Ganjar Kurnia: Ketika Akal Sehat Mendapat Kursi
Oleh Ganjar Kurnia
ORBITINDONESIA.COM - Dahulu ia dikenal sebagai "Orang Luar." Berdiri di luar pagar sambil memeriksa isi rumah. Kalau genting bocor, ia berteriak. Kalau fondasi miring, ia menjelaskan teori arsitektur. Kalau penghuninya mengatakan dua tambah dua sama dengan lima, ia segera membuka kuliah tentang logika. Setelah pulang, kadang banyak orang yang menyadari bahwa tadi dirinya mengangguk-ngangguk, seperti pura-pura mengerti agar tidak disebut dungu.
Ia membawa akal sehat ke mana-mana: televisi, kampus, terminal politik, bahkan kebun. Akal sehat itu dirawat seperti burung perkutut—diberi makan filsafat, dimandikan logika, lalu dibiarkan berkicau mengganggu ketenangan kekuasaan.
Menurutnya, “Orang Dalam” terlalu lama berada di dalam sehingga tidak mengetahui cuaca di luar. Mereka mengira rakyat adem-adem saja seperti pendingin udara di ruang rapat. Harga beras dianggap stabil karena mereka makan siang gratis di kantor. Demokrasi dinyatakan sehat sebab setiap pidato selalu disambut tepuk tangan (Tentu saja tepuk tangan itu datang dari orang-orang yang sebagian gajinya memang diperuntukkan untuk bertepuk tangan).
Ia terkenal. Kalimatnya dipotong menjadi video pendek. Wajahnya dipasangi tulisan besar. Ketika ia menyebut “akal sehat”, ribuan orang merasa masih berakal. Ketika menyebut “kedunguan”, semua tertawa karena yakin kata itu ditujukan kepada orang lain.
Suatu hari, pintu pagar kekuasaan terbuka. Penghuni utama rumah besar memanggilnya.
“Daripada terus berteriak dari luar, bagaimana kalau Saudara masuk?”
Ia berpikir sebentar, mungkin untuk memastikan pertanyaan itu tidak mengandung sesat pikir.
Setelah yakin silogismenya aman, ia pun masuk. Publik terkejut. Orang yang dahulu melemparkan batu intelektual ke jendela kekuasaan kini duduk di dalam. Ia memperoleh kursi, meja, honor, fasilitas, dan hak memberikan pertimbangan. Batu-batunya mungkin masih dibawa, tetapi diletakkan rapi di bawah meja agar tidak merusak bangunan kekuasaan.
Ketika ditanya mengapa masuk, ia menjawab, “Saya hanya berpindah dari luar ke dalam. Pikiran saya tetap sama.”
Jawaban itu benar, setidaknya menurut ilmu tata ruang. Orang yang melewati pintu dari luar memang akan berada di dalam. Ini bukan filsafat, melainkan pelajaran denah bangunan.
Namun, apakah suaranya akan tetap sama? Suara dari luar harus keras agar bisa menembus pagar. Suara di dalam biasanya melembut agar tidak mengganggu rapat. Di luar, ia dapat berkata, “Kebijakan ini salah!” Di dalam, kalimatnya mungkin berubah: “Secara filosofis benar, hanya implementasinya memerlukan pendalaman lintas sektoral……”
Begitulah, kekuasaan tidak selalu membungkam kritik dengan polisi. Kadang cukup menyediakan kursi empuk, karena ursi tidak pernah menyuruh orang diam; ia hanya membuat orang sangat nyaman untuk berdiri.
Kini nasihatnya disampaikan tertutup. Jika kebijakan berhasil, ia dapat mengatakan nasihatnya didengar. Jika gagal, ia dapat berkata nasihatnya diabaikan. Keduanya sulit dibuktikan karena pintu ruangan digembok kerahasiaan.
Posisi itu sungguh nyaman secara epistemologis. Namun, jangan cepat menuduhnya berubah. Mungkin ia masuk untuk membawa udara segar ke dalam, yang memang telah lama kekurangan oksigen akibat terlalu banyak yang mengangguk bersamaan. Kehadirannya mungkin diperlukan untuk mengingatkan bahwa kepala diciptakan bukan hanya untuk mengangguk, tetapi juga berpikir.
Masyarakat kini menunggu: apakah ia benar-benar membawa akal sehat ke dalam, atau akal sehatnya diminta menitipkan kartu identitas di pos penjagaan?
Ia mengaku hanya berpindah tempat. Mudah-mudahan benar. Sebab pengalaman menunjukkan, orang yang memasuki kekuasaan, tidak hanya berganti tempat duduk, kadang-kadang, tempat duduklah yang sering mengubah orangnya.
4 Oktober 2026
Prof Dr Ir Ganjar Kurnia, adalah Guru Besar di Fak. Pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD). ***