Aplikasi Microsoft Bing Paksa Default Search di Semua Browser PC

Windows Latest

Windows Latest

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Microsoft kembali mendorong Bing dengan cara yang memancing kecurigaan publik, lewat aplikasi mandiri bernama Microsoft Recommended Search Settings. Aplikasi ini dirancang untuk mengganti mesin pencari default menjadi Bing di berbagai browser di PC, lalu mengarahkan pengguna ke halaman Microsoft Rewards sebagai insentif.

Di tengah janji perusahaan untuk merapikan pengalaman MSN dan mengurangi “clutter”, langkah ini terasa seperti pintu belakang baru. Kata kunci utamanya jelas: aplikasi MicrosoftSettings.exe, pengubah default search engine ke Bing, dan ekstensi yang memodifikasi Chrome, Firefox, serta Edge.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)

Artikel sumber menjelaskan bahwa Microsoft membuat executable mandiri yang tidak dipasang lewat Windows Update dan tidak tersedia di Microsoft Store. File tersebut di-host di server unduhan resmi Microsoft, sehingga terlihat “resmi” meski fungsinya sangat sempit.

Nama aplikasinya Microsoft Recommended Search Settings, sementara executable-nya disebut MicrosoftSettings.exe. Setelah instalasi, aplikasi meminta pemasangan ekstensi di semua browser yang terdeteksi untuk mengubah pengalaman beranda dan pencarian menjadi Bing.

Yang membuat isu ini relevan adalah konteks reputasi Microsoft dalam mendorong layanan default melalui sistem operasi. Di saat yang sama, Microsoft juga sedang menampilkan citra “bersih-bersih” dari ubin MSN, iklan, dan konten sponsor di berbagai komponen Windows.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)

Terjemahan inti artikel menyebut installer berukuran 22,2MB, lalu menampilkan layar “Welcome to Microsoft Recommended Search Settings”. Tombol toggle sudah berada di posisi “Yes” untuk menjadikan Bing sebagai mesin pencari, dan catatan kecil menyebut perubahan berlaku untuk Edge, Firefox, dan Chrome.

Setelah pengguna menekan “Accept and continue”, proses berakhir di layar “You’re all set!” dan tombol Finish. Menekan Finish membuka rewards.bing.com/m365offer di Microsoft Edge, yang oleh penulis sumber disebut sebagai “suap” agar pengguna bertahan di Bing.

Di sisi browser, Chrome dan Brave mendeteksi ekstensi baru bernama “Microsoft Bing Homepage & Search for Chrome”. Chrome memberi peringatan bahwa ekstensi dapat membaca dan mengubah data di semua situs, menampilkan notifikasi, serta mengubah homepage, search settings, dan start page ke bing.com.

Jika peringatan itu diabaikan dan ekstensi diaktifkan, Chrome memunculkan prompt “Change back to Google Search?”. Prompt tersebut menegaskan bahwa ekstensi Microsoft telah mengubah pencarian ke bing.com, dan menawarkan tombol “Change it back”.

Microsoft kemudian menambahkan kotak kedua bertuliskan “Wait, don’t change it back!”. Kotak itu memperingatkan bahwa revert akan mematikan ekstensi Bing dan menghilangkan akses ke Bing search serta wallpaper, lalu mendorong pengguna memilih “Keep it”.

Penulis sumber menyebut situasi ini “lucu” sekaligus mengganggu, karena dua raksasa teknologi berdebat di dalam browser pengguna. Ia juga merujuk laporan Windows Latest yang mencatat perang pop-up serupa pada Maret 2024, dengan pola prompt berlapis untuk mencegah revert ke Google.

Setelah Bing diterima, tab baru Chrome berubah menjadi feed MSN yang ramai dan berantakan. Penulis menggambarkannya sebagai beranda yang membuat pengguna “menyesali setiap keputusan” yang membawa mereka ke sana.

