Survei DBD Surabaya Ungkap Celah PSN, ABJ Kalijudan Belum Merata

cakrawarta

cakrawarta

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Survei DBD Surabaya di Kelurahan Kalijudan menunjukkan Angka Bebas Jentik (ABJ) belum merata, meski pengetahuan warga tentang demam berdarah dengue tergolong baik. Mahasiswa Epidemiologi FKM UNAIR menemukan sebagian RT masih di bawah target nasional ABJ 95% dan kebiasaan PSN 3M Plus belum konsisten.

Demam berdarah dengue tetap menjadi ancaman musiman di kota padat seperti Surabaya, terutama ketika ruang hidup warga dipenuhi wadah penampung air kecil. Di titik inilah pencegahan DBD sering tampak sederhana di atas kertas, tetapi rumit dalam praktik harian.

Survei lapangan dilakukan mahasiswa Peminatan Epidemiologi 2026 FKM UNAIR pada 19 Juni 2026 di wilayah kerja Puskesmas Kalijudan. Mereka memakai kuesioner Knowledge, Attitude, Practice (KAP) dan observasi kontainer air untuk menilai risiko jentik Aedes aegypti.

Delapan kelompok mahasiswa memeriksa sedikitnya 10 rumah per wilayah, didampingi Kader Surabaya Hebat (KSH). Pemeriksaan menyasar bak mandi, ember, pot bunga, tempat minum hewan, talang air, hingga wadah bekas yang sering luput.

Hasilnya memperlihatkan ketimpangan antar-RT yang tajam, sekaligus memotret titik lemah yang berulang dalam program pencegahan DBD Surabaya. Dari delapan lokasi, hanya RT 2 RW 4 dan RT 3 RW 5 yang mencapai ABJ 100%.

Di sisi lain, RT 1 RW 4 dan RT 4 RW 5 hanya mencatat ABJ 80%, artinya satu dari lima rumah yang diperiksa masih menyimpan kontainer berjentik. Angka ini jelas di bawah target nasional ABJ 95% yang menjadi rujukan Kementerian Kesehatan.

Laura Navika Yamani, pembimbing kegiatan, menegaskan bahwa pengetahuan tinggi tidak otomatis berubah menjadi kebiasaan pencegahan. “Survei juga mengungkap bahwa tingginya pengetahuan masyarakat belum selalu diikuti perilaku pencegahan yang memadai,” ujarnya.

Temuan penting lain adalah bias strategi: sebagian warga masih menempatkan fogging sebagai solusi utama. Padahal fogging lebih efektif membunuh nyamuk dewasa pada momen tertentu, sementara sumber masalah sering berada pada jentik yang terus lahir dari kontainer air.

Di tingkat rumah, celah paling sering muncul pada benda kecil yang dianggap “tidak signifikan”. Vas bunga, tempat minum hewan, talang air, dan wadah bekas menjadi semacam “ruang buta” yang tidak tersentuh saat bersih-bersih.

Penggunaan larvasida atau abate juga dilaporkan belum rutin, sehingga siklus jentik dapat berulang dengan cepat. Ketika rutinitas PSN 3M Plus tidak disiplin, satu kontainer saja cukup menjadi pusat produksi nyamuk di lingkungan padat.

Secara epidemiologis, ABJ rendah di satu kantong RT bisa mengganggu wilayah sekitar karena mobilitas nyamuk dan manusia tidak mengenal batas administrasi. Artinya, keberhasilan dua RT dengan ABJ 100% tetap rentan jika tetangganya menyisakan “pabrik jentik” yang aktif.

Seminar hasil di Puskesmas Kalijudan pada 23 Juni 2026 mempertemukan mahasiswa, dosen, penanggung jawab program DBD, dan KSH. Forum ini penting karena mengubah data lapangan menjadi rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti, bukan sekadar laporan akademik.

Survei ini seperti cermin yang jujur: Surabaya tidak kekurangan pengetahuan, tetapi kekurangan kebiasaan yang konsisten. Di banyak kampanye kesehatan, edukasi sering dianggap garis finis, padahal itu baru garis start.

Ketergantungan pada fogging menunjukkan cara berpikir reaktif, bukan preventif. Fogging terasa “terlihat” dan cepat, sementara PSN 3M Plus menuntut disiplin sunyi yang hasilnya tidak selalu dramatis.

Di sinilah tantangan kebijakan publik muncul: program pencegahan DBD Surabaya perlu didesain untuk memudahkan perilaku, bukan hanya menambah informasi. Insentif sosial, jadwal pemeriksaan berkala, dan pengawasan kontainer kecil harus menjadi rutinitas warga, bukan proyek sesaat.

Kader Surabaya Hebat berperan sebagai jembatan, tetapi mereka tidak bisa bekerja sendirian tanpa sistem yang menempel pada kehidupan sehari-hari. Jika rumah tangga tidak menjadikan “cek jentik” sebagai kebiasaan mingguan, maka ABJ 95% hanya akan menjadi angka target di dokumen.

Kalijudan memberi pelajaran sederhana: DBD sering menang bukan karena warga tidak tahu, melainkan karena warga lengah pada hal-hal kecil yang berulang. Satu vas, satu talang, atau satu wadah bekas dapat mengalahkan seribu poster edukasi.

Jika pencegahan DBD Surabaya ingin benar-benar kuat, fokusnya harus bergeser dari pengetahuan menuju konsistensi perilaku, dari seremoni menuju rutinitas. Pertanyaannya kini bukan “sudah tahu 3M Plus atau belum,” melainkan “berapa kali minggu ini rumah kita benar-benar bebas jentik.”

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)