Pochettino Tegang Usai USMNT Kalah Turki, Tetap Juara Grup

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Mauricio Pochettino menutup jumpa pers dengan nada dingin dan menantang setelah USMNT kalah 2-3 dari Turki di Piala Dunia 2026. Namun ia menegaskan satu hal yang menurutnya luput dari sorotan: Amerika Serikat tetap finis sebagai juara Grup D.

Kekalahan itu terjadi dramatis, karena Turki mencetak gol penentu pada menit kedelapan injury time dengan sentuhan terakhir pertandingan. Meski begitu, posisi puncak grup sudah dikunci USMNT sejak dua laga awal, sehingga laga di SoFi Stadium lebih mirip uji coba berisiko rendah.

Pochettino melakukan rotasi besar, hanya Ricardo Pepi dan Weston McKennie yang tetap jadi starter dari laga sebelumnya melawan Australia. Empat pemain inti yang terancam akumulasi kartu kuning—Tyler Adams, Folarin Balogun, Chris Richards, dan Antonee Robinson—tidak dimainkan karena kartu kuning akan dihapus setelah fase grup.

Dari sisi permainan, Amerika sempat unggul lewat gol Auston Trusty, lalu Sebastian Berhalter menyamakan kedudukan di awal babak kedua. Turki tampil lebih tajam pada momen kunci, dengan Arda Guler mencetak gol dan menjadi pengatur serangan paling menentukan.

Fakta penting bagi USMNT adalah kembalinya Christian Pulisic pada menit ke-58 setelah cedera betis yang membuatnya keluar di babak pertama saat melawan Paraguay. Pochettino menyebut targetnya bukan sekadar menang, melainkan memberi Pulisic 30-40 menit agar siap di babak gugur.

Pulisic bergerak normal dan langsung menjadi ancaman paling berbahaya di lini depan Amerika setelah masuk menggantikan Tim Weah. Ada catatan pahit, karena ia sempat dilewati Guler dalam proses gol kemenangan Turki, tetapi penampilannya meredakan kekhawatiran soal kondisi fisik.

Secara hasil, USMNT mengoleksi enam poin dan secara teknis mencatat performa fase grup terbaik sepanjang sejarah mereka. Rekor itu disejajarkan dengan tim 1930, meski format poin saat itu berbeda karena kemenangan bernilai dua poin, bukan tiga.

Di ruang konferensi pers, Pochettino tidak sekadar marah karena kalah, melainkan karena merasa narasi publik mengabaikan konteks strategis. Ia menyindir media yang memberi selamat pada tim lain yang lolos, tetapi tidak mengucapkan selamat pada Amerika yang memenangi grup.

Kalimatnya tajam: “Saya perlu mengingatkan semua orang, kami memenangkan grup.” Ia bahkan menilai pertanyaan tentang “momentum” janggal, karena memainkan tim terbaik justru berisiko kartu kuning dan cedera menjelang babak 32 besar.

Di titik ini, Pochettino tampak sedang mengendalikan ekspektasi dengan cara yang keras. Ia ingin publik menilai Piala Dunia sebagai maraton taktis, bukan sekadar emosi satu pertandingan, meski gaya komunikasinya berpotensi menambah jarak dengan media.

Namun kritik juga layak diarahkan pada USMNT, karena kebobolan pada detik terakhir bukan sekadar nasib. Rotasi memang masuk akal, tetapi konsentrasi dan manajemen momen akhir adalah kualitas tim besar yang tidak boleh ikut “dirotasi”.

Amerika Serikat akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar di Santa Clara, California, Rabu depan, dan Pochettino percaya timnya “jauh lebih baik” dibanding sebelumnya. Kekalahan dari Turki bisa menjadi alarm yang sehat, asalkan tidak berubah menjadi pembenaran.

Piala Dunia sering dimenangkan oleh tim yang mampu memelihara detail kecil saat sorotan sedang redup. Pertanyaannya kini sederhana: apakah USMNT akan memakai luka menit terakhir ini sebagai bahan bakar, atau justru membiarkannya menjadi retak yang membesar di fase gugur. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Juli 2026)