Pemilu Presiden Kolombia Memanas: De la Espriella Unggul Tipis
ORBITINDONESIA.COM – Pemilu presiden Kolombia memasuki babak paling tegang ketika Abelardo de la Espriella unggul sangat tipis atas Iván Cepeda dalam putaran kedua. “Yang mengkhawatirkan saya adalah polarisasi… ada dua sisi yang sangat ekstrem,” kata John Manrique di Bogotá, seraya mengingatkan agar warga menerima hasil tanpa kekerasan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Dalam hasil sementara 99,9% suara, De la Espriella meraih 49,7% dan Cepeda 48,7%, sementara otoritas pemilu belum mengumumkan pemenang resmi. Cepeda menyatakan timnya akan menggugat hasil dari lebih 30.000 TPS, meski dalam sejarah Kolombia belum ada penghitungan ulang yang membalikkan hasil pilpres. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Kontestasi ini mempertemukan dua kutub yang sama-sama memainkan memori ketakutan publik tentang konflik internal yang dapat menyala lagi. Lebih dari 41 juta warga memenuhi syarat memilih, dan banyak di antaranya datang dengan kecemasan yang sama: keamanan, ekonomi rumah tangga, dan kepercayaan pada sistem. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Cepeda adalah senator kiri jauh dari partai berkuasa Pacto Histórico, sekaligus pewaris kebijakan Presiden Gustavo Petro. De la Espriella adalah pengusaha dan pengacara kanan jauh, pendatang baru politik yang meniru gaya retorika Donald Trump dan Nayib Bukele, serta mendapat dukungan Trump. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Isu keamanan menjadi pusat gravitasi pemilu presiden Kolombia karena kekerasan kembali meningkat setelah harapan damai 2016. Sepuluh tahun setelah perjanjian damai dengan FARC, banyak kelompok bersenjata beralih dari ideologi ke insentif ekonomi perdagangan narkoba. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Data resmi mencatat 14.780 pembunuhan tahun lalu, tertinggi setidaknya sejak 2015, dipicu bentrokan antarkelompok bersenjata ilegal. Kasus pemerasan juga melonjak menjadi 13.417 pada 2025, lebih dari dua kali lipat dibanding 2015, menandakan negara belum memulihkan monopoli kekerasan yang sah. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
De la Espriella menawarkan pendekatan “tangan besi” dan berjanji membangun 10 mega-penjara, meniru model Bukele yang menurunkan pembunuhan namun menuai tuduhan pelanggaran HAM. Ia bahkan berpidato di balik kaca antipeluru di Barranquilla, menyatakan akan memerintah tanpa “pembalasan” dan “persekusi,” meski pemenang belum ditetapkan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Cepeda menjanjikan kelanjutan agenda “perdamaian total” Petro melalui dialog dengan banyak kelompok bersenjata, walau upaya itu banyak dinilai gagal. Terobosan pertama baru terjadi Kamis lalu ketika satu kelompok bersenjata beranggotakan sekitar 100 orang menyerahkan senjata, sementara total anggota kelompok ilegal diperkirakan lebih dari 27.000. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di luar keamanan, kedua kandidat menawarkan resep berbeda untuk sistem kesehatan yang terseok, utang publik yang membengkak, dan korupsi yang mengakar. Namun narasi kampanye menunjukkan isu-isu itu sering kalah oleh politik ketakutan: siapa paling mampu mencegah bom mobil, penculikan, penghilangan, dan pengungsian paksa yang membayangi ingatan kolektif. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Polarisasi makin tajam karena tuduhan kecurangan dan campur tangan asing ikut menyulut emosi. Petro kembali meragukan hasil, berjanji membeberkan “akun dan dana” dari luar negeri, sementara ia menyebut dukungan Trump kepada De la Espriella sebagai bentuk intervensi dan memperingatkan potensi kekerasan politik bila kanan berkuasa. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di tingkat warga, kegelisahan itu terlihat dari tindakan kecil yang simbolik namun politis. Yolanda Hernández menjual pulpen tinta hitam di TPS Bogotá karena tinta sulit dihapus dari surat suara, dan ia mengaku beralih dari memilih Petro pada 2022 menjadi memilih De la Espriella karena biaya hidup makin mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Pemilu presiden Kolombia kali ini tampak seperti referendum tentang cara “menutup” konflik, bukan cara “membangun” negara. Pilihannya dipersempit menjadi dua ekstrem: negosiasi yang lamban dan rapuh, atau penindakan yang cepat namun berisiko mengulangi siklus kekerasan serta pelanggaran. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Janji tangan besi terdengar menggoda di tengah statistik pembunuhan dan pemerasan yang naik, tetapi negara bukan sekadar penjara yang diperbesar. Fernando Lozano mengingatkan pendekatan konfrontatif pernah gagal, dan “tidak semudah” menyelesaikan semua dalam enam bulan karena butuh bertahun-tahun, apalagi menghadapi ekonomi ilegal yang menghidupi kelompok bersenjata. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di sisi lain, “perdamaian total” juga menanggung beban kredibilitas karena kemajuan yang lambat dapat terbaca sebagai kelemahan negara. Ketika satu kelompok kecil baru menyerah setelah bertahun proses, publik wajar bertanya apakah strategi dialog mampu mengimbangi laju rekrutmen dan fragmentasi kelompok bersenjata. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Polarisasi menjadi bahaya kedua setelah kekerasan, karena ia mengikis ruang kompromi dan memperbesar kecurigaan pada hasil pemilu. Cepeda menuduh De la Espriella terkait paramiliter dan melapor ke Kejaksaan Agung serta ICC, sementara De la Espriella membantah, dan pertarungan hukum berpotensi memperpanjang ketidakpastian. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi narasi “musuh” dalam demokrasi, padahal negara memerlukan legitimasi bersama untuk memerintah. Manrique menyuarakan harapan sederhana namun krusial: siapa pun yang menang harus diterima, karena jalanan yang panas bisa mengubah polarisasi menjadi kekerasan nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Pemilu presiden Kolombia menunjukkan bahwa keamanan, ekonomi, dan kepercayaan publik saling mengunci dalam satu simpul yang sulit diurai. De la Espriella unggul tipis, Cepeda bersiap menggugat, dan negara menunggu apakah transisi politik akan berjalan damai atau justru membuka babak baru ketegangan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di titik ini, pertanyaan kuncinya bukan hanya siapa yang menang, melainkan bagaimana pemenang memerintah tanpa mempermalukan separuh pemilih lainnya. Jika demokrasi berubah menjadi medan balas dendam, maka ketakutan lama tentang konflik internal akan menemukan jalannya kembali. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Kolombia membutuhkan keberanian yang lebih sulit daripada retorika: membangun keamanan tanpa mengorbankan hak, dan membangun perdamaian tanpa mengabaikan rasa keadilan. Mungkin ujian terbesar pemilu ini adalah apakah warga dan elite mampu menahan diri, lalu memaksa negara bekerja untuk semua, bukan untuk kubu yang paling keras berteriak. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)