Bullying NHS Portsmouth: Skandal Budaya Kerja dan Investigasi Internal

ORBITINDONESIA.COM – Kasus bullying NHS Portsmouth kembali mengemuka setelah sejumlah mantan staf Portsmouth Hospitals University Trust (PHU) berbicara kepada BBC. Mereka menggambarkan budaya kerja yang “toxic” dan sulit dihindari karena para pelaku berada di lingkar kerja yang sama. Salah satu nama yang disorot adalah Harvey Cooper, mantan pekerja NHS yang mengaku mengalami tekanan fisik dan mental hingga memilih resign.

Tuduhan ini tidak berdiri pada satu insiden, melainkan membentang selama satu dekade di lingkungan PHU, termasuk di Queen Alexandra Hospital (QA) Cosham. BBC melaporkan dugaan perundungan dan pelecehan di tempat kerja yang menempel kuat dalam rutinitas layanan, terutama di area A&E yang serba cepat. Di tengah tekanan itu, muncul pula kritik terhadap investigasi internal yang disebut “flawed and unfair”.

Puncak tragedi yang disebut dalam laporan adalah kematian manajer A&E, Sam Carter, yang mengakhiri hidupnya pada 2022. Laporan menyiratkan bahwa proses investigasi internal ikut memberi beban psikologis yang memperparah situasi. PHU merespons dengan pernyataan bahwa mereka “committed to learning, improving, and fostering an inclusive and supportive environment”.

Kesaksian Harvey Cooper memberi gambaran tentang pola perundungan yang tidak selalu berbentuk teriakan atau ancaman, tetapi hadir sebagai atmosfer harian yang melelahkan. Ia mengatakan suasana itu “toxic from start to finish” dan mustahil menghindari orang-orang tertentu karena harus bekerja bersama mereka. Ia bergabung pada Mei 2022 sebagai Emergency Medical Assistant (EMA) dengan tugas memindahkan pasien di A&E, pekerjaan yang menuntut fisik dan ketahanan mental.

Dalam organisasi layanan kesehatan, tekanan kerja tinggi sering dipakai sebagai alasan untuk “keras”, tetapi alasan itu mudah berubah menjadi pembenaran untuk perilaku merendahkan. Ketika budaya kerja membiarkan intimidasi menjadi norma, korban tidak hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga kehilangan energi untuk melapor. Akibatnya, kasus tampak “sunyi” di permukaan, padahal luka menumpuk di bawahnya.

Masalah inti dalam laporan ini bukan sekadar ada atau tidaknya pelaku, melainkan kualitas mekanisme akuntabilitas. Investigasi internal yang dianggap “flawed and unfair” menunjukkan risiko konflik kepentingan dan bias institusional, terutama bila prosesnya dikendalikan oleh struktur yang sama dengan pihak yang diadukan. Jika proses pencarian fakta dipersepsikan tidak adil, organisasi bukan hanya gagal menyelesaikan masalah, tetapi juga memperdalam ketidakpercayaan.

Kematian Sam Carter pada 2022 menjadi alarm keras tentang konsekuensi psikologis dari kultur kerja yang toksik. Dalam konteks layanan publik seperti NHS, dampaknya tidak berhenti pada staf, tetapi bisa merembet pada kualitas layanan pasien. Staf yang tertekan cenderung mengalami burnout, absen, atau keluar, dan semua itu menambah beban rekan kerja yang tersisa.

Pernyataan PHU tentang komitmen “learning and improving” penting, tetapi publik biasanya menuntut ukuran yang bisa diuji. Transparansi prosedur, perlindungan pelapor, dan audit independen menjadi elemen yang sering dianggap lebih kredibel daripada janji perbaikan. Tanpa itu, komitmen mudah dibaca sebagai manuver reputasi, bukan reformasi sistem.

Kasus bullying NHS Portsmouth memperlihatkan paradoks lembaga kesehatan: tempat menyembuhkan orang lain, tetapi kadang gagal merawat manusia di dalamnya. Ketika perundungan menjadi “cara kerja”, organisasi sebenarnya sedang menormalisasi kekerasan psikologis sebagai alat manajemen. Ini bukan sekadar persoalan individu bermasalah, tetapi desain budaya yang membiarkan kekuasaan kecil bekerja tanpa kontrol.

Kritik paling tajam seharusnya diarahkan pada rantai kepemimpinan dan tata kelola, bukan hanya pada pelaku lapangan. Budaya toksik bertahan karena ada pembiaran, ada rasa takut, dan ada insentif untuk menutup rapat demi citra. Jika investigasi internal tidak dipercaya, maka keadilan organisasi berubah menjadi formalitas, dan korban dipaksa memilih antara diam atau pergi.

Kesaksian Harvey yang resign karena distress fisik dan mental menunjukkan harga yang dibayar staf ketika sistem tidak melindungi. Di ruang gawat darurat, tekanan tidak bisa dihapus, tetapi penghinaan dan pelecehan bisa dicegah melalui aturan yang tegas dan penegakan yang konsisten. NHS, sebagai simbol layanan publik, justru berkewajiban menjadi contoh bagaimana tempat kerja beradab dibangun di tengah krisis.

Investigasi BBC tentang Portsmouth Hospitals University Trust menegaskan bahwa bullying di tempat kerja bukan isu “internal” bila sudah merusak hidup orang dan mengancam keselamatan layanan. Kesaksian mantan staf, termasuk Harvey Cooper, memperlihatkan betapa kultur toksik dapat mengikis kesehatan mental dan mendorong orang keluar dari profesi. Pernyataan komitmen perbaikan dari trust perlu diuji lewat tindakan yang terukur, transparan, dan independen.

Pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menentukan: apakah organisasi akan mengubah budaya, atau hanya mengelola narasi. Jika investigasi dianggap cacat dan korban merasa sendirian, maka reformasi harus dimulai dari cara lembaga mendengar, melindungi, dan mengadili. Pada akhirnya, rumah sakit yang baik bukan hanya yang menyelamatkan pasien, tetapi juga yang memastikan para pekerjanya tidak hancur di dalamnya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)