Miranda Priestly dan Budaya Kerja Toxic: Millennial vs Gen Z

ORBITINDONESIA.COM – Miranda Priestly kembali hadir, dan perdebatan tentang budaya kerja toxic, standar tinggi, serta batas mental health ikut menyala lagi di media sosial. Sejak sekuel The Devil Wears Prada rilis pekan lalu, banyak pekerja bertanya: apakah gaya kepemimpinan keras itu masih layak ditiru, atau justru alarm bahaya?

Di film pertama, Miranda adalah simbol kekuasaan: glamor, dingin, dan selalu benar. Di balik itu, ia juga mempraktikkan pola kerja yang membuat asisten “berlari” mengikuti ritme kantor yang berubah hanya karena ia melintas.

Reaksi penonton kini tidak lagi seragam. Pengalaman kerja modern, bahasa HR, dan isu kesehatan mental membuat banyak orang menonton ulang dengan kacamata berbeda.

Shweta Balachandran (32) menyebut Miranda “kritis tapi tidak mengontrol.” Namun Shubhra Chakraborty (27) melihatnya sebagai pemimpin yang memberi instruksi samar tanpa dukungan emosional.

Konflik utamanya adalah standar tinggi versus cara menagih standar itu. Sandhya Suresh (32) menggambarkan gaya Miranda seperti “melempar orang ke laut dengan tongkat kayu dan meminta mereka membawa pulang Beluga.”

Kata-kata yang muncul berulang kali—“intimidating”, “controlling”, “authoritative”, “decisive”—menunjukkan ambivalensi publik. Orang kagum pada hasil, tetapi ngeri pada proses.

Di titik ini, generasi menjadi variabel penting. Sharon P (31) mengatakan etos kerja millennial dibentuk oleh gagasan bahwa sukses menuntut “grunt work” dan menelan pahit tanpa keluhan.

Sanjeev Nivedan (32) menambahkan normalisasi kekerasan simbolik sejak sekolah. Ia mencontohkan pengalaman guru menampar atau melempar buku sebagai “motivasi”, sehingga kritik konstan terasa seperti nutrisi pertumbuhan.

Ketika pola itu bertemu realitas kelas menengah, jam kerja panjang dianggap tiket mobilitas sosial. Maka, Miranda seperti versi ekstrem dari “harga yang harus dibayar” demi karier.

Namun film juga memperlihatkan sisi gelap loyalitas. Nigel Kipling percaya Miranda akan mendukung promosi, tetapi kesempatan itu dikorbankan saat posisi Miranda terancam.

Di sekuel, perubahan terjadi, tetapi tidak sepenuhnya. Nigel baru mendapat ruang memimpin ketika Andy mendorong Miranda, dan ketika Miranda sedang sibuk menyelamatkan posisinya sendiri.

Kontras paling tajam datang dari Gen Z. Chakri Lakshmi (21) menuntut “mutual respect, clear communication, dan boundaries”, tiga hal yang nyaris absen di Runway.

Shubhra menegaskan ia percaya pada excellence, tetapi bukan dengan mengorbankan self-respect dan mental well-being. Bagi Gen Z, kualitas kerja tidak otomatis membenarkan cara memperlakukan orang.

Perdebatan ini juga tidak bisa dilepaskan dari bias gender. Azeefa Fatima (29) menyebut kita membahas “boleh dan tidak boleh” justru karena Miranda adalah perempuan.

Shweta menilai laki-laki dengan perilaku serupa mungkin akan disebut “visionary” atau “quirky.” Chakri menambahkan, perempuan sering dilabel “cold” dan “ruthless”, sementara laki-laki cukup disebut “demanding” atau “goal-oriented.”

Namun mengakui bias gender bukan berarti menghalalkan pelanggaran. Komentar soal tubuh, tatapan menghakimi, dan tuntutan tidak masuk akal—seperti meminta diterbangkan saat badai—tetap problem etika kerja.

Di sinilah sekuel mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Miranda dibuat lebih “patuh” pada HR, bahkan terlihat mengurus hal sederhana yang dulu ia limpahkan pada bawahan.

Azeefa melihat adegan snark soal aturan HR sebagai cermin kantor nyata. Banyak senior masih mengejek Internal Complaints Committee dan kebijakan etik, seolah itu gangguan, bukan perlindungan.

Chakri justru menyukai pelunakan karakter itu. Baginya, itu sinyal suara pekerja mulai didengar, dan tempat kerja bergerak ke arah lebih manusiawi.

Miranda Priestly adalah ujian moral yang dibungkus couture. Ia memaksa kita membedakan antara “pemimpin berstandar tinggi” dan “pemimpin yang memakan manusia.”

Millennial cenderung melihat kekerasan verbal dan tuntutan ekstrem sebagai bagian dari