Survei EY 2025: Adopsi GenAI India Tertinggi, Talent Health Menguat

ORBITINDONESIA.COM – Survei EY 2025 Work Reimagined menempatkan India sebagai pemimpin adopsi GenAI, dengan 88% karyawan mengaku sudah memakainya dalam pekerjaan. Di saat banyak negara masih berdebat soal risiko, angka ini menunjukkan GenAI telah menjadi kebiasaan kerja baru, bukan sekadar uji coba.

Ledakan GenAI memaksa perusahaan mengubah cara merekrut, melatih, dan mengukur produktivitas. Namun perubahan cepat ini juga memunculkan pertanyaan lama yang kembali relevan: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang tertinggal.

Dalam lanskap itu, EY 2025 Work Reimagined Survey menjadi cermin yang menarik karena tidak hanya mengukur adopsi, tetapi juga kesehatan talenta. India menonjol bukan cuma karena pemakaian GenAI tinggi, tetapi juga karena skor Talent Health tertinggi, 82%.

Angka 88% adopsi GenAI di kalangan karyawan India mengindikasikan dua hal sekaligus: akses alat yang luas dan legitimasi penggunaan di tempat kerja. Ketika penggunaan sudah masif, perdebatan bergeser dari “boleh atau tidak” menjadi “bagaimana mengatur dan mengoptimalkan”.

Skor Talent Health 82% menunjukkan banyak pekerja merasa relatif baik dalam aspek seperti keterlibatan, kesejahteraan, dan kesiapan menghadapi perubahan. Tetapi skor tinggi bukan jaminan, karena kesehatan talenta bisa rapuh jika beban kerja meningkat tanpa desain kerja yang manusiawi.

EY menekankan kebutuhan strategi AI yang human-centred, yakni AI yang dirancang untuk memperkuat manusia, bukan menggantikannya secara membabi buta. Dalam praktiknya, ini berarti pelatihan yang merata, tata kelola yang jelas, dan transparansi tentang bagaimana AI memengaruhi penilaian kinerja.

Di banyak organisasi, GenAI sering masuk lewat “jalur cepat”: karyawan menggunakan alat publik untuk menulis, merangkum, atau membuat presentasi. Jika perusahaan tidak menyediakan platform aman dan panduan yang tegas, risiko kebocoran data dan bias keputusan justru meningkat bersamaan dengan produktivitas.

Keunggulan India juga bisa dibaca sebagai hasil ekosistem talenta digital yang matang dan budaya adaptasi teknologi yang kuat. Namun adopsi masif sering menyembunyikan ketimpangan, karena kelompok pekerja non-digital bisa tersisih dari peluang upskilling.

Tren global menunjukkan perusahaan mulai mengukur “AI readiness” sebagai kompetensi inti, sejajar dengan literasi data. Dalam kerangka itu, Talent Health menjadi indikator penting, karena transformasi teknologi yang sukses biasanya gagal bukan pada alat, melainkan pada kelelahan, resistensi, dan hilangnya rasa aman.

Keberhasilan India memimpin adopsi GenAI seharusnya tidak dibaca sebagai kemenangan teknologi semata. Ini adalah ujian kepemimpinan: apakah manajemen mampu mengubah lonjakan produktivitas menjadi peningkatan kualitas kerja, bukan sekadar target lebih tinggi.

Strategi human-centred AI terdengar normatif, tetapi justru di situlah pertaruhan paling nyata. Tanpa perlindungan yang konkret, “berpusat pada manusia” bisa berubah menjadi slogan yang menutupi otomatisasi diam-diam dan pengawasan berlebihan.

Skor Talent Health 82% patut diapresiasi, namun perlu dibedah: sehat menurut siapa dan untuk siapa. Jika kesehatan talenta hanya diukur dari output dan kepuasan sesaat, perusahaan bisa luput melihat kecemasan jangka panjang tentang karier, upah, dan relevansi keterampilan.

GenAI juga mengubah definisi kompetensi, karena kemampuan bertanya, memverifikasi, dan mengambil keputusan menjadi lebih penting daripada sekadar menulis cepat. Maka kebijakan yang paling adil bukan hanya memberi akses alat, tetapi juga memberi waktu belajar dan ruang aman untuk bereksperimen tanpa takut dihukum.

India yang unggul hari ini memberi pelajaran bagi negara lain: percepatan teknologi harus diimbangi dengan kontrak sosial baru di tempat kerja. Kontrak itu mencakup transparansi penggunaan AI, standar etika, dan komitmen bahwa peningkatan efisiensi akan kembali ke pekerja dalam bentuk pengembangan dan kesejahteraan.

Survei EY 2025 Work Reimagined memperlihatkan India memimpin adopsi GenAI dengan 88% karyawan dan mencatat Talent Health tertinggi 82%. Namun angka-angka ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan dini: transformasi yang cepat membutuhkan desain kerja yang lebih manusiawi dan tata kelola yang lebih tegas.

Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi menentukan arah masa depan kerja: ketika GenAI membuat kita lebih cepat, apakah kita juga menjadi lebih bijak, lebih adil, dan lebih sehat sebagai organisasi. Jika jawabannya belum jelas, mungkin masalahnya bukan pada AI, melainkan pada cara kita memilih memimpin perubahan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)