TPS Surabaya Sabet Most Productive Terminal, Risiko Jadi Kunci
ORBITINDONESIA.COM – TPS Surabaya kembali mengunci panggung penghargaan Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) lewat predikat “The Most Productive Terminal Award Based on BOPO”. Di tengah industri pelabuhan yang makin rawan disrupsi, kabar ini menegaskan satu pesan: produktivitas hari ini ditentukan oleh disiplin manajemen risiko.
Industri terminal petikemas hidup dari dua hal yang sering saling tarik-menarik, yaitu kecepatan layanan dan kontrol biaya. Sedikit saja salah hitung, antrean kapal memanjang, biaya membengkak, dan reputasi runtuh.
Di konteks itu, BOPO menjadi indikator yang mudah dibaca publik karena memperlihatkan seberapa efisien biaya operasi dibanding pendapatan operasi. Semakin terkendali BOPO, semakin kuat sinyal bahwa proses kerja tidak boros dan layanan tidak “bocor” di titik-titik kritis.
TPS menyebut capaian produktivitasnya tak terpisah dari penerapan manajemen risiko yang disiplin dan terintegrasi di semua lini bisnis. Klaim ini menarik karena menempatkan “budaya risiko” sebagai mesin produktivitas, bukan sekadar kewajiban kepatuhan.
Penghargaan “The Most Productive Terminal Award Based on BOPO” di forum Human Capital & Legal 2026 menyorot efisiensi sebagai ukuran utama. Dalam praktik terminal, efisiensi biasanya lahir dari perencanaan sandar yang presisi, utilisasi alat yang stabil, dan minimnya downtime.
Namun TPS juga meraih tiga penghargaan dalam 2025 SPTP Risk Award yang diumumkan Rabu (3/6). Ini memberi petunjuk bahwa penguatan produktivitas mereka dibangun lewat tata kelola risiko yang diukur dan diperlombakan secara internal.
TPS meraih 2nd Place kategori RINDU (Individual Risk) melalui Cahya Ardie Firmansyah. Penghargaan individu seperti ini penting karena budaya risiko sering gagal bukan karena sistem, melainkan karena perilaku harian yang tidak konsisten.
TPS juga meraih 3rd Place kategori KANGEN (Inter-Risk Agent Championship) dan 2nd Place kategori INTIM (Improvement Implementation). KANGEN menekankan kompetensi agen risiko dalam governance, sedangkan INTIM menilai keberhasilan program perbaikan dalam sistem manajemen risiko.
Jika ditarik ke level operasional, manajemen risiko di terminal petikemas umumnya menyasar tiga sumber gangguan terbesar: keselamatan kerja, keandalan peralatan, dan ketepatan arus dokumen. Gangguan kecil pada salah satu titik itu dapat mengubah produktivitas menjadi biaya tambahan yang langsung memukul BOPO.
Pernyataan Corporate Secretary TPS, Erika Asih Palupi, mengunci benang merahnya. “Disiplin dan konsistensi dalam risk management berkorelasi dengan strong performance,” ujarnya, sambil menegaskan risk management harus menjadi bagian integral dari setiap proses bisnis.
Di banyak perusahaan, risiko sering dipahami sebagai daftar ancaman yang disimpan di dokumen audit. TPS mencoba mengubahnya menjadi kebiasaan operasional: mengidentifikasi, mengelola, dan memitigasi risiko secara sistematis agar layanan tetap andal dan biaya tetap efisien.
Penghargaan memang bukan bukti final, tetapi ia adalah sinyal arah kebijakan. Ketika terminal diberi insentif atas BOPO dan budaya risiko, perusahaan cenderung menata proses dari hulu ke hilir, bukan sekadar “memacu throughput” tanpa rem.
Meski demikian, ada catatan kritis yang patut dijaga: produktivitas berbasis BOPO bisa menimbulkan godaan efisiensi semu. Pemangkasan biaya yang terlalu agresif berisiko menurunkan kualitas pemeliharaan alat, mengikis pelatihan SDM, dan pada akhirnya menambah risiko insiden.
Karena itu, klaim “paling produktif” seharusnya selalu diuji dengan indikator layanan yang dirasakan pengguna. Publik dan pelanggan perlu melihat apakah efisiensi itu sejalan dengan ketepatan jadwal, minimnya kerusakan kargo, dan kecepatan penanganan keluhan.
Langkah TPS memperkuat GRC (Governance, Risk, and Compliance) patut dibaca sebagai strategi bertahan di industri yang makin kompleks. Kompleksitas itu bukan hanya soal volume peti kemas, tetapi juga soal ketidakpastian rantai pasok, kepatuhan, dan ekspektasi layanan real-time.
Jika budaya risiko benar-benar hidup, inovasi tidak akan menjadi proyek kosmetik. Inovasi akan diarahkan untuk menutup titik rawan yang paling mahal, yaitu waktu tunggu, human error, dan kegagalan peralatan yang berulang.
Kisah TPS Surabaya menunjukkan bahwa produktivitas terminal petikemas tidak lahir dari kerja cepat saja, melainkan dari kerja yang terukur dan waspada. Penghargaan BOPO dan Risk Award memberi pesan bahwa efisiensi terbaik adalah efisiensi yang dibangun di atas tata kelola risiko.
Pertanyaannya kini, apakah standar ini akan menular menjadi budaya di seluruh ekosistem pelabuhan, termasuk mitra kerja dan pengguna jasa. Jika risiko benar-benar dijadikan bahasa bersama, pelabuhan bukan hanya lebih cepat, tetapi juga lebih dapat dipercaya.
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)