Variety Content Shinhan Life Dorong Brand Awareness Asuransi
ORBITINDONESIA.COM – Variety content kini dipakai perusahaan asuransi untuk menaikkan brand awareness dan brand favorability tanpa terasa seperti iklan. Shinhan Life tampil sebagai perusahaan pertama di program ENA “Idol Dispatch Work” (tayang 10 Juni), membawa idol K-pop masuk ke rutinitas kerja nyata.
Industri asuransi kerap dipersepsikan rumit, dingin, dan penuh istilah teknis yang menjauhkan publik. Di saat yang sama, kepercayaan adalah mata uang utama, sehingga komunikasi yang kaku sering justru memperlebar jarak.
Karena itu, banyak brand beralih ke strategi brand storytelling dan konten hiburan untuk membuat proses yang kompleks menjadi lebih manusiawi. Shinhan Life memanfaatkan format variety untuk memperlihatkan budaya kerja dan alur layanan, bukan sekadar memajang produk.
Dalam episode tersebut, Eunhyuk (Super Junior), Dongjun (ZE:A), Inseong (SF9), dan Hyunjae (The Boyz) “magang” sehari sebagai karyawan dispatch. Mereka mengikuti pengenalan organisasi, lalu masuk ke Brand Marketing Team yang merancang video brand, dan Claims Review Team yang meninjau pengajuan klaim.
Langkah ini mengubah “asuransi” dari konsep abstrak menjadi rangkaian pekerjaan konkret, dari komunikasi merek sampai verifikasi klaim. Shinhan Life menilai program ini menampilkan upaya karyawan memberi layanan yang dapat dipercaya, sekaligus budaya kolaboratif dan komunikasi terbuka.
Di titik ini, variety content bekerja sebagai alat edukasi publik yang dibungkus hiburan, sehingga penonton tidak merasa digurui. Ketika idol ikut membaca alur kerja dan mengusulkan ide perbaikan layanan, penonton menangkap pesan bahwa proses internal bisa ditinjau dan ditingkatkan.
Namun, ada sisi yang patut diuji: tayangan semacam ini cenderung menonjolkan “best day at work” dan memilih momen yang paling ramah kamera. Proses klaim di dunia nyata sering dipenuhi ketegangan, perbedaan interpretasi polis, dan ekspektasi pelanggan yang tidak selalu selaras.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup pada “ramai” atau “disukai”, melainkan pada dampak setelah tayang. Apakah pemahaman publik tentang klaim meningkat, apakah keluhan menurun, dan apakah persepsi transparansi benar-benar naik, itu yang seharusnya diukur secara terbuka.
Shinhan Life sedang memainkan strategi yang cerdas: meminjam kedekatan emosional idol untuk menurunkan hambatan psikologis terhadap industri asuransi. Ini bukan sekadar product placement, melainkan “work placement” yang menekankan manusia, proses, dan budaya kerja.
Tetapi justru karena formatnya hangat, risikonya adalah romantisasi pekerjaan dan penyederhanaan isu. Jika konten hanya memoles citra tanpa memaparkan tantangan, publik bisa merasa dituntun ke simpati, bukan diajak memahami realitas.
Kutipan perwakilan Shinhan Life menegaskan arah itu: “melalui variety content, kami memperkenalkan peran perusahaan asuransi dan budaya organisasi dengan cara yang lebih mudah dan ramah,” serta berjanji memperluas titik kontak lewat konten dan komunikasi. Janji ini akan bernilai jika diikuti keterbukaan metrik layanan, misalnya waktu penyelesaian klaim, kualitas respons, dan pola sengketa.
Variety content dapat menjadi jembatan yang efektif untuk brand awareness dan brand favorability, terutama di industri berbasis kepercayaan seperti asuransi. Namun jembatan itu harus mengarah pada transparansi dan perbaikan layanan, bukan berhenti di kesan menyenangkan.
Ketika kamera pergi, yang tersisa adalah pengalaman pelanggan dan integritas proses klaim. Pertanyaannya sederhana: apakah hiburan ini akan membuat perusahaan lebih akuntabel, atau hanya membuat kita lebih mudah memaafkan? (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)