Ditolak Perusahaan 500 Kali karena Tuli, Kini Sukses Membuka Usaha Sendiri
Sebagai penyandang disabilitas tuli, Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso tidak memilih menjadi perempuan yang berpangku tangan dan pasrah pada keadaan. Sebaliknya, ia justru berjuang lebih keras dibanding banyak orang untuk memperoleh kesempatan bekerja. Dengan bekal pendidikan dan kemampuan yang dimilikinya, ia mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, berharap ada satu pintu yang terbuka bagi masa depannya.
Namun, perjuangan itu tidak berjalan mudah. Alih-alih memperoleh kesempatan dan dukungan, Putri justru berulang kali berhadapan dengan tembok diskriminasi. Keterbatasan pendengarannya dianggap sebagai hambatan bagi perusahaan, bahkan sebelum mereka mengenal kemampuan yang ia miliki.
"Kamu kan tuli, kami tidak bisa menerimamu di perusahaan ini."
Kalimat penolakan itu bukan hanya sekali atau dua kali ia dengar. Kurang lebih 500 perusahaan yang ia lamar memberikan jawaban serupa. Bukan pengalaman, keterampilan, atau pendidikannya yang dipersoalkan, melainkan semata-mata karena ia adalah seorang penyandang disabilitas tuli.
Namun, Putri menyadari bahwa ia tidak bisa terus menunggu kesempatan datang dari orang lain. Jika dunia kerja belum mampu menerima penyandang tuli, mengapa tidak menciptakan ruang kerja yang lebih inklusif?
Berangkat dari pemikiran itulah, pada tahun 2018 Putri bersama dua rekannya sesama penyandang tuli, Mohammad Adhika Prakoso dan Tri Erwinsyah Putra, mendirikan Kopi Tuli. Sebuah kedai kopi yang lahir bukan hanya untuk menjual secangkir minuman, tetapi juga untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Di kedai ini, para penyandang tuli bekerja sebagai barista dan staf pelayanan. Pelanggan diajak berinteraksi menggunakan bahasa isyarat sederhana, tulisan, maupun gestur. Bagi sebagian orang, pengalaman memesan kopi di Kopi Tuli mungkin terasa berbeda. Namun, justru di situlah letak makna yang ingin dibangun: komunikasi bukan hanya soal suara, melainkan juga tentang kemauan untuk saling memahami.
Kehadiran Kopi Tuli perlahan menarik perhatian masyarakat. Banyak pelanggan datang bukan semata-mata karena penasaran dengan kopinya, tetapi karena ingin merasakan pengalaman baru sekaligus memberikan dukungan terhadap bisnis yang mengusung nilai kesetaraan. Dari sebuah gagasan sederhana, Kopi Tuli berkembang menjadi salah satu contoh usaha sosial yang membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu bekerja secara profesional ketika diberi kesempatan.
Pada masa awal pengembangannya, Kopi Tuli telah membuka dua gerai dan mempekerjakan sembilan karyawan tuli. Usaha tersebut bahkan sempat mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan, sebuah pencapaian yang mematahkan anggapan bahwa penyandang disabilitas hanya mampu menjadi penerima bantuan.
Putri juga membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas yang sulit memperoleh pekerjaan. Baginya, keberhasilan Kopi Tuli tidak semata diukur dari banyaknya cangkir kopi yang terjual, melainkan dari semakin terbukanya ruang yang inklusif agar penyandang disabilitas dapat berkarya, berkembang, dan memperoleh kesempatan yang setara.
Kisah Putri membuktikan bahwa penghalang terbesar bukanlah keterbatasan yang dimiliki seseorang, melainkan cara pandang masyarakat yang masih memandang perbedaan sebagai kelemahan, bukan sebagai kemampuan yang patut diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.