Proyek Infografik Literasi Keuangan MAN 1 Malang Latih Bahasa Inggris

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Proyek infografik literasi keuangan di MAN 1 Kota Malang mengubah pelajaran Bahasa Inggris menjadi latihan hidup: mengatur uang saku, menabung, dan menyusun anggaran. Di kelas XI-J, 36 siswa mempresentasikan poster prosedur berbahasa Inggris yang membahas budgeting, saving money, dan financial literacy secara praktis.

Di banyak sekolah, kemampuan menulis Bahasa Inggris sering berhenti pada tugas formal yang jauh dari realitas siswa. Padahal, isu pengelolaan uang saku dan kebiasaan konsumtif remaja hadir setiap hari, tetapi jarang dibahas sebagai keterampilan.

Di MAN 1 Kota Malang pada Mei 2026, guru memadukan teks prosedur dengan tema personal money management. Sumber utamanya adalah buku English For Change, lalu tugas akhirnya berupa infografik yang menuntut struktur, ketepatan bahasa, dan daya tarik visual.

Proyek dibagi dua pertemuan agar proses dan hasil sama-sama terukur. Pertemuan pertama menekankan drafting teks prosedur, sementara pertemuan kedua menekankan presentasi dan kemampuan menjelaskan logika langkah-langkahnya.

Di tahap awal, siswa diminta memilih masalah yang dekat: mengendalikan pengeluaran bulanan, menyisihkan uang jajan, atau menabung lewat rekening bank. Guru memberi penguatan tentang tujuan, bahan/alat, langkah-langkah, serta contoh procedure text agar tulisan tidak sekadar “tips”, tetapi benar-benar instruksional.

Draft kemudian dipaksa “naik kelas” menjadi infografik, dan di sinilah literasi multimodal bekerja. Siswa harus memadatkan kalimat, memilih diksi efektif, dan menyusun urutan langkah yang mudah dipindai mata.

Pada sesi presentasi, poster ditayangkan lewat proyektor dan dipertanggungjawabkan di depan teman sekelas. Mereka menjelaskan alasan memilih topik, menyebutkan langkah prosedur, dan menjawab pertanyaan yang menguji konsistensi isi dengan struktur.

Dari sisi pedagogi, ini sejalan dengan pembelajaran berbasis proyek yang menuntut produk nyata dan komunikasi publik. UNESCO dan OECD kerap menempatkan literasi keuangan sebagai kecakapan abad 21, dan sekolah yang mengintegrasikannya dengan literasi bahasa sedang mengejar dua target sekaligus.

Namun, ada titik rapuh yang perlu dibaca kritis. Jika fokus hanya pada desain poster, siswa bisa terjebak estetika dan melupakan akurasi konsep keuangan seperti prioritas kebutuhan, dana darurat, atau jebakan “cicilan kecil” yang menipu.

Proyek ini menunjukkan satu hal: Bahasa Inggris akan lebih cepat “hidup” ketika menempel pada persoalan yang benar-benar dialami siswa. Menulis prosedur tentang anggaran pribadi membuat grammar dan vocabulary bukan sekadar ujian, tetapi alat untuk menyusun keputusan.

Meski begitu, literasi keuangan tidak cukup berhenti pada slogan “hemat” dan “menabung”. Sekolah perlu mendorong pembahasan yang lebih tajam, seperti membedakan keinginan dan kebutuhan, menghitung biaya peluang, serta menyadari pengaruh iklan dan tren sosial.

Jika tidak, siswa hanya akan meniru format tanpa mengubah perilaku. Presentasi di depan kelas memang melatih public speaking, tetapi dampak jangka panjang baru terasa bila ada tindak lanjut seperti jurnal pengeluaran mingguan atau simulasi anggaran yang dievaluasi.

Di kelas XI-J MAN 1 Kota Malang, infografik menjadi jembatan antara keterampilan bahasa dan keterampilan hidup. Mereka belajar menyusun langkah yang rapi, sekaligus belajar bahwa uang saku adalah cerita tentang pilihan.

Pertanyaannya, setelah poster dipajang dan presentasi selesai, apakah kebiasaan belanja ikut berubah. Pendidikan yang kuat bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk kebiasaan yang bertahan saat sorotan proyektor sudah padam. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Agustus 2026)