurray di Kanada terbakar. Sekitar delapan puluh delapan ribu orang mengungsi. Setelah api padam, Kanada meninjau sistem pencegahan dan evakuasinya.
Pelajaran bagi Indonesia bukan meniru Kanada, melainkan kesediaannya belajar. Tragedi dapat menjadi penderitaan sia-sia atau harga mahal menuju sistem yang lebih dewasa.
Dua buku memperluas pelajaran itu. Fire Weather karya John Vaillant menunjukkan perubahan iklim sedang menciptakan kondisi ketika api menjadi semakin mudah membesar.
Sementara The Big Burn karya Timothy Egan menunjukkan bagaimana kebakaran Amerika 1910 ikut mendorong penguatan institusi kehutanan dan konservasi setelah tragedi berlalu.
Keduanya bertemu pada satu pelajaran: kebakaran terbesar bukan ketika api mengalahkan manusia, tetapi ketika setelah api padam, manusia tetap menolak belajar.
-000-
Ketika membaca angka Rp85 triliun, mula-mula saya melihat statistik. Kemudian saya teringat kembali wajah-wajah manusia di balik tragedi asap Indonesia sebelumnya.
Pada 2015, pemerintah mencatat 19 orang meninggal terkait bencana asap. Lebih dari setengah juta kasus infeksi saluran pernapasan akut tercatat sepanjang musim tersebut.
Ada satu gambar dari Kalimantan Tengah pada Oktober 2015 yang sulit dilupakan. Seorang kakak berusia tiga belas tahun menggendong adiknya yang masih bayi.
Bayi tujuh bulan itu menderita infeksi saluran pernapasan. Desa Sei Ahass di Kabupaten Kapuas diselimuti kabut tebal, sementara sekolah-sekolah terpaksa ditutup.
Saya membayangkan orang tuanya. Seperti setiap ayah dan ibu, mungkin mereka hanya menginginkan sesuatu yang sederhana: anaknya bernapas, tidur, bangun, lalu tumbuh dewasa.
Namun pada musim asap, bahkan bernapas dapat menjadi kemewahan. Sebuah keluarga tidak perlu tinggal dekat api untuk menjadi korban kebakaran hutan.
Asap berjalan ratusan kilometer. Ia melewati batas kabupaten dan negara, menyelinap melalui celah jendela, kemudian mencari paru-paru manusia yang paling rapuh.
Kita tidak mengetahui nasib akhir bayi itu. Karena itu, kita tak boleh menciptakan tragedi yang tidak pernah dilaporkan atau mengatakan bahwa ia meninggal.
Tetapi kita tahu sembilan belas keluarga benar-benar kehilangan seseorang, sementara ratusan ribu keluarga lain menjalani malam bersama penyakit akibat asap yang menyelimuti mereka.
“Sembilan belas kematian” berarti sembilan belas kursi kosong di meja makan. “Lima ratus ribu kasus” berarti ratusan ribu malam ketika keluarga hidup dalam kecemasan.
Itulah paradoks statistik. Angka diperlukan untuk mengetahui skala penderitaan, tetapi ketika angka terlalu besar, penderitaan justru dapat kehilangan wajah manusianya sendiri.
Karena itu kita membutuhkan dua bahasa: bahasa angka agar kebijakan menjadi rasional, dan bahasa manusia agar hati kita tidak menjadi kebal.
-000-
Ada kontra argumen yang patut dihormati. Api memang bagian alami beberapa ekosistem, dan manusia telah menggunakan pembakaran untuk mengelola lahan selama ribuan tahun.
Beberapa hutan boreal dan savana berevolusi bersama api. Pembakaran terkendali bahkan dapat menjadi instrumen ekologis apabila dilakukan dengan ilmu dan pengawasan memadai.
Tetapi hutan hujan tropis lembap Kalimantan berbeda. Kebakaran besar berulang bukan proses ekologis yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi dan biodiversitas hutan tersebut.
Kontra argumen berikutnya lebih sulit. Pembangunan memerlukan lahan. Perkebunan, pertanian, tambang, dan infrastruktur menciptakan pekerjaan, ekspor, penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat.
