Pelindo Berbagi Qurban Palembang: 19 Hewan, CSR Pelabuhan Ring 1

islnewstv.com

islnewstv.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Pelindo Berbagi Qurban Palembang kembali digelar menjelang Idul Adha 1447 H, dengan distribusi 19 hewan kurban ke wilayah Ring 1 pelabuhan. Program CSR Pelindo ini menegaskan bahwa relasi perusahaan dan warga sekitar tidak boleh berhenti pada operasi logistik, tetapi juga menyentuh kebutuhan sosial paling dasar.

Di kota pelabuhan seperti Palembang, aktivitas bongkar muat dan arus truk berdampak langsung pada permukiman sekitar. Karena itu, CSR Pelindo di Palembang tidak sekadar agenda seremonial, melainkan instrumen merawat “izin sosial” agar operasional berjalan mulus dan konflik sosial dapat dicegah.

Dalam konteks Idul Adha, kurban menjadi simbol distribusi dan keadilan sosial yang mudah dipahami publik. Namun di sisi lain, kurban korporasi juga rentan dipersepsi sebagai pencitraan bila tidak disertai transparansi, pemerataan, dan kesinambungan program.

Pelindo Group Regional 2 Palembang menyalurkan 19 hewan kurban, terdiri dari 17 sapi dan 3 kambing, kepada masjid, RT, dan unsur pengamanan di Ring 1. Penerima disebut mencakup Masjid Nurul Ikhlas, Masjid Muhajirin, Masjid Ar-Ridho, serta RT di Lawang Kidul dan Sungai Lais.

Commercial Manager Pelindo Regional 2 Palembang, Darmawi, menekankan rutinitas tahunan program ini melalui TJSL perusahaan. Ia mengatakan, “Kami distribusikan hewan kurban setiap tahun… semoga kurban yang kami lakukan membawa berkah… dan menjadi ladang amal.”

Dari sisi pemerintah setempat, apresiasi datang dari Kecamatan Ilir Timur II yang diwakili Fajar Setiawan, SH. Ia menyebut bantuan Pelindo didistribusikan ke RT dan masjid di Ilir Timur II, termasuk Kelurahan Lawang Kidul dan Tiga Ilir, serta berharap manfaatnya tepat sasaran.

Secara naratif, Pelindo menautkan program ini dengan nilai AKHLAK sebagai budaya kerja BUMN dan misi pembangunan sosial berkelanjutan. Pernyataan tersebut memperkuat framing bahwa kinerja perusahaan tidak hanya diukur dari output bisnis, tetapi juga dari dampak sosial di sekitar pelabuhan.

Namun ukuran “dampak” perlu dibaca lebih kritis, karena angka 19 hewan kurban tidak otomatis setara dengan solusi bagi kerentanan ekonomi warga sekitar pelabuhan. Tanpa data penerima, mekanisme seleksi, dan pelaporan distribusi daging, publik sulit menilai apakah pemerataan benar-benar terjadi atau hanya berhenti pada daftar lokasi.

Di banyak program TJSL, tantangan utamanya adalah keberlanjutan dan pengukuran hasil, bukan sekadar penyerahan bantuan. Kurban memberi manfaat langsung, tetapi efeknya jangka pendek, sehingga idealnya menjadi pintu masuk untuk program lanjutan seperti pemberdayaan UMKM, kesehatan lingkungan, atau mitigasi dampak lalu lintas logistik.

Pelindo Berbagi Qurban Palembang dapat dibaca sebagai upaya merawat kohesi sosial di wilayah yang paling dekat dengan aktivitas pelabuhan. Di Ring 1, warga sering menjadi pihak pertama yang merasakan eksternalitas, sehingga kehadiran perusahaan melalui TJSL berfungsi sebagai jembatan komunikasi dan pengakuan.

Meski begitu, kurban korporasi seharusnya tidak diposisikan sebagai “hadiah” dari perusahaan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab yang terukur. Ketika bantuan juga diberikan kepada unsur keamanan dan pemangku kepentingan, publik berhak bertanya: apakah porsi untuk warga rentan sudah dominan, dan apakah ada indikator kebutuhan yang dipakai.

Di era keterbukaan, CSR Pelindo yang paling kuat adalah yang disertai transparansi, audit sederhana, dan pelaporan ringkas yang mudah diakses warga. Jika Pelindo ingin “tahun depan lebih banyak,” maka yang lebih penting adalah “tahun depan lebih tepat,” dengan data penerima, peta sebaran, dan evaluasi keluhan.

Program kurban Pelindo Regional 2 Palembang menunjukkan bahwa perusahaan pelabuhan dapat hadir sebagai mitra sosial, bukan sekadar operator jasa. Tetapi ukuran keberhasilan TJSL bukan hanya jumlah sapi dan kambing, melainkan seberapa adil, terbuka, dan berkelanjutan manfaatnya bagi Ring 1.

Idul Adha mengajarkan pengorbanan dan ketepatan sasaran, bukan sekadar penyerahan. Pertanyaannya kini, setelah daging dibagikan, langkah apa yang akan diambil agar warga sekitar pelabuhan merasakan perbaikan yang lebih permanen dalam kualitas hidup mereka.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)