Kosmologi Baru Thomas Berry: Manusia sebagai Bagian dari Alam Semesta
ORBITINDONESIA.COM - Kosmologi baru Thomas Berry adalah gagasan tentang alam semesta yang tidak hanya mengajak kita memahami bagaimana alam semesta terbentuk, tetapi juga bagaimana manusia seharusnya hidup sebagai bagian dari alam semesta itu.
Berry menilai bahwa krisis lingkungan modern bukan semata-mata akibat teknologi atau kebijakan yang salah. Ada persoalan yang lebih mendasar: cara manusia memandang dirinya sendiri dan hubungannya dengan Bumi.
Thomas Berry (1914–2009) adalah sejarawan agama dan pemikir ekologi asal Amerika Serikat. Bersama kosmolog Brian Swimme, ia mengembangkan narasi tentang perjalanan alam semesta dalam buku The Universe Story (1992). Gagasannya dikenal melalui istilah New Cosmology, New Story, dan Universe Story, meskipun ketiganya tidak selalu persis sama maknanya.
1. Apa yang dimaksud dengan Kosmologi Baru?
Bagi Berry, manusia membutuhkan sebuah cerita besar yang dapat menjelaskan asal-usul alam semesta, posisi manusia di dalamnya, serta tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Ia menyebut kebutuhan ini sebagai New Story atau “Cerita Baru”.
Berry berpendapat bahwa masyarakat modern sedang berada di antara dua cerita besar. Di satu sisi, ada kisah penciptaan yang diwariskan tradisi agama. Di sisi lain, ada kisah ilmiah tentang alam semesta yang berkembang melalui proses kosmik, pembentukan bintang dan planet, evolusi kehidupan, hingga kemunculan manusia.
Masalahnya, kedua cara memahami dunia itu kerap berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan ilmiah menjelaskan proses alam, tetapi belum tentu memberikan orientasi moral tentang bagaimana manusia harus memperlakukan Bumi. Sementara itu, pemahaman keagamaan bisa kehilangan relevansi ekologis apabila tidak dihubungkan dengan pengetahuan tentang perkembangan alam semesta dan kehidupan.
Berry ingin membangun pandangan yang menyatukan pengetahuan ilmiah, refleksi filosofis, spiritualitas, dan etika lingkungan. Kosmologi bukan sekadar teori tentang bintang, galaksi, atau asal-usul alam semesta, melainkan juga landasan untuk menentukan cara manusia hidup.
2. Apa bedanya dengan kosmologi sebelumnya?
Perbedaannya paling mudah dipahami dengan membandingkan tiga cara pandang. Perlu dicatat, “kosmologi sebelumnya” bukan satu teori tunggal. Berry mengkritik terutama pandangan modern yang mekanistik dan antroposentris, tanpa menganggap semua tradisi agama atau pemikiran lama memiliki pandangan yang sama.
A. Kosmologi mekanistik
Alam semesta dipahami terutama sebagai sistem fisik yang dapat dijelaskan melalui hukum, sebab-akibat, dan mekanisme alam. Alam dapat dipelajari, diukur, diprediksi, dan dimanfaatkan manusia.
Pertanyaan utama: bagaimana alam bekerja?
B. Kosmologi tradisional atau religius
Alam semesta dipahami melalui kisah penciptaan, mitos, filsafat, atau ajaran agama. Alam mempunyai makna yang melampaui benda fisik, dan manusia menempatkan dirinya dalam hubungan dengan Tuhan atau tatanan kosmis.
Pertanyaan utama: dari mana kita berasal dan apa makna keberadaan kita?
C. Kosmologi baru Thomas Berry
Alam semesta merupakan proses evolusi yang dinamis dan saling terhubung. Manusia bukan penguasa yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari komunitas kehidupan Bumi yang mempunyai tanggung jawab terhadap keberlanjutannya.
Pertanyaan utama: bagaimana kita menjadi bagian dari alam semesta dan hidup secara bertanggung jawab di dalamnya?
Perbandingan tersebut merupakan penyederhanaan untuk membantu memahami gagasan Berry. Ia tidak menolak ilmu pengetahuan modern atau seluruh tradisi agama. Justru ia ingin mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan makna, nilai, dan tanggung jawab etis.
3. Empat gagasan pokok Thomas Berry
Pertama, alam semesta terus berkembang.
Alam semesta bukan panggung yang sejak awal sudah selesai dibentuk dan hanya menjadi tempat manusia hidup. Ia mengalami transformasi selama miliaran tahun: dari proses kosmik, terbentuknya bintang dan unsur kimia, lahirnya Bumi, berkembangnya kehidupan, hingga kemunculan manusia. Sejarah alam semesta dan sejarah manusia merupakan bagian dari satu rangkaian panjang.
