Dinas Intelijen Ukraina Rilis Delapan Warga Negara Indonesia Jadi Tentara Rusia
ORBITINDONESIA.COM - Pada 27 Agustus 2026, FISU secara resmi mempublikasikan dokumen berupa e-visa turis dan kartu migrasi milik delapan warga negara Indonesia (WNI) yang teridentifikasi direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan Rusia. Dokumen-dokumen tersebut diterbitkan oleh otoritas Rusia dalam rentang waktu antara September 2025 hingga Juni 2026.
Berdasarkan investigasi intelijen Ukraina, Indonesia menjadi salah satu target operasi perekrutan asing yang sistematis oleh Rusia. Pola yang digunakan di Indonesia sama persis dengan skema yang diterapkan di negara lain seperti Nepal, Kuba, Kenya, dan India.
Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) merilis data terbaru terkait upaya Kremlin merekrut delapan warga negara Indonesia (WNI) menjadi tentaranya untuk berperang melawan Ukraina. Dalam laman resmi FISU, dijelaskan bahwa Rusia terus secara sistematis merekrut warga asing untuk berperang melawan Ukraina.
Bagi Kremlin, setiap rekrutan asing memiliki beberapa tujuan sekaligus. Di antaranya, mereka mengisi kekosongan personel di garis depan dan berfungsi sebagai umpan propaganda untuk mendukung narasi dugaan dukungan global untuk "operasi militer khusus".
Alasan lain untuk merekrut warga asing adalah meningkatnya ketidakpuasan domestik terhadap situasi sosial ekonomi, perang, dan rencana gelombang mobilisasi baru (tingkat ketidakpuasan mencapai 69 persen). Akibatnya, penurunan jumlah orang yang bersedia mendaftar secara sukarela. "Indonesia telah menjadi contoh terbaru dari pola ini," demikian keterangan pers FISU dikutip Republika di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
FISU telah memperoleh dokumen tentang setidaknya delapan warga negara Indonesia yang direkrut ke dalam barisan tentara pendudukan Rusia. Menurut FISU, skema yang digunakan Moskow untuk merekrut prajurit asing telah diuji di puluhan negara lain.
"Janji-janji gaji tinggi, tugas nontempur, percepatan kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial menarik orang-orang yang, lebih sering daripada tidak, tidak tahu ke mana mereka sebenarnya dikirim," begitu penjelasan FISU.
Pola yang sama sebelumnya telah digunakan oleh warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka yang direkrut berakhir di garis depan tanpa pelatihan apa pun. "Dan beberapa tewas dalam beberapa pekan pertama," kata FISU.
Sebanyak delapan WNI yang dirilis FISU, mendapatkan visa Rusia. Mereka direkrut menjadi tentara Rusia untuk berada di garis depan melawan Ukraina. Ditampilkan pula identitas lengkap mereka asal Indonesia.
Berikut adalah rincian data delapan WNI yang dokumennya dirilis oleh intelijen Ukraina:
1. Yuda Putra Pratama (Tanggal Lahir: 9 Agustus 1997)
2. Haryanto Dwi Kencana (Tanggal Lahir: 14 Juli 1983)
3. Erwanda (Tanggal Lahir: 5 Agustus 1988)
4. Ngangun Hudri Fadli (Tanggal Lahir: 17 Sptember 1978)
5. Muhammad Syaripudin (Tanggal Lahir: 3 Agustus 1994)
6. M Hadi Maulana (Tanggal Lahir: 7 April 1987)
7. Wahyu Oktavian Iskandar (Tanggal Lahir: 22 Oktober 1985)
8. Helmi Nuraha Hakim (Tanggal Lahir: 27 Januari 1983) - Kasus terdini yang tercatat masuk dengan kartu migrasi sejak September 2025.
Daftar itu di luar mantan personel Marinir TNI AL Serda (Mar) Satriya Arta Kumbara dan anggota Brimob Polda Aceh Bripda Muhammad Rio.
"Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 280 juta, telah bergabung dalam daftar negara-negara yang telah diubah Kremlin menjadi sumber tenaga kerja murah untuk perang," jelas keterangan FISU.
(Sumber: Erik Purnama Putra/Teknologi & Strategi Militer) ***