Krisis Global dan Buy the Dip: Pasar Saham Kian Kebal

ORBITINDONESIA.COM – Krisis global dan volatilitas pasar saham datang bertubi-tubi, namun investor makin yakin pada strategi buy the dip. Izak Odendaal dari Old Mutual Wealth mencatat lima krisis besar menghantam dunia dalam enam tahun, dan pasar tetap memantul cepat.

Dalam percakapan dengan Simon Brown, Odendaal menggambarkan krisis seolah menjadi fitur rutin pasar modern. Ia menyebut perang Iran sebagai krisis kelima dalam enam tahun, di luar problem domestik seperti load shedding dan kerusuhan 2021.

Gambaran ini menegaskan dua hal yang tampak bertolak belakang. Ekonomi global terlihat rapuh, tetapi pasar dan aktivitas ekonomi berulang kali menunjukkan daya lenting yang mengejutkan.

Odendaal memberi contoh Covid-19 yang ekstrem. Pasar mencapai titik terendah jauh sebelum dampak pandemi terasa penuh, seakan mendiskon bencana dan pemulihan hanya dalam hitungan minggu.

Ingatan publik masih menyimpan krisis 2008/2009 sebagai luka panjang. Brown mengingat pemulihan pasar saat itu memakan sekitar satu setengah tahun, dan ia meragukan durasi pemulihan selama itu akan terulang pada era sekarang.

Di sinilah keyword “krisis global” dan “volatilitas pasar saham” menjadi relevan bagi pembaca. Keduanya bukan lagi peristiwa langka, melainkan ritme yang memaksa investor mengubah psikologi dan disiplin portofolio.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)

Resiliensi pasar tidak lahir dari ketenangan, melainkan dari mekanisme yang makin cepat. Informasi menyebar real-time, transaksi kian instan, dan narasi “jika dunia tidak kiamat, beli saham” menguat sebagai kebiasaan kolektif.

Odendaal menyebut kemungkinan pergeseran mentalitas investor menuju buy the dip. Jika dulu koreksi memicu ketakutan, kini sebagian pelaku pasar seperti “menunggu diskon” dan berebut masuk saat harga jatuh.

Namun ketahanan itu tidak gratis. Brown mengangkat peran bailout, quantitative easing, dan pemangkasan suku bunga pascakrisis 2008 yang membentuk era intervensi agresif.

Odendaal menegaskan kebijakan intervensi menjadi alasan pemulihan ekonomi dan pasar pada banyak krisis. Pemerintah dan bank sentral, terutama di negara kaya, berupaya “membantali” pukulan ekonomi demi stabilitas politik dan sosial.

Masalahnya, kebijakan yang sama bisa menjadi sumber krisis berikutnya. Odendaal mengingatkan krisis tarif tahun lalu sebagai contoh krisis yang dipicu kebijakan, dan perang pun bisa dipandang sebagai produk keputusan politik.

Konsekuensi paling nyata adalah kenaikan utang pemerintah. Odendaal menyebutnya sebagai sumber kerapuhan ganda: ruang fiskal menyempit, dan utang itu sendiri dapat memicu hilangnya kepercayaan pasar di masa depan.

Ia memberi rujukan historis pada krisis fiskal zona euro 2011/2012 yang mengguncang keyakinan terhadap obligasi negara tertentu. Ia juga menyinggung momen-momen “goyah” di pasar obligasi Afrika Selatan ketika kekhawatiran utang meningkat.

Puncak kekhawatiran berada pada skenario ekstrem di Amerika Serikat. Jika obligasi AS terlihat “shaky”, fondasi sistem keuangan global ikut terguncang karena US Treasuries menjadi acuan risiko, likuiditas, dan penetapan harga aset.

Odendaal menambahkan detail yang jarang dibicarakan. Pemerintah bisa “menggiring” tabungan domestik ke obligasi melalui regulasi bank dan dana pensiun, tetapi tidak bisa memaksa investor asing membeli utang.

Di titik itulah mata uang menjadi kanal hukuman pasar. Ketika asing menolak membiayai defisit, tekanan berpindah ke kurs, inflasi, dan akhirnya biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Analisis ini membuat volatilitas pasar saham tampak seperti gejala, bukan penyakit. Penyakitnya adalah ketergantungan sistem pada intervensi yang menumpuk utang, sambil berharap kepercayaan pasar tidak retak sebelum “kaleng” itu berhenti ditendang.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)

Strategi buy-and-hold yang disarankan Odendaal terdengar klise, tetapi justru paling manusiawi. Ia mengakui timing pasar nyaris mustahil, dan masalah terbesar investor adalah psikologi saat berita perang atau pandemi memenuhi layar.

Namun ada sisi gelap dari budaya buy the dip yang terlalu percaya diri. Jika setiap krisis selalu “diselamatkan” oleh kebijakan, pasar berisiko membangun moral hazard dan menilai risiko secara lebih longgar.

Investor ritel sering menangkap pesan yang disederhanakan: turun berarti beli. Padahal yang menentukan hasil bukan hanya keberanian, melainkan diversifikasi, manajemen kas, dan ketahanan menghadapi penurunan yang bisa lebih lama dari perkiraan.

Kritiknya bukan pada optimisme, melainkan pada asumsi bahwa negara selalu punya amunisi. Odendaal sendiri mencontohkan Afrika Selatan sebagai negara dengan keterbatasan fiscal firepower, sehingga kemampuan meredam krisis tidak setara dengan negara kaya.

Di sinilah pembaca perlu membedakan “pasar pulih” dan “masyarakat pulih”. Pasar bisa rebound cepat, sementara biaya sosial krisis—pekerjaan, harga pangan, ketimpangan—sering pulih jauh lebih lambat.

Poin paling tajam dari wawancara ini justru kalimat sederhana: Anda tidak bisa memaksa orang asing membeli utang Anda. Ketika kepercayaan global menjadi penentu, ketahanan pasar bukan hanya soal grafik saham, tetapi juga soal kredibilitas institusi dan disiplin fiskal.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)

Krisis global dan volatilitas pasar saham tampaknya tidak akan menghilang, hanya berubah bentuk. Pasar mungkin terus memantul, tetapi fondasi yang menopangnya—utang, kebijakan, dan kepercayaan—tidak kebal retak.

Wawancara Brown dan Odendaal mengajari satu hal yang jarang nyaman didengar. Ketika kita mengandalkan pemulihan cepat sebagai “normal baru”, kita juga sedang bertaruh bahwa pemerintah selalu mampu, dan investor global selalu bersedia percaya.

Pertanyaannya bukan sekadar kapan krisis berikutnya datang, melainkan krisis jenis apa yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan resep lama. Jika hari itu tiba, apakah kita masih menganggap setiap penurunan sebagai diskon, atau sebagai sinyal bahwa sistem sedang menagih biaya yang selama ini ditunda?

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)