Analisisnya menjadi tajam ketika dibandingkan dengan prioritas rekayasa Microsoft. Artikel mengkritik bahwa Microsoft sudah memiliki banyak aplikasi WebView2 yang berat, dan menyebut contoh aplikasi Weather default yang memakai sekitar 1,2GB RAM namun masih menampilkan iklan.

Di titik ini, pertanyaan publik mengeras: mengapa energi engineering dipakai untuk membangun shell WinUI dengan WebView2, hanya untuk memasang ekstensi lintas browser? Kritiknya bukan sekadar soal Bing, tetapi soal arah desain produk yang mengutamakan distribusi dan “default capture” dibanding perbaikan kualitas.

Artikel juga memaparkan strategi dorongan Bing yang lebih luas. Microsoft kini mengizinkan login ke Bing memakai akun Google atau Apple, yang menghapus satu hambatan psikologis bagi pengguna non-Microsoft.

Microsoft bahkan pernah menggelar undian berhadiah US$1 juta untuk pengguna Bing, menurut artikel sumber. Penulis menilai itu menunjukkan betapa sulitnya menggoyang dominasi Google hanya lewat kualitas produk, apalagi ketika Bing sempat meniru desain homepage Google dan menuai kritik.

Di sisi data, artikel menyebut Satya Nadella mengonfirmasi Bing melampaui 1 miliar pengguna untuk pertama kalinya. Namun penulis tetap menilai Microsoft memilih “praktik abu-abu” untuk ekspansi, alih-alih fokus pada peningkatan mutu Bing saat momentum terbuka karena backlash atas dorongan AI di Google Search.

Temuan aplikasi ini pertama kali diungkap penguji Windows bernama Xeno Panther, yang menemukan MicrosoftSettings.exe dan fungsinya. Ia menyoroti pola: pengguna diminta mengganti default search ke Bing, lalu ditawari Rewards setelah setup selesai.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)

Jika sebuah aplikasi hanya dibuat untuk mengganti default search engine ke Bing, maka yang dipertaruhkan bukan fitur, melainkan kendali. Default adalah “pajak perhatian” yang dibayar pengguna setiap hari, dan Microsoft tampak memahami nilai ekonomi dari satu klik pencarian.

Masalahnya bukan sekadar promosi, melainkan desain persetujuan yang condong ke arah perusahaan. Toggle “Yes” sejak awal, ekstensi berizin luas, dan dorongan Rewards setelah instalasi membentuk rangkaian nudging yang sulit disebut netral.

Perang prompt di Chrome memperlihatkan bagaimana ekosistem saling mengunci, dan pengguna menjadi medan perebutan. Ketika Google memasang tombol “Change it back” dan Microsoft menimpali “Wait, don’t change it back!”, yang hilang adalah kesederhanaan pengalaman digital.

Microsoft memang berhak memasarkan Bing, namun cara mendorongnya akan menentukan kepercayaan jangka panjang. Ironisnya, perusahaan mengklaim merapikan MSN di Windows Search dan Widgets, tetapi justru menyalurkan MSN feed ke tab baru browser melalui ekstensi.

Di titik tertentu, strategi ini bisa berbalik arah, karena pengguna makin peka terhadap pola “dark pattern”. Jika Bing ingin menang di era baru pencarian, ia butuh argumen kualitas yang terasa, bukan sekadar jalan pintas lewat default dan imbalan.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)

Kisah MicrosoftSettings.exe menunjukkan satu hal yang sering luput: inovasi tidak selalu hadir sebagai fitur baru, tetapi sebagai cara baru menguasai kebiasaan lama. Mengubah mesin pencari default mungkin tampak remeh, namun dampaknya mengalir ke data, iklan, dan pola konsumsi informasi.

Publik berhak bertanya apakah “pilihan” masih pilihan ketika desain persetujuan dibuat berat sebelah. Jika perusahaan besar terus berlomba menciptakan pintu-pintu baru ke layanan mereka, siapa yang memastikan pintu keluar tetap mudah dibuka?

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Agustus 2026)