Soundtrack Na Willa: Laleilmanino Bawa Nuansa Klasik 1960-an

Medcom.id

Medcom.id

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Soundtrack Na Willa garapan Laleilmanino lewat lagu “Sikilku Iso Muni” menonjol karena memilih nuansa klasik 1960-an, bukan formula pop instan. Di tengah pasar OST film Indonesia yang kian kompetitif, pilihan ragtime dan jazz vintage ini terasa seperti pernyataan estetika sekaligus taruhan naratif.

Laleilmanino kembali dipercaya mengisi original soundtrack film, kali ini untuk film anak Na Willa besutan sutradara Ryan Adriandhy dan diproduksi Visinema Pictures. Kepercayaan ini datang setelah mereka meraih AMI Awards 2025 untuk kategori Karya Produksi Original Soundtrack Terbaik lewat lagu “Selalu Ada di Nadimu” dari film Jumbo (2025).

Namun Na Willa tidak sekadar membutuhkan lagu yang mudah viral, melainkan musik yang bisa menempel pada dunia anak-anak yang spesifik dan penuh detail emosi. Karena itu, “Sikilku Iso Muni” lahir dari satu adegan kunci yang mengikat cerita, karakter, dan pesan film.

Dalam jumpa pers di Epicentrum XXI pada 10 Maret 2026, Nino mengungkap sumber ide yang sangat konkret dan sinematik. “Adegan dimana Dul akhirnya terlihat kakinya berganti dengan kaki palsu,” kata Nino, lalu menegaskan jargon “Sikilku Iso Muni” sebagai simpul penting cerita.

Keputusan membuat lagu dari adegan spesifik menunjukkan logika kerja OST yang disiplin: musik menjadi perangkat dramaturgi, bukan sekadar tempelan promosi. Ketika lagu berangkat dari momen transformasi karakter Dul, maka melodi dan lirik diarahkan untuk memperbesar empati penonton, bukan hanya memancing hafalan.

Pilihan nuansa musik vintage era 1960-an juga menarik karena menolak kecenderungan produksi soundtrack modern yang seragam dan “radio-ready.” Nino menyebut mereka diminta membangun “moodnya, suasananya seperti vintage, klasik tahun 60-an,” lalu memilih ragtime dengan “suasana jazznya juga era-era 60-an.”

Ragtime dan jazz, jika dieksekusi tepat, punya kualitas ritmis yang lincah sekaligus hangat, cocok untuk film anak yang ingin terasa playful tanpa menggurui. Di sisi lain, gaya ini berisiko terasa “asing” bagi telinga yang terbiasa dengan pop digital, sehingga penempatan dalam adegan dan mixing menjadi penentu keberhasilan.

Dari sisi produksi, proses yang cepat pada versi awal memperlihatkan keahlian mereka merumuskan ide menjadi bentuk lagu dengan efisien. Nino menyebut “versi pertama” selesai “dalam waktu beberapa jam,” lalu berlanjut revisi hingga “total-total mungkin sekitar semingguan.”

Kecepatan bukan selalu indikator kualitas, tetapi pada kerja soundtrack, respons cepat justru sering dibutuhkan agar musik selaras dengan ritme penyuntingan film. Catatan revisi dari tim film juga menandakan kolaborasi yang sehat, karena soundtrack idealnya lahir dari dialog kreatif, bukan ego satu pihak.

Secara industri, kemenangan AMI 2025 untuk OST Jumbo menempatkan Laleilmanino dalam posisi “benchmark” bagi proyek berikutnya. Situasi ini bisa menjadi beban, karena publik sering menuntut pengulangan resep yang sama, padahal konteks film anak berbeda-beda dan menuntut pendekatan yang lebih spesifik.

Yang paling tajam dari cerita “Sikilku Iso Muni” adalah keberanian menjadikan musik sebagai bahasa karakter, bukan bahasa pasar. Ketika lirik dan tema diikat pada pengalaman anak yang menghadapi perubahan tubuh dan penerimaan diri, soundtrack berpotensi menjadi ruang aman emosional bagi penonton muda.

Namun ada pertanyaan kritis yang perlu diajukan: seberapa jauh nuansa klasik 1960-an ini benar-benar dibutuhkan oleh cerita, dan bukan sekadar estetika yang “terdengar keren.” Jika gaya vintage hanya menjadi kostum, ia akan cepat lepas dari memori penonton, tetapi jika ia menyatu dengan dramaturgi, ia akan hidup lebih lama dari masa tayang film.

Pernyataan Nino bahwa mereka “nggak pernah menaruh ekspektasi berlebihan” bisa dibaca sebagai strategi menjaga kewarasan kreatif di tengah tekanan komersial. Sikap ini penting, tetapi tetap perlu diimbangi dengan ambisi artistik yang terukur, karena industri film dan musik Indonesia sedang membutuhkan karya yang bukan hanya laku, melainkan juga membentuk standar baru.

Soundtrack Na Willa lewat “Sikilku Iso Muni” menempatkan Laleilmanino pada jalur yang menarik: mengolah adegan kunci menjadi lagu, lalu membungkusnya dengan ragtime dan jazz vintage 1960-an. Ini bukan sekadar produksi cepat, melainkan pilihan estetika yang berpotensi memperdalam pengalaman menonton.

Jika lagu ini berhasil, dampaknya bukan hanya pada tangga lagu, melainkan pada cara kita memandang OST sebagai bagian dari narasi dan pendidikan emosi anak. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah kita siap memberi ruang bagi soundtrack film Indonesia untuk lebih berani, lebih spesifik, dan lebih manusiawi.

(Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)