Kedua, manusia bukan pusat tunggal alam semesta.
Berry mengkritik antroposentrisme, yaitu pandangan yang menempatkan kepentingan manusia sebagai ukuran utama nilai segala sesuatu. Manusia memang memiliki kemampuan berpikir dan tanggung jawab moral yang khas, tetapi itu tidak berarti makhluk lain hanya bernilai sejauh berguna bagi manusia.
Hutan, sungai, satwa liar, dan ekosistem mempunyai arti dalam komunitas kehidupan, bukan sekadar sebagai bahan baku industri atau sumber keuntungan ekonomi.
Ketiga, alam bukan sekadar kumpulan objek.
Salah satu gagasan Berry yang terkenal adalah bahwa alam semesta lebih tepat dipahami sebagai “communion of subjects” daripada “collection of objects”. Maksudnya, alam semesta bukan hanya kumpulan benda mati yang terpisah-pisah, melainkan jaringan keberadaan yang saling berhubungan.
Sebagai contoh, hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang dapat dihitung nilai kayunya. Hutan juga merupakan habitat satwa, penyimpan karbon, pengatur tata air, bagian dari siklus iklim, serta ruang hidup masyarakat. Merusak hutan berarti mengganggu jaringan hubungan yang menopang kehidupan.
Keempat, manusia memiliki tanggung jawab ekologis.
Berry menggunakan istilah Ecozoic Era untuk menggambarkan arah peradaban yang membangun hubungan saling mendukung antara manusia dan komunitas Bumi. Kemajuan tidak cukup diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi, penguasaan teknologi, atau peningkatan konsumsi. Kemajuan juga perlu dinilai dari kemampuannya menjaga keberlangsungan kehidupan.
Dengan kata lain, manusia perlu beralih dari pola pembangunan yang merusak fondasi ekologisnya menuju pola hidup dan institusi yang memungkinkan manusia serta makhluk lain berkembang bersama.
4. Apa implikasinya bagi agama dan kehidupan manusia?
Di sinilah pemikiran Berry menjadi menarik. Ia tidak sekadar mengajukan teori lingkungan, tetapi juga mempertanyakan cara manusia memahami dirinya secara filosofis dan spiritual.
Dalam pandangan yang sangat antroposentris, alam mudah diperlakukan sebagai sesuatu yang disediakan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam kosmologi baru Berry, manusia tetap penting, tetapi kedudukannya dipahami sebagai bagian dari komunitas kehidupan yang lebih luas.
Bagi pemikiran keagamaan, pendekatan ini membuka ruang untuk menafsirkan kembali tanggung jawab manusia terhadap ciptaan.
Bagi ilmu pengetahuan, pendekatan ini mengingatkan bahwa pengetahuan tentang cara kerja alam perlu disertai pertimbangan mengenai bagaimana pengetahuan itu digunakan.
Bagi ekonomi dan politik, pendekatan ini menuntut agar kebijakan pembangunan memperhitungkan dampak ekologis jangka panjang.
Namun, perlu dibedakan bahwa gagasan tentang alam semesta yang saling terhubung merupakan kerangka filosofis dan etis Berry, bukan kesimpulan ilmiah bahwa semua unsur alam mempunyai kesadaran seperti manusia. Tafsir bahwa seluruh alam semesta memiliki dimensi spiritual atau subjektivitas juga merupakan bagian yang diperdebatkan dalam pemikiran kosmologisnya.
Kesimpulan
Perbedaan mendasar kosmologi baru Thomas Berry dengan pandangan yang dikritiknya terletak pada perubahan posisi manusia: dari pihak yang memandang alam sebagai objek untuk dikuasai menjadi anggota komunitas kehidupan yang mempunyai tanggung jawab terhadap keseluruhan Bumi.
Jika kosmologi fisik bertanya bagaimana alam semesta bekerja, Berry mengajak kita melanjutkan pertanyaan itu: setelah memahami cara alam bekerja, bagaimana seharusnya kita hidup?
Bagi Berry, krisis lingkungan bukan hanya krisis hutan, iklim, air, atau keanekaragaman hayati. Krisis itu juga menunjukkan bahwa cara manusia memahami kemajuan dan tempatnya di alam semesta perlu ditinjau kembali.
Itulah inti New Cosmology: bukan menggantikan sains dengan spiritualitas, melainkan menghubungkan pengetahuan tentang alam semesta dengan kesadaran moral tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan dunia yang menjadi rumah bersama seluruh kehidupan. ***