Her Ritual Wellness Day: Melukis Mimpi Anak Panti Ar-Raihan
ORBITINDONESIA.COM – Her Ritual Wellness Day menggabungkan wellness dan kepedulian sosial lewat sesi “Melukis Mimpi” bersama anak panti Ar-Raihan. Di atas kanvas sederhana, Raisya menulis cita-cita jadi CEO agar bisa berbagi kebahagiaan dan bersedekah kepada yang tidak mampu.
Tren wellness di Indonesia kian ramai, tetapi sering berhenti pada konsumsi dan perawatan diri yang bersifat privat. Pada saat yang sama, anak-anak panti hidup dengan akses yang terbatas pada ruang ekspresi, jejaring sosial, dan dukungan psikologis yang konsisten.
Di celah itulah Her Ritual masuk dengan format yang tidak lazim untuk acara donasi biasa. Mereka memulai dengan lantunan Al-Qur’an dari Bisma Mujtaba Shodiq dan Addaruqutni Lubaid, lalu menggeser fokus ke interaksi yang membuat anak panti menjadi subjek, bukan objek belas kasihan.
Sesi “Melukis Mimpi” bekerja seperti jembatan antara self-care dan social care, karena anak-anak diminta menamai masa depan mereka sendiri. Ketika mimpi ditulis, ia berubah dari angan-angan menjadi narasi yang bisa diingat, dibicarakan, dan diperjuangkan.
Beragam profesi yang muncul—tahfidz, diplomat, polisi, guru—menunjukkan imajinasi anak panti tidak sempit, hanya sering tidak mendapat panggung. Di titik ini, kanvas menjadi alat literasi harapan, sementara pendampingan Her Friends menjadi pengakuan sosial yang jarang mereka terima.
Namun, acara seperti ini juga menyimpan risiko menjadi “kebaikan sesaat” jika berhenti pada momen yang fotogenik. Tanpa kesinambungan, dampak emosionalnya bisa menguap, dan anak-anak kembali pada rutinitas yang sama tanpa dukungan lanjutan.
Pernyataan Nadisa, Founder Her Ritual, menegaskan arah yang lebih luas dari sekadar event. “Kami percaya wellness bukan hanya tentang merawat diri sendiri,” ujarnya, seraya menekankan ketenangan yang dibagikan sebagai ukuran makna.
Secara global, konsep ini sejalan dengan pergeseran definisi kesehatan yang memasukkan dimensi mental dan sosial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, bukan semata ketiadaan penyakit.
Jika definisi itu dipakai sebagai kompas, maka wellness yang hanya menjual relaksasi tanpa relasi sosial terasa timpang. Her Ritual mencoba menambal ketimpangan itu dengan menempatkan kepedulian sebagai bagian dari ritual, bukan tambahan opsional.
Yang paling kuat dari kisah ini bukan produk self-care, melainkan pergeseran posisi: anak panti tidak diminta “bersyukur”, tetapi diminta “berani bermimpi”. Kalimat Ica tentang menjadi CEO untuk bersedekah memotong stigma bahwa ambisi hanya milik mereka yang lahir dalam privilese.
Di sisi lain, publik perlu kritis agar gerakan wellness tidak berubah menjadi strategi pemasaran yang memanfaatkan narasi kemanusiaan. Ukuran keberhasilannya mestinya bukan ramai unggahan, melainkan apakah ada jejak pendampingan, akses belajar, atau jejaring yang bertahan setelah acara selesai.
Jika Her Ritual ingin memimpin “wellness inklusif”, maka inklusif berarti juga transparan dan terukur. Misalnya lewat program berkelanjutan, kolaborasi dengan lembaga pendidikan, atau pelaporan dampak sosial yang bisa diperiksa publik.
Di ruangan itu, lantunan ayat suci membuka acara, lalu mimpi-mimpi kecil menutup jarak antara “yang memberi” dan “yang menerima”. Her Friends pulang dengan refleksi bahwa hidup hari ini bisa jadi doa masa lalu, sementara anak-anak pulang dengan bukti bahwa suara mereka layak didengar.
Pertanyaannya, apakah kita siap menjadikan wellness sebagai kebiasaan yang juga merawat orang lain, bukan hanya diri sendiri. Sebab ketenangan yang paling tahan lama sering lahir ketika harapan orang lain ikut kita jaga. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)