Kantor Ramah Hewan Peliharaan: Strategi Budaya Kerja Mars India

ANI News

ANI News

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kantor ramah hewan peliharaan kini bukan sekadar gimmick HR, melainkan strategi budaya kerja yang dipakai Mars Pet Nutrition India. Lewat perayaan Bring Your Pet to Work Day dan aksi “LinkedIn takeover”, perusahaan ini menegaskan bahwa pet friendly workplace bisa menjadi bahasa baru untuk wellbeing dan retensi talenta. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Di banyak kantor, hewan peliharaan masih dianggap gangguan, alergi, atau risiko kebersihan. Namun Mars Pet Nutrition India justru menempatkan hewan sebagai bagian dari identitas kerja harian, bukan tamu musiman. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Manish Syag, Managing Director Mars Pet Nutrition India, menyebut “pets are at the centre of what we do every single day” dan mengaitkannya dengan misi “A Better World for Pets”. Pernyataan itu penting karena mengubah “budaya kantor” menjadi perpanjangan dari model bisnis, bukan sekadar fasilitas karyawan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Simbol paling nyata ada pada Maya dan Mia, dua “pet associates” yang diadopsi dan hidup di lingkungan kantor. Narasi adopsi ini membangun kesan bahwa keberpihakan pada hewan bukan slogan, melainkan praktik yang terlihat. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Dalam perayaan Bring Your Pet to Work Day, Mars India membuat “workplace takeover” dari meja kerja hingga LinkedIn. Profil profesional diganti persona hewan dengan jabatan seperti “Chief Barketing Officer” atau “Treat Acquisition Expert”. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Secara komunikasi, ini adalah kampanye internal yang sengaja dibuat viral, agar kultur terasa hidup dan dapat dibagikan. LinkedIn menjadi panggung yang cerdas karena ia menyasar dua target sekaligus: karyawan yang ingin diakui, dan pasar tenaga kerja yang ingin diyakinkan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Data yang dikutip perusahaan memperkuat klaim, meski perlu dibaca kritis karena berasal dari laporan internal merek. Dalam “Pet Friendly Advantage 2026 Workplace Report” berbasis survei 16.000 pekerja di 16 pasar Eropa, 55% mempertimbangkan pindah kerja jika bisa membawa hewan, dan 81% menilai hewan membuat suasana lebih rileks. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Angka itu memberi sinyal bahwa pet friendly office bukan hanya isu kenyamanan, tetapi juga kompetisi talenta. Jika benar separuh pekerja bersedia pindah demi akses membawa hewan, maka fasilitas ini bisa menjadi “benefit” yang nilainya menyaingi kenaikan gaji kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Di India, Mars juga mengutip studi Mars x Calm tentang dampak hewan pada kebiasaan kerja. Disebutkan 93% pemilik hewan terdorong mengambil jeda kerja, 92% lebih mudah lepas dari layar, 88% terbantu mengurangi cemas dan overthinking, serta 79% merasakan dampak positif pada wellbeing mental. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Namun angka-angka tersebut perlu konteks: respondennya adalah “pet parents”, sehingga bias positif sangat mungkin terjadi. Meski begitu, tren besarnya tetap relevan, karena kantor modern memang sedang mencari cara murah dan manusiawi untuk meredam burnout. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Veronika Kraus, Director P&O Mars Pet Nutrition India, menekankan kultur dibangun dari pengalaman harian, dan hewan membuat orang “connect more openly”. Pesan ini mengarah pada isu yang lebih besar: rasa memiliki (belonging) kini menjadi mata uang produktivitas. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Sudut tajamnya ada di sini: ketika perusahaan makanan hewan mempromosikan kantor ramah hewan, itu sekaligus strategi brand dan strategi HR. Maya dan Mia adalah simbol empati, tetapi juga “bukti hidup” yang memperkuat positioning bisnis pet nutrition. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Ini bukan berarti inisiatifnya buruk, justru bisa menjadi contoh integrasi purpose yang konsisten. Tetapi publik perlu jeli membedakan antara kultur yang benar-benar aman bagi semua orang dan kultur yang sekadar “instagrammable”. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Kantor ramah hewan peliharaan juga punya sisi yang sering tak dibicarakan: alergi, fobia, kebisingan, hingga risiko insiden. Jika perusahaan ingin serius, maka kebijakan harus jelas, mulai dari area steril, protokol kebersihan, asuransi, hingga pelatihan pemilik hewan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Di sisi lain, “LinkedIn takeover” memperlihatkan perubahan cara kita memaknai profesionalisme. Profesional tidak lagi berarti kaku dan steril, melainkan mampu bekerja baik sambil tetap utuh sebagai manusia yang punya relasi emosional di rumah. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Jagadeesh Konathala, Chief Digital Information Officer, menyebut budaya ini membuat kantor “special” karena “pets truly belong”. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyiratkan pergeseran besar: tempat kerja yang baik kini dinilai dari kapasitasnya merawat kehidupan, bukan hanya mengejar target. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Mars Pet Nutrition India menunjukkan bahwa pet friendly workplace dapat menjadi alat membangun kebersamaan, menurunkan ketegangan, dan memperkuat identitas perusahaan. Namun keberhasilan sejatinya bukan pada satu hari perayaan, melainkan pada tata kelola yang adil bagi pemilik hewan dan non-pemilik hewan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)

Pertanyaan reflektifnya: jika hewan bisa membuat kantor lebih manusiawi, mengapa banyak tempat kerja masih menolak perubahan kecil yang menyehatkan? Barangkali yang perlu “diadopsi” lebih dulu bukan hewannya, melainkan keberanian untuk merancang budaya kerja yang peduli dan bertanggung jawab. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Agustus 2026)