Dua Lipa Buka Manifesto Library, Perpustakaan Buku Terlarang
ORBITINDONESIA.COM – Dua Lipa membuka Manifesto Library di Porto, Portugal, sebuah perpustakaan buku terlarang yang mengumpulkan hampir 100 judul yang pernah dilarang atau disensor. Di ruang yang menetap di Livraria Lello itu, publik diajak menilai sendiri mengapa literasi kerap dianggap ancaman oleh kekuasaan.
Manifesto Library lahir di tengah gelombang baru pelarangan buku yang kembali menguat di banyak negara. Tema yang sering jadi sasaran biasanya berkaitan dengan ras, seksualitas, politik, dan pengalaman LGBTQIA+.
Dua Lipa menegaskan membaca bisa “mendekatkan kita dengan dunia”, tetapi tidak semua pihak menginginkan kedekatan itu. Ia menyebut ada buku yang dilarang di sekolah, ada yang dilarang dipajang, bahkan ada penulis yang membayar gagasannya “dengan nyawa”.
Perpustakaan ini dibuka sebagai bagian dari festival BABELL – City of Books dan menjadi koleksi permanen di Livraria Lello. Kolaborasi itu ia sebut sebagai mimpi yang terwujud setelah bertahun-tahun menjalankan misi literasi melalui Service95 Book Club.
Secara simbolik, keputusan menaruh koleksi ini di Livraria Lello penting karena toko buku itu adalah ikon pariwisata literasi Eropa. Ketika “buku terlarang” dipindahkan dari ruang sembunyi ke ruang publik, sensor dipaksa tampil sebagai persoalan politik, bukan sekadar urusan kurasi.
Koleksi Manifesto Library dikelompokkan dalam empat tema: kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan. Pengelompokan ini menyiratkan bahwa pelarangan buku jarang terjadi karena kualitas tulisan, melainkan karena buku mengganggu cara otoritas mengelola warga.
Judul-judul seperti The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood menegaskan bagaimana fiksi bisa menjadi cermin ketakutan rezim terhadap tubuh dan pilihan perempuan. Kehadiran karya Salman Rushdie mengingatkan bahwa ancaman pada penulis bukan metafora, melainkan realitas yang pernah berujung kekerasan.
Di banyak tempat, pelarangan buku sering dibungkus narasi “melindungi anak” atau “menjaga moral”. Namun pola yang berulang menunjukkan targetnya adalah bahasa yang memberi nama pada ketidakadilan, karena sesuatu yang bisa dinamai akan lebih mudah dilawan.
Di sini peran selebritas menjadi menarik karena ia membawa isu literasi ke ruang yang biasanya dikuasai algoritma hiburan. Service95 Book Club yang merekomendasikan satu buku per bulan dan mewawancarai penulis di podcast menunjukkan strategi yang relevan dengan kebiasaan konsumsi konten hari ini.
Meski begitu, perpustakaan semacam ini juga menghadapi risiko menjadi atraksi estetika semata. Tantangannya adalah memastikan pengunjung tidak berhenti pada sensasi “buku yang dilarang”, melainkan masuk ke diskusi tentang siapa yang melarang, dengan alasan apa, dan siapa yang diuntungkan.
Manifesto Library terasa seperti pernyataan bahwa membaca adalah tindakan warga, bukan sekadar hobi pribadi. Ketika kekuasaan ingin mengatur ingatan dan suara, rak buku berubah menjadi medan politik yang paling sunyi.
Ajakan Dua Lipa agar orang datang dan “menentukan sendiri” buku mana yang layak berada di rak adalah kritik halus pada budaya pelabelan. Di banyak masyarakat, label “berbahaya” sering ditempelkan lebih cepat daripada proses membaca yang jujur.
Namun ada ironi yang perlu diakui: buku yang dilarang sering justru naik pamor karena efek Streisand. Perpustakaan ini dapat menjadi bukti bahwa sensor bukan hanya gagal, tetapi juga memperlihatkan ketakutan penguasa pada imajinasi publik.
Yang paling tajam dari proyek ini adalah kalimatnya: terkadang tindakan paling berani adalah membaca sebuah buku, lalu membicarakannya. Keberanian itu sederhana, tetapi efeknya bisa merembet ke ruang kelas, ruang keluarga, dan ruang kebijakan.
Perpustakaan buku terlarang milik Dua Lipa bukan sekadar daftar bacaan, melainkan peta konflik antara pengetahuan dan kontrol. Ia mengingatkan bahwa literasi tidak pernah netral ketika berhadapan dengan kekuasaan yang ingin menentukan apa yang boleh dipikirkan.
Pertanyaannya kini bergeser: apakah kita datang untuk berfoto di antara rak, atau untuk menanggung konsekuensi dari ide yang kita baca. Jika membaca saja sudah dianggap berani, barangkali yang perlu kita selidiki bukan bukunya, melainkan rasa takut yang membuatnya dilarang.
(Orbit dari berbagai sumber, 10 Juli 2026)