Maroko vs Belanda: Kemenangan Penalti Picu Kerusuhan Den Haag

Euronews

Euronews

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kemenangan adu penalti Maroko atas Belanda di Piala Dunia memicu euforia besar di Den Haag, sebelum berubah menjadi bentrokan dengan polisi. Perayaan yang semula penuh bendera, klakson, dan kembang api berujung penangkapan setelah aparat membubarkan massa di kawasan Schilderswijk.

Dalam laga babak 32 besar di Monterrey, pertandingan berakhir 1-1 hingga perpanjangan waktu sebelum Maroko menang lewat adu penalti yang menegangkan. Setelah kedua tim sama-sama gagal mengeksekusi penalti, penyerang PSV Eindhoven Ismael Saibari mengeksekusi tendangan penentu dengan tenang.

Gol itu membawa Atlas Lions ke babak 16 besar untuk menghadapi Kanada, salah satu tuan rumah bersama. Di Den Haag, kota dengan salah satu komunitas Maroko terbesar di Belanda, kemenangan itu langsung meledakkan ruang publik menjadi panggung selebrasi.

Sekitar 32.000 warga keturunan Maroko tinggal di Den Haag, hampir 6% dari populasi kota. Banyak di antaranya merupakan keturunan pekerja migran dari Maroko utara yang datang lewat perjanjian rekrutmen tenaga kerja bilateral pada 1969.

Di Schilderswijk, para pendukung berselimut bendera Maroko menari di jalanan, sementara klakson mobil bersahut-sahutan dan kembang api meledak. Ratusan orang berkumpul di persimpangan ramai, menendang bola ke udara, menyapa pengendara, bahkan sempat memanjat mobil.

Sekitar satu jam setelah pesta dimulai, polisi antihuru-hara bergerak membubarkan kerumunan dengan meriam air dan pukulan tongkat. Sekitar selusin orang ditangkap, beberapa pemuda dijatuhkan ke tanah, diborgol, lalu dibawa dengan van polisi.

Polisi Belanda menyatakan petugas diserang selama kerusuhan, sementara laporan AFP menyebut sebagian remaja dipukul dengan baton. Polisi juga menyebut “kembang api berat” dinyalakan dan petugas dilempari batu saat pasukan antihuru-hara serta meriam air dikerahkan.

Peristiwa ini menunjukkan pola lama di kota-kota Eropa: sepak bola menjadi pemicu emosi kolektif yang bisa berubah cepat ketika ruang publik padat dan kontrol massa terlambat. Ketika selebrasi berlangsung di simpang jalan yang sibuk, risiko gesekan meningkat karena lalu lintas, alkohol, provokasi, dan kehadiran aparat dalam formasi keras.

Di sisi lain, Den Haag bukan kota netral secara sosial, karena Schilderswijk lama dikenal sebagai pusat budaya Maroko-Belanda. Ruang-ruang seperti ini sering memikul beban ganda: menjadi tempat ekspresi identitas sekaligus sasaran stereotip ketika terjadi insiden.

Kemenangan Maroko atas Belanda bukan sekadar hasil olahraga, melainkan simbol pengakuan dan kebanggaan diaspora yang kerap merasa “ditonton” lebih dulu sebelum “didengar”. Ketika penalti penentu masuk, sebagian orang merayakan bukan hanya tim nasional, tetapi juga rasa pulang yang singkat di tengah kehidupan minoritas.

Namun kebanggaan yang tumpah ke jalan tidak otomatis membenarkan kekerasan, lemparan batu, atau intimidasi di ruang publik. Jika benar aparat diserang, pelaku harus diproses, tetapi respons aparat juga patut diuji agar tidak berubah menjadi hukuman kolektif terhadap komunitas.

Kalimat polisi tentang “kekerasan terbuka” dan “kembang api berat” perlu dibaca hati-hati, karena bahasa keamanan sering menyederhanakan kerumunan menjadi ancaman tunggal. Di era video ponsel dan pelaporan cepat, transparansi prosedur pembubaran massa menjadi kunci untuk mencegah luka sosial yang lebih panjang.

Yang paling berbahaya dari insiden seperti ini adalah efek ekornya: stigma, politik identitas, dan kebijakan yang makin keras terhadap lingkungan tertentu. Pada titik itu, sepak bola berhenti menjadi permainan dan berubah menjadi bahan bakar perdebatan tentang integrasi, loyalitas, dan siapa yang dianggap “berhak” merayakan di jalan.

Den Haag memperlihatkan dua wajah dalam satu malam: kegembiraan diaspora yang merayakan kemenangan Piala Dunia, dan ketegangan kota yang cepat memanas ketika aparat dan massa saling menekan. Kemenangan Maroko seharusnya menjadi momen persatuan, tetapi kerusuhan membuat publik kembali menghitung jarak sosial yang belum selesai.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang memulai lemparan batu, melainkan bagaimana kota-kota Eropa mengelola selebrasi besar tanpa mengubahnya menjadi medan konfrontasi. Jika ruang publik tidak disiapkan untuk perayaan yang aman dan setara, setiap gol bersejarah berpotensi berakhir dengan borgol dan luka yang diwariskan.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juli 2026)