Coinbase Prediction Markets Tuai Protes, Notifikasi March Madness Disorot

TradingView

TradingView

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Coinbase Prediction Markets memicu kemarahan pengguna setelah notifikasi “taruhan” March Madness membanjiri ponsel mereka. Di saat kepercayaan pada industri kripto masih rapuh, promosi event-contract betting justru terasa seperti langkah yang salah arah.

Pada Januari, Coinbase meluncurkan fitur prediction market untuk pengguna AS lewat kemitraan dengan Kalshi. Produk ini memungkinkan pengguna memasang event-contract bets atas hasil berbagai peristiwa, termasuk pertandingan olahraga seperti March Madness.

Keluhan meledak ketika notifikasi promosi muncul berulang dalam waktu singkat. Pengguna X bernama AvgJoesCrypto menulis, “I have received three separate notifications about College Basketball from Coinbase in the past hour alone.”

Keluhan itu bukan sekadar soal gangguan, melainkan soal identitas platform. Coinbase selama ini dipahami sebagai aplikasi trading kripto, bukan pintu masuk “sports gambling” yang agresif.

Prediction markets berada di wilayah abu-abu antara inovasi finansial dan praktik perjudian. Platform seperti Kalshi dan Polymarket menawarkan kontrak berbasis peristiwa, tetapi banyak negara bagian menilai produk itu mirip taruhan yang memerlukan pengawasan lokal.

Artikel ini mencatat adanya beberapa gugatan otoritas tingkat negara bagian terhadap platform prediction market. Di sisi lain, CFTC justru mendorong “exclusive jurisdiction” untuk mengatur pasar tersebut, sehingga tarik-menarik kewenangan menjadi konflik yang belum selesai.

Coinbase tampak menyiapkan posisi hukumnya lebih dulu. Pada Desember, sebelum layanan diluncurkan, Coinbase menggugat regulator di Connecticut, Illinois, dan Michigan, dengan argumen bahwa CFTC, bukan otoritas perjudian negara bagian, yang berwenang.

Namun strategi legal tidak otomatis menyelesaikan problem reputasi. Di tengah “worst collapse in trust” yang disebut pengguna, promosi taruhan terasa seperti memperluas sumber fee, bukan memperbaiki tata kelola.

John Palmer, co-founder PartyDAO, menyorot implikasi budaya risiko di internal perusahaan. Ia menulis, “This is essentially encouraging me to gamble,” lalu mempertanyakan apakah pengguna bisa percaya pada manajemen risiko dan sumber yield, termasuk pada layanan bunga USDC.

Di sinilah isu notifikasi berubah menjadi isu kepercayaan. Jika sebuah aplikasi mendorong perilaku spekulatif demi engagement, publik wajar bertanya apakah prinsip kehati-hatian juga longgar pada produk lain.

Coinbase CEO Brian Armstrong merespons di X dan menyebut notifikasi itu sebagai “bug.” Ia meminta maaf dan berkata, “Clearly, we missed the mark in this case,” sambil menjanjikan perbaikan keseimbangan antara promosi dan preferensi pengguna.

Tetapi penjelasan “bug” tidak menutup pertanyaan desain produk. Notifikasi adalah alat pertumbuhan paling efektif, sehingga publik akan menilai apakah ini kesalahan teknis atau logika bisnis yang terlalu agresif.

Di level politik, prediction markets juga memantik kekhawatiran etika. Tuduhan bahwa orang dalam pemerintahan dan lingkaran politik memanfaatkan Polymarket untuk meraup untung dari isu sensitif, seperti rumor pencopotan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, mendorong rancangan aturan pelarangan bagi presiden AS dan anggota Kongres.

Kalshi dan Polymarket mengumumkan kebijakan pembatasan untuk menekan insider trading. Kalshi menyatakan akan melarang kandidat politik memperdagangkan kontrak terkait kampanyenya, sementara Polymarket menambah langkah untuk membatasi pasar yang mudah dimanipulasi atau sensitif secara etika.

Kontroversi Coinbase Prediction Markets menunjukkan problem klasik teknologi finansial: inovasi sering dipasarkan lebih cepat daripada kedewasaan tata kelola. Ketika promosi event-contract betting masuk lewat notifikasi, batas antara “produk informasi” dan “produk adiksi” menjadi kabur.

Coinbase bisa berargumen bahwa prediction market adalah instrumen harga dan probabilitas. Namun di mata pengguna ritel, notifikasi March Madness lebih terasa sebagai ajakan berjudi, apalagi ketika datang berulang dan tanpa konteks edukasi risiko.

Di era kripto, narasi “kebebasan finansial” mudah berubah menjadi “kebebasan untuk spekulasi tanpa rem.” Jika platform terbesar di AS terlihat mengejar volume lewat taruhan olahraga, maka pesan yang tersampaikan adalah: fee lebih penting daripada pemulihan kepercayaan.

Masalahnya bukan hanya apakah legal di bawah CFTC atau negara bagian. Masalahnya adalah apakah perusahaan mempraktikkan desain yang menghormati pilihan pengguna, mencegah perilaku kompulsif, dan transparan tentang risiko serta probabilitas kerugian.

Armstrong menyebut perlunya “balance,” tetapi keseimbangan tidak lahir dari permintaan maaf saja. Keseimbangan lahir dari pengaturan default opt-out, segmentasi notifikasi yang ketat, audit internal atas growth tactics, dan pembuktian bahwa risk management tidak dikompromikan demi engagement.

Coinbase Prediction Markets sedang menguji batas reputasi industri kripto di mata publik arus utama. Ketika satu notifikasi terasa seperti “bug,” tiga notifikasi dalam sejam terasa seperti strategi.

Jika prediction markets ingin diterima sebagai inovasi finansial, ia harus membuktikan diri bukan sekadar versi baru dari perjudian yang dibungkus UI modern. Pertanyaannya sederhana: apakah platform akan membangun kepercayaan lewat disiplin, atau memburu pertumbuhan lewat dorongan spekulasi yang makin sulit dibedakan dari candu? (Orbit dari berbagai sumber, 6 Agustus 2026)