Romantisisme lingkungan yang mengabaikan kemiskinan masyarakat sekitar hutan sama tidak adilnya dengan pembangunan yang menganggap hutan sekadar lahan tanpa nilai ekologis.
Namun pilihan kita bukan hutan atau kemakmuran. Pilihan sebenarnya adalah pembangunan cerdas atau pembangunan yang menyembunyikan sebagian biayanya kepada generasi berikutnya.
Jika keuntungan privat dinikmati hari ini, sementara kesehatan, karbon, banjir, asap, dan biodiversitas dibayar publik, harga pasar hanya menceritakan sebagian kebenaran.
Pembangunan berkelanjutan bukan menolak pertumbuhan. Ia hanya meminta satu kejujuran: jangan menyebut sesuatu keuntungan sebelum seluruh kerugiannya ikut dihitung.
-000-
Karena itu, untuk sebagian kekayaan alam, pencegahan bukan sekadar lebih murah daripada pemadaman. Ia adalah satu-satunya pilihan yang masih benar-benar rasional.
Helikopter, water bombing, dan penegakan hukum diperlukan. Tetapi semuanya datang setelah kegagalan sebelumnya melahirkan api dan memberinya ruang untuk tumbuh semakin besar.
Pertahanan sesungguhnya dimulai sebelum asap terlihat: gambut tetap basah, konsesi diawasi, masyarakat diberi insentif tanpa bakar, dan titik panas segera ditangani.
Karbon, air, biodiversitas, dan jasa ekosistem harus memperoleh tempat nyata dalam keputusan pembangunan agar menjaga hutan menjadi pilihan ekonomi yang rasional.
Namun ekonomi bukan alasan terakhir menyelamatkan hutan. Ada kehidupan yang layak dipertahankan bukan karena menghasilkan uang, tetapi karena kita tak berhak memusnahkannya.
-000-
Kalimantan 2026 belum menjadi Kalimantan 1997. Justru karena belum sebesar itu, kesempatan mencegah sejarah berulang masih berada di tangan kita hari ini.
Setiap kebakaran jutaan hektare pernah bermula sebagai api kecil. Setiap langit kelabu bermula dari asap tipis yang suatu hari dianggap belum mengkhawatirkan.
Itulah jebakan sejarah. Kita menunggu masalah menjadi besar agar layak ditangani, padahal ketika membesar, sebagian kerusakannya tidak lagi dapat dibalik.
Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak helikopter diterbangkan setelah kebakaran. Ukuran sesungguhnya adalah berapa banyak api yang tidak pernah memperoleh kesempatan menjadi besar.
Kemenangan terbaik melawan bencana sering tidak menjadi berita. Hanya ada hutan yang tetap berdiri, langit tetap biru, dan anak-anak yang tetap bernapas.
-000-
Kalimantan bukan gudang kayu. Ia adalah perpustakaan evolusi yang ditulis alam selama jutaan tahun, jauh sebelum manusia mengenal negara, pasar, perusahaan, dan uang.
Setiap pohon adalah halaman. Setiap spesies adalah kalimat. Setiap sungai, burung, serangga, dan mikroorganisme menjadi bagian cerita panjang tentang kehidupan.
Di dalamnya tersimpan gen, obat yang mungkin belum ditemukan, hubungan ekologis, serta bab-bab kehidupan yang bahkan belum sempat dibaca ilmu pengetahuan.
Membakar hutan karena kita belum mengetahui seluruh nilainya sama seperti membakar perpustakaan karena kita belum selesai membaca buku-buku yang tersimpan di dalamnya.
Alam tidak selalu menyimpan salinan. Ada spesies yang hanya hidup di satu tempat. Ketika makhluk terakhir menghilang, sebuah cerita evolusi berakhir selamanya.
Kita dapat menciptakan kecerdasan buatan, menjelajah angkasa, dan membaca kode genetik. Tetapi kita belum mampu memanggil kembali spesies yang benar-benar telah punah.
Di sanalah teknologi perlu belajar rendah hati: tidak semua yang mampu kita rusak akan mampu kita ciptakan kembali setelah ia hilang dari bumi.
-000-
Suatu hari asap Agustus 2026 akan menghilang. Hujan turun, langit kembali biru, berita berganti, kamera pergi, dan manusia kembali kepada kesibukannya.
