Manohara Odelia Pilih Hidup Minimalis, Tolak Tren Fashion dan Gadget

detikHOT

detikHOT

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Manohara Odelia menjalani hidup minimalis dengan menolak ikut tren fashion dan gadget yang berganti cepat. Ia menegaskan sikap anti-overconsumption demi lingkungan dan demi kantong yang lebih aman.

Di tengah budaya pamer dan dorongan membeli versi terbaru, minimalisme kembali muncul sebagai perlawanan yang sunyi. Manohara, yang pernah lekat dengan citra glamor, memilih jalur sebaliknya di ruang publik.

Dalam acara di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (28/6/2026), ia menyebut perempuan kerap terbawa tren fashion dan teknologi. Ia menekankan pentingnya tidak menjadi pribadi yang “overconsumptive”.

Pernyataan itu terasa relevan karena industri fesyen dan teknologi bekerja dengan ritme musiman dan siklus rilis cepat. Konsumen didorong merasa tertinggal, lalu membeli untuk mengejar validasi sosial.

Manohara mengaku banyak bajunya berumur 5 sampai 10 tahun, sebuah pilihan yang menabrak logika fast fashion. Ia tidak menempatkan “baru” sebagai syarat tampil layak, melainkan menempatkan “cukup” sebagai standar.

Pada sektor fesyen, data UNEP kerap dikutip bahwa industri fashion menyumbang sekitar 8–10% emisi gas rumah kaca global. Tekanan produksi massal juga berkaitan dengan limbah tekstil, konsumsi air, dan praktik kerja yang rapuh di rantai pasok.

Di ranah gawai, Manohara memilih mengganti ponsel hanya ketika benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai. Sikap ini sejalan dengan isu e-waste, karena Global E-waste Monitor 2024 (UNITAR/ITU) melaporkan dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik pada 2022.

Masalahnya bukan sekadar jumlah sampah, tetapi juga bagaimana sampah itu dikelola. Banyak perangkat mengandung material bernilai seperti emas dan tembaga, namun tingkat daur ulang global masih jauh dari ideal menurut laporan yang sama.

Jika konsumsi adalah mesin ekonomi, maka overconsumption adalah mode “turbo” yang menagih biaya lingkungan. Manohara menautkan dua hal yang sering dipisahkan, yakni dampak ekologis dan kesehatan finansial, ketika ia berkata pilihan itu “helps our pockets as well”.

Minimalisme versi ini bukan anti-teknologi atau anti-gaya, melainkan anti-pemborosan. Ia memindahkan fokus dari identitas yang dibangun lewat barang, menjadi identitas yang dibangun lewat keputusan.

Yang membuat pernyataan Manohara menarik adalah keberaniannya menolak mekanisme gengsi yang sering mengunci publik figur. Ia menunjukkan bahwa pengaruh tidak harus selalu berarti “mengiklankan yang baru”, tetapi bisa berarti “menormalisasi yang cukup”.

Namun minimalisme juga rawan jadi estetika kosong bila hanya berhenti pada narasi pribadi. Tanpa perubahan sistem, konsumen yang ingin bertahan memakai barang lama tetap berhadapan dengan desain produk yang sulit diperbaiki, suku cadang mahal, dan pembaruan perangkat lunak yang memaksa.

Di titik ini, suara selebritas bisa menjadi pemantik diskusi yang lebih tajam tentang hak untuk memperbaiki (right to repair) dan transparansi rantai pasok. Konsumsi bijak perlu didorong bersamaan dengan tanggung jawab produsen, bukan dibebankan sepenuhnya ke individu.

Meski begitu, pilihan Manohara tetap punya nilai politis yang halus karena ia menolak logika “beli untuk merasa ada”. Ia mengingatkan bahwa gaya hidup minimalis bukan hukuman, melainkan cara mengembalikan kendali atas hidup yang sering disetir iklan.

Manohara Odelia menempatkan hidup minimalis sebagai tanggung jawab moral, bukan tren baru yang segera lewat. Ia menegaskan bahwa menunda pembelian dan memanjangkan usia pakai barang adalah tindakan kecil yang berdampak besar.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita mampu membeli yang terbaru, tetapi apakah kita berani berhenti saat sudah cukup. Jika satu orang publik figur saja bisa memulai, mengapa kita tidak mulai dari lemari dan ponsel kita sendiri?

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)