Jumantik Muda dan PSN 3M Plus: Benteng DBD di Sekolah
ORBITINDONESIA.COM – Program Jumantik Muda dan PSN 3M Plus yang dibawa mahasiswa KKN-PK Unhas ke SMAN 5 Sidenreng Rappang menegaskan satu hal: perang melawan DBD dimulai dari kebiasaan paling sederhana. Di ruang kelas, isu sanitasi lingkungan berubah dari slogan menjadi keterampilan praktis yang bisa ditiru di rumah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman kesehatan publik di banyak daerah tropis, termasuk Sulawesi Selatan. Penyakit ini tidak hanya soal nyamuk, tetapi soal lingkungan yang memberi nyamuk ruang untuk berkembang biak.
Di tingkat rumah tangga dan sekolah, wadah penampung air yang dibiarkan terbuka sering menjadi titik lemah. Ketika pengendalian vektor bergantung pada rutinitas harian, celah kecil bisa berubah menjadi risiko besar.
Karena itu, edukasi PSN 3M Plus menjadi pendekatan yang terus diulang dalam kebijakan kesehatan lingkungan di Indonesia. Prinsipnya tegas: menguras, menutup, dan mendaur ulang, lalu ditambah langkah pencegahan lain sesuai kebutuhan setempat.
Kegiatan KKN-PK Unhas Posko Desa Teppo pada Kamis (23/7) memusatkan perhatian pada peran siswa sebagai penggerak perubahan. Penanggung jawab program, Poppy Evelyne Asik Sombo, menekankan pelajar bisa menjadi “Jumantik Muda” di sekolah dan rumah.
Materi yang diberikan tidak berhenti pada definisi DBD, tetapi menelusuri rantai penularan virus dengue dan karakteristik nyamuk Aedes. Pendekatan ini penting karena perilaku pencegahan biasanya lebih kuat ketika orang memahami “mengapa,” bukan sekadar “apa yang harus dilakukan.”
Mahasiswa juga mengajak siswa memetakan titik rawan seperti bak penampungan air, ember, botol bekas, dan wadah lain yang menampung air. Praktik mengenali lokasi berisiko membuat PSN 3M Plus terasa konkret, bukan sekadar poster di dinding kelas.
Gagasan Jumantik Muda memperluas konsep juru pemantau jentik dari ranah petugas menjadi gerakan warga sekolah. Di banyak wilayah, pengendalian DBD memang lebih efektif ketika pengawasan dilakukan rutin dan dekat dengan sumber masalah, yakni rumah dan lingkungan sekitar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkali-kali menegaskan bahwa pengendalian vektor adalah kunci pencegahan dengue, terutama melalui manajemen sumber perindukan dan keterlibatan komunitas. Artinya, program seperti ini selaras dengan prinsip kesehatan masyarakat modern yang menekankan pencegahan berbasis perilaku dan lingkungan.
Kesaksian siswa seperti Kahfi menunjukkan efek langsung edukasi: memahami penyebab DBD dan langkah pencegahan yang bisa dilakukan. Namun dampak jangka panjang baru terlihat jika sekolah mengubah edukasi menjadi rutinitas, misalnya inspeksi jentik berkala dan audit kebersihan kelas.
Program ini kuat karena memindahkan pusat gravitasi pencegahan dari “menunggu fogging” ke “mengelola lingkungan.” Fogging sering dianggap solusi utama, padahal ia lebih cocok sebagai respons situasional dan tidak menyentuh akar masalah bila sarang nyamuk tetap ada.
Di sisi lain, edukasi sekali datang berisiko menjadi seremonial jika tidak ada sistem tindak lanjut. Sekolah perlu menjadikan Jumantik Muda sebagai struktur kecil yang hidup, dengan jadwal, pencatatan, dan dukungan guru agar perilaku baru tidak cepat menguap.
Peran mahasiswa KKN-PK di sini terasa strategis sebagai pemantik, bukan pengganti. Tantangannya adalah memastikan pengetahuan berubah menjadi budaya, karena budaya kebersihan lahir dari pengulangan, bukan dari satu sesi presentasi.
Jumantik Muda dan PSN 3M Plus mengingatkan bahwa sanitasi lingkungan adalah bentuk kepemimpinan sehari-hari, bukan proyek musiman. Ketika siswa berani menegur genangan kecil dan menutup wadah air di rumah, mereka sebenarnya sedang memutus mata rantai penyakit.
Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: setelah kelas selesai, siapa yang memastikan kebiasaan itu tetap berjalan minggu depan dan bulan depan. Di titik itulah sekolah, keluarga, dan pemerintah lokal diuji untuk menjadikan pencegahan DBD sebagai disiplin bersama, bukan sekadar kampanye. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Agustus 2026)