Tetapi hutan mempunyai jam berbeda. Sesuatu yang musnah dalam beberapa jam mungkin memerlukan seratus tahun, bahkan lebih, untuk mendekati kehidupan sebelumnya.
Satu korek api hanya membutuhkan sedetik untuk menyala. Sebuah hutan membutuhkan berabad-abad untuk menjadi dirinya sendiri dan membangun jaringan kehidupan di dalamnya.
Menyelamatkan hutan karena itu bukan hanya agenda lingkungan. Ia adalah perjanjian moral kita dengan manusia yang hari ini bahkan belum dilahirkan.
Mereka tidak hadir dalam rapat, tidak mempunyai suara dalam pemilu, bahkan belum mempunyai nama. Tetapi merekalah yang kelak mewarisi keputusan kita hari ini.
Jika mereka mengetahui kita memiliki data, ilmu, teknologi, serta pengalaman bencana sebelumnya, mungkin pertanyaan mereka hanya satu: mengapa kalian tidak mencegahnya?
-000-
Karena itu, yang harus kita kerjakan sekarang bukan menunggu api membesar, tetapi membuat kebakaran sulit terjadi sejak awal.
Gambut harus dijaga tetap basah, hotspot ditangani secepat mungkin, konsesi diawasi ketat, dan pembukaan lahan dengan api harus benar-benar dihentikan.
Masyarakat sekitar hutan juga harus memperoleh insentif ekonomi agar menjaga hutan lebih menguntungkan daripada membakarnya atau membiarkannya rusak.
Teknologi satelit, patroli lapangan, penegakan hukum, dan restorasi ekosistem perlu bekerja sebagai satu sistem, bukan sebagai program yang berjalan sendiri-sendiri.
Yang kita perlukan akhirnya bukan sekadar kemampuan memadamkan api, melainkan keberanian membangun ekonomi yang membuat hutan tetap hidup.
-000-
Malam kembali turun di Kalimantan. Saya membayangkan anak di depan jendela itu, masih memandang matahari merah yang samar-samar terlihat di balik kabut.
Ia tidak mengenal externality atau irreversibility. Ia tidak mengetahui berapa triliun kerugian ekonomi atau berapa ton karbon dilepaskan ke udara.
Ia hanya mengetahui sesuatu yang sederhana: udara membuatnya sulit bernapas, ibunya menutup jendela, dan langit yang seharusnya biru telah berubah menjadi abu.
Kadang seorang anak memahami inti bencana sebelum orang dewasa selesai memperdebatkan angka: dunia seperti apa yang hendak kita tinggalkan setelah kita pergi?
Kita boleh menghitung satu juta hektare sebagai kerugian sekitar Rp85 triliun. Tetapi jangan menyangka uang mampu membeli kembali kehidupan dan waktu yang hilang bersamanya.
Kepada anak di balik jendela itu dan manusia yang belum dilahirkan, kita mempunyai utang moral: meninggalkan bumi yang masih layak mereka cintai.
Sebab alam bukan warisan yang bebas kita habiskan. Ia adalah titipan dari masa lalu yang suatu hari harus kita serahkan kepada masa depan.
Manusia dapat menanam kembali pohon. Tetapi manusia tidak pernah dapat menanam kembali waktu yang telah berubah menjadi abu.*
Jakarta, 23 Agustus 2026
REFERENSI
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Laporan Harian Kebakaran Hutan dan Lahan, 20 Agustus 2026. Jakarta: BNPB, 2026.
Timothy Egan. The Big Burn: Teddy Roosevelt and the Fire that Saved America. Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2009.
John Vaillant. Fire Weather: A True Story from a Hotter World. New York: Alfred A. Knopf, 2023.
World Bank. The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia’s 2015 Fire Crisis. Jakarta: World Bank Group, 2016.
World Bank & Kementerian Kesehatan RI. Estimasi Biaya Kesehatan Musim Asap 2015 di Sumatera dan Kalimantan. Jakarta: World Bank Indonesia, 2016.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Data Karhutla Historis Indonesia 1982–2015. Jakarta: KLHK, 2016.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.
https://www.facebook.com/share/p/18jiffnoV5/?mibextid=wwXIfr