Korea Selatan Protes Penampilan Toyotomi Hideyoshi di Asian Games Jepang

Pemeran Jepang yang menggambarkan sosok Toyotomi Hideyoshi.

Pemeran Jepang yang menggambarkan sosok Toyotomi Hideyoshi.

Culture

ORBITINDONESIA.COM — Sejarah lama Jepang dan Korea kembali memunculkan ketegangan di tengah penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Korea Selatan mengajukan pengaduan resmi setelah seorang pemeran yang mengenakan kostum Toyotomi Hideyoshi tampil dalam sebuah acara penyambutan di Nagoya.

Pengaduan tersebut diajukan oleh Korean Sport & Olympic Committee (KSOC) kepada panitia penyelenggara Asian Games Aichi-Nagoya dan Olympic Council of Asia (OCA). Presiden KSOC Ryu Seung-min menyampaikan penyesalan atas penampilan tersebut dan meminta agar kejadian serupa tidak terulang.

Kontroversi bermula pada 15 September 2026, ketika sebuah acara digelar untuk menyambut kedatangan kapal pesiar Costa Serena di Pelabuhan Nagoya. Kapal tersebut digunakan sebagai tempat akomodasi bagi sekitar 4.000 atlet dan ofisial selama Asian Games.

Dalam acara itu, tampil sejumlah pemeran yang mengenakan pakaian dan perlengkapan perang era Sengoku. Mereka menggambarkan tiga tokoh yang sangat dikenal dalam sejarah Jepang: Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya memiliki kaitan erat dengan sejarah wilayah Nagoya dan Aichi.

Masalah muncul karena salah satu tokoh yang ditampilkan adalah Toyotomi Hideyoshi.

Bagi masyarakat Korea, nama Hideyoshi tidak dapat dipisahkan dari salah satu episode paling traumatis dalam sejarah mereka: invasi Jepang ke Semenanjung Korea pada 1592 dan 1597.

Konflik yang dikenal sebagai Perang Imjin atau Imjin War berlangsung hingga 1598 dan melibatkan Jepang, kerajaan Joseon Korea, serta Dinasti Ming China. Pasukan Jepang pada awal invasi bergerak cepat dan berhasil merebut sejumlah kota penting, termasuk Seoul dan Pyongyang. Namun perlawanan Korea, terutama di laut, serta masuknya pasukan Ming kemudian menghambat dan memukul balik ekspansi Jepang.

Perang tersebut menimbulkan kehancuran besar di Semenanjung Korea. Selain korban jiwa, masyarakat mengalami perpindahan penduduk, kehancuran permukiman, gangguan pertanian, dan hilangnya banyak karya budaya. Pasukan Jepang juga membawa puluhan ribu hingga sekitar 100.000 orang Korea ke Jepang sebagai tawanan. Angka pastinya masih diperdebatkan oleh para sejarawan.

Yang menarik, sebagian tawanan tersebut merupakan orang-orang dengan keterampilan tertentu. Para pengrajin, termasuk pembuat keramik, menjadi sasaran penculikan karena keahlian mereka kemudian dimanfaatkan di Jepang. Penelitian mengenai para pengrajin Korea yang dibawa ke Jepang menunjukkan bahwa penculikan tenaga terampil memang merupakan bagian dari dampak perang tersebut.

Karena latar sejarah inilah penampilan Hideyoshi di sebuah acara yang berkaitan dengan Asian Games dianggap sensitif di Korea Selatan.

Terlebih lagi, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 mengusung slogan “Imagine One Asia”. Bagi sebagian pihak di Korea Selatan, menghadirkan tokoh yang memerintahkan invasi ke Korea dalam sebuah acara penyambutan delegasi Asia dianggap tidak tepat secara simbolis.

Chef de Mission Korea Selatan, Lee Sang-hyun, mengatakan bahwa pihaknya menghormati budaya lokal Jepang, tetapi menilai panitia seharusnya lebih mempertimbangkan perasaan delegasi Korea. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perhatian delegasi Korea tetap diarahkan kepada pertandingan.

Panitia penyelenggara Aichi-Nagoya memberikan penjelasan berbeda.

Menurut panitia, penampilan tersebut bukan dimaksudkan untuk memuji Toyotomi Hideyoshi ataupun menyampaikan pesan sejarah tertentu. Pertunjukan itu merupakan bagian dari upaya memperkenalkan budaya dan pariwisata lokal Aichi kepada para tamu Asian Games. Panitia menyatakan bahwa mereka memahami sebuah pertunjukan dapat ditafsirkan berbeda oleh masyarakat dari negara yang memiliki pengalaman sejarah berbeda.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks daripada sekadar pertunjukan budaya.

Hideyoshi memang merupakan tokoh penting dalam sejarah Nagoya dan Jepang. Tetapi bagi Korea, ia sekaligus merupakan simbol invasi dan kehancuran.

Dua memori sejarah tersebut bertemu di sebuah ajang olahraga yang justru dirancang untuk mempertemukan negara-negara Asia.

Sejarah yang belum benar-benar selesai

Kontroversi di Nagoya menunjukkan bahwa sejarah Asia Timur masih memiliki umur politik yang panjang.

Bagi Jepang, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu adalah tokoh sentral dalam sejarah penyatuan dan pembentukan Jepang modern. Bagi Nagoya dan Aichi, mereka juga merupakan bagian dari warisan sejarah lokal yang dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata daerah.

Namun bagi Korea, khususnya dalam konteks hubungan Jepang-Korea yang masih dibayangi persoalan sejarah, Hideyoshi memiliki makna yang sangat berbeda.

Karena itu, sebuah kostum sejarah yang bagi penyelenggara mungkin hanya merupakan pertunjukan budaya lokal dapat memiliki makna politik dan emosional yang jauh lebih besar bagi delegasi negara lain.

Asian Games pada akhirnya bukan sekadar pertandingan olahraga. Ia juga merupakan pertemuan masyarakat dengan sejarah, identitas dan ingatan yang berbeda-beda.

Dan di Asia Timur, ingatan terhadap perang lima abad lalu ternyata masih cukup kuat untuk muncul kembali di tengah panggung olahraga abad ke-21. ***