Edukasi Anti Perundungan SD Semarang: Kampanye Komunikasi Positif

Suara Merdeka

Suara Merdeka

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Edukasi anti perundungan di SD Semarang kembali disorot lewat kampanye komunikasi positif yang menyasar siswa sekolah dasar. Di SD Negeri Peterongan 01, pendekatan interaktif dipakai untuk menanamkan relasi sosial sehat sejak dini.

Perundungan di sekolah kerap tumbuh dari kebiasaan kecil yang dibiarkan menjadi budaya, lalu dianggap sekadar “candaan”. Ketika empati tidak dilatih, ruang kelas mudah berubah menjadi arena dominasi yang melukai anak paling rentan.

Di Indonesia, isu ini bukan sekadar kesan, karena laporan resmi terus muncul dari tahun ke tahun. Data KPAI kerap menunjukkan aduan kekerasan di satuan pendidikan masih tinggi, dan perundungan menjadi salah satu pola yang berulang.

Karena itu, edukasi hubungan sosial sehat perlu masuk lebih awal, bukan menunggu anak remaja. Sekolah dasar adalah fase pembentukan bahasa, sikap, dan standar “normal” dalam pergaulan.

Kampanye yang dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi USM di SD Negeri Peterongan 01 Semarang menekankan komunikasi positif sebagai keterampilan, bukan sekadar nasihat. Pesan utamanya sederhana, yakni saling menghargai, menghormati, dan menjauhi perilaku perundungan di lingkungan sekolah.

Seorang narasumber dalam kegiatan itu menegaskan urgensi edukasi relasi sosial sehat bagi siswa SD. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak, karena memberikan pemahaman tentang sikap saling menghargai, menghormati, dan menjauhi perilaku perundungan di lingkungan sekolah,” katanya.

Metode penyampaian menjadi kunci, karena anak SD belajar lebih cepat lewat contoh, permainan, dan interaksi, bukan ceramah panjang. Wali kelas 5, Titin Munarsih SPd, menilai model interaktif membuat materi lebih mudah diterima siswa.

“Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan ini,” ujar Titin. Ia menambahkan, “Edukasi seperti ini penting untuk membentuk karakter siswa agar lebih peduli, empati, dan mampu menjalin hubungan yang sehat dengan teman-temannya.”

Dari sisi tren, pendekatan berbasis keterampilan sosial selaras dengan rekomendasi global untuk pencegahan kekerasan di sekolah. UNESCO dalam berbagai laporan tentang school violence and bullying menekankan pentingnya iklim sekolah yang aman, pendidikan sosial-emosional, serta keterlibatan komunitas sekolah.

Namun, kampanye satu kali tidak otomatis mengubah budaya, karena perundungan sering berulang dalam pola yang sama. Dampak yang lebih tahan lama biasanya muncul ketika ada penguatan rutin dari guru, aturan kelas yang konsisten, dan mekanisme pelaporan yang dipercaya siswa.

Di titik ini, sinergi perguruan tinggi dan sekolah dasar menjadi nilai tambah, karena sekolah mendapat energi, materi, dan perspektif baru. Mahasiswa juga mendapat ruang pengabdian yang menguji apakah teori komunikasi benar-benar bisa bekerja di ruang kelas nyata.

Kampanye komunikasi positif patut diapresiasi, tetapi harus dibaca sebagai pemantik, bukan solusi final. Jika sekolah hanya mengandalkan kegiatan insidental, pesan anti perundungan mudah kalah oleh kebiasaan lama yang diam-diam ditoleransi.

Perubahan budaya menuntut keberanian institusi untuk menamai perundungan sebagai pelanggaran, bukan dinamika biasa antar anak. Guru perlu dukungan pelatihan, karena tidak semua pendidik punya perangkat menangani konflik, mediasi, dan pemulihan relasi.

Di sisi lain, anak juga perlu dilatih bahasa untuk menolak, melapor, dan membela teman tanpa memperbesar konflik. Komunikasi positif yang diajarkan harus diterjemahkan menjadi kalimat praktis yang bisa dipakai di kantin, lapangan, dan grup pertemanan.

Yang sering luput adalah peran orang tua, karena pola komunikasi di rumah ikut membentuk cara anak memperlakukan teman. Jika rumah memvalidasi ejekan sebagai humor, sekolah akan bekerja dua kali lebih berat untuk membangun empati.

Karena itu, kampanye semacam ini idealnya ditutup dengan rencana tindak lanjut yang terukur. Sekolah bisa membuat kesepakatan kelas, jadwal penguatan mingguan, dan kanal pelaporan yang aman agar anak tidak merasa sendirian.

Edukasi anti perundungan di SD Semarang lewat kampanye komunikasi positif menunjukkan satu hal, yakni karakter bisa diajarkan melalui praktik, bukan sekadar slogan. Harapan mahasiswa Ilkom USM agar siswa menerapkan komunikasi positif sehari-hari menjadi masuk akal jika sekolah mengubahnya menjadi kebiasaan kolektif.

Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak belajar membaca dan berhitung, tetapi tempat mereka belajar menjadi manusia yang layak bagi manusia lain. Pertanyaannya, beranikah kita memastikan tidak ada satu pun anak yang pulang membawa luka sosial yang seharusnya bisa dicegah? (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)