ARTJOG 2026 DIALOGUS: Payung Hitam, Aksi Kamisan, dan Seni Aktivisme
ORBITINDONESIA.COM – ARTJOG 2026 menampilkan DIALOGUS (Monumen Pembangkangan Sipil) dengan puluhan payung hitam menggantung, menggemakan Aksi Kamisan di depan Istana Negara. Instalasi ini tidak sekadar estetika, tetapi menagih ingatan publik atas pelanggaran HAM dan menyodorkan pertanyaan: sampai kapan negara membiarkan luka itu menggantung.
Payung hitam segera memanggil memori Aksi Kamisan, aksi damai yang rutin berlangsung sejak 2007 oleh korban dan keluarga korban pelanggaran HAM. Ia menjadi simbol ketekunan warga ketika jalur keadilan formal terasa buntu dan pengungkapan kebenaran berjalan lambat.
Di ARTJOG 2026, simbol itu dipindahkan ke ruang pamer yang biasanya aman bagi seni, tetapi sering canggung bagi politik. DIALOGUS memaksa pengunjung menyaksikan bahwa ruang seni pun bagian dari ruang publik yang diperebutkan.
Karya ini mempertemukan Dolorosa Sinaga, pematung senior sekaligus aktivis HAM, dengan 16 seniman muda alumni mata kuliah Aktivisme Seni di IKJ. Mata kuliah yang ia rintis sejak 2014 itu menjadikan seni sebagai latihan keberpihakan, bukan sekadar latihan teknik.
Secara material, DIALOGUS dibangun dari patung resin, lukisan akrilik, poster politis, stensil, arsip video, dan ratusan sticky notes untuk diisi pengunjung. Bentuknya seperti arsip hidup yang terus bertambah, sehingga karya tidak selesai di tangan seniman saja.
Model partisipatif ini menggeser pameran dari tontonan menjadi pertemuan, dari “melihat” menjadi “menyatakan.” Ia juga meniru logika Aksi Kamisan yang bertahan karena repetisi, dokumentasi, dan disiplin hadir di ruang publik.
Para seniman muda membawa isu yang beragam, dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga proyek Food Estate dan kekerasan terhadap aktivis. Keragaman itu memperlihatkan aktivisme seni tidak tunggal, tetapi berkelindan dengan kebijakan pangan, perampasan ruang hidup, dan keamanan warga.
Nirwan Sambudi mengangkat kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andri Yunus, pada Maret 2026. Ia menegaskan, “Pertanyaannya, bagaimana posisi masyarakat sipil hari ini ketika ruang demokrasi terasa semakin terancam?”
Di sisi lain, Nico Trisnando menampilkan stensil barisan aparat saat Aksi Kamisan, mengolah dokumentasi lapangan menjadi bahasa seni jalanan. Pilihan medium itu penting, karena street art lahir dari kebutuhan cepat, murah, dan langsung menyapa publik.
Dalam sesi Meet the Artist, Bagus Purwoadi menyebut para murid ingin menampilkan Dolorosa secara utuh sebagai seniman, pendidik, dan aktivis. Ia juga mengutip komentar kurator Hendro Wiyanto: “Ini sudah mendolu,” sebagai penanda pengaruh bahasa visual Dolorosa.
Pengaruh itu tidak berhenti pada gaya ekspresif, tetapi pada disiplin makna. Nirwan menyatakan, “Bu Dolo selalu mengingatkan bahwa tidak ada visual yang gratis,” sehingga elemen dekoratif dipangkas demi pesan yang lebih tajam.
Di titik ini, DIALOGUS bekerja seperti editorial visual: memilih fakta, menata penekanan, dan memotong gangguan. Ia mengajarkan bahwa estetika bukan lawan etika, tetapi kendaraan untuk menyeberangkan sikap ke ruang publik.
Yang paling mengganggu sekaligus penting dari DIALOGUS adalah keberaniannya merusak kenyamanan penonton seni. Payung-payung hitam itu tidak menawarkan hiburan, melainkan menagih posisi: Anda berdiri di mana ketika korban terus berdiri.
Namun, pertanyaan Ari, peserta Aksi Kamisan Jakarta yang hadir di ARTJOG, patut digarisbawahi. Ia mempertanyakan bagaimana isu yang beragam bisa tetap terhubung dalam satu gagasan besar tentang perjuangan masyarakat sipil.
Keragaman isu bisa menjadi kekuatan, tetapi juga risiko kehilangan fokus. Jika semua hal disebut “perlawanan,” maka perlawanan bisa berubah menjadi label estetis yang mudah dipajang, tetapi sulit diukur dampaknya.
Jawaban Nirwan bahwa seni adalah medium komunikasi memberi jembatan, tetapi komunikasi tetap membutuhkan arah. “Dari Aksi Kamisan kami belajar satu hal: jangan diam, lawan,” katanya, dan kalimat itu menuntut konsistensi di luar galeri.
Di sinilah ukuran etisnya: apakah pameran hanya memindahkan simbol perlawanan ke ruang seni, atau ikut memperluas jejaring advokasi. Sticky notes yang dikumpulkan, misalnya, bisa menjadi arsip kesaksian, tetapi juga bisa menguap jika tidak ditindaklanjuti.
Dolorosa lewat praktik Beranda Rakyat Garuda menunjukkan seni dapat menjadi simpul diskusi lintas komunitas. DIALOGUS tampak mengikuti jejak itu, yakni menjadikan karya sebagai ruang pertemuan antara seniman, korban, aktivis, dan warga biasa.
DIALOGUS di ARTJOG 2026 memperlihatkan seni aktivisme bukan slogan, melainkan kerja merawat ingatan dan menolak lupa. Payung hitam yang menggantung itu seperti jam yang tidak berdetak, tetapi terus mengingatkan bahwa waktu korban tidak pernah benar-benar berjalan.
Jika seni dapat menjadi ruang dialog, maka pertanyaan akhirnya sederhana dan keras: setelah keluar dari pameran, apakah kita kembali diam. Atau kita membawa pulang satu sikap kecil yang nyata, agar pembangkangan sipil tidak berhenti sebagai instalasi, tetapi menjadi kebiasaan membela kemanusiaan. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)