Kacamata Pintar Rokid Berbasis AI: Bidik Profesional dan Lifestyle

ORBITINDONESIA.COM – Kacamata pintar Rokid berbasis AI resmi dipasarkan lebih agresif di Indonesia, dengan target jelas: profesional dan pengguna lifestyle yang doyan teknologi baru. Strategi ini menegaskan satu hal, bahwa perangkat wearable kini tidak lagi sekadar aksesori, tetapi alat kerja dan identitas gaya sekaligus. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Pasar wearable sedang bergerak dari jam tangan pintar ke perangkat yang lebih “menempel” pada aktivitas harian, termasuk kacamata pintar. Di tengah tren itu, PT Denka Pratama membawa Rokid untuk mengisi celah antara produktivitas dan hiburan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Head Department Marketing Communication PT Denka Pratama, Ricky Cahyadi Halim, menyebut dua segmen utama yang dibidik adalah profesional dan lifestyle. Ia menekankan sisi produktivitas bagi pekerja dengan mobilitas tinggi dan kebutuhan komunikasi cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Harga yang dipatok tidak murah, yakni sekitar Rp 11,999 juta untuk Rokid Glasses dan Rp 7,7 juta untuk Rokid Glasses Neo. Artinya, ini bukan produk mass market, melainkan perangkat premium yang menuntut alasan pembelian yang kuat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Untuk segmen profesional, Rokid diposisikan sebagai “asisten kerja” yang selalu menempel di wajah. Ricky mengatakan perangkat ini bisa dipakai untuk bekerja, menerima telepon, membuat catatan, hingga prompting berbasis AI. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Fitur kamera untuk foto dan video memberi nilai tambah, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang sensitif. Kacamata berkamera memunculkan kekhawatiran privasi karena perekaman bisa terjadi tanpa disadari orang sekitar. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Nilai jual paling mencolok ada pada penerjemah berbasis AI yang mendukung hingga 89 bahasa. Pengguna bisa memilih one-way translation atau two-way translation untuk percakapan lintas bahasa seperti Mandarin, Jepang, Korea, sampai Arab. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Di ranah lifestyle, Rokid dijual sebagai perangkat hiburan dan pendamping perjalanan. Ricky menyebut perangkat ini berguna untuk navigasi, peta, dan menerjemahkan percakapan secara langsung saat jalan-jalan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Kehadiran Rokid Glasses Neo memperjelas segmentasi, karena versi ini lebih menekankan personalisasi ketimbang layar. Neo tidak memiliki display, tetapi menawarkan opsi warna dan lensa untuk menempel pada selera pengguna. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Diskon hingga Rp 1,5 juta dan bonus prescription frame lewat kerja sama dengan DrSpecs menunjukkan strategi akuisisi awal yang agresif. Insentif ini penting karena hambatan utama kacamata pintar sering kali bukan fitur, melainkan kenyamanan dan kompatibilitas dengan kebutuhan lensa minus atau progresif. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Strategi membidik profesional dan lifestyle terdengar rapi, tetapi tantangan sesungguhnya ada pada kebiasaan dan etika penggunaan. Kacamata pintar baru akan “diterima” jika masyarakat merasa aman dari risiko direkam atau dipantau tanpa izin. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Di sisi lain, janji produktivitas perlu diuji di lapangan, bukan hanya di panggung pameran. Jika fitur taking notes, prompting, dan penerjemah AI benar-benar stabil, perangkat ini bisa menggantikan sebagian kebiasaan membuka ponsel yang mengganggu fokus kerja. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Namun harga premium membuat Rokid harus menjawab pertanyaan sederhana yang sering diabaikan brand teknologi: apa “rasa” manfaatnya setelah tiga bulan pemakaian. Tanpa manfaat yang konsisten, kacamata pintar berisiko menjadi gadget musiman yang berakhir di laci. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Rokid datang dengan narasi besar tentang AI, produktivitas, dan gaya hidup, lalu membungkusnya dalam format kacamata yang paling dekat dengan tubuh manusia. Pertaruhannya bukan hanya penjualan, tetapi juga penerimaan sosial terhadap perangkat yang bisa melihat, merekam, dan menerjemahkan dunia secara instan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)

Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya bukan sekadar “seberapa canggih kacamata pintar Rokid,” melainkan “seberapa bijak kita menggunakannya.” Jika teknologi membuat hidup lebih efisien tanpa mengorbankan privasi dan kesopanan ruang publik, maka ia layak menjadi kebiasaan baru. (Orbit dari berbagai sumber, 29 September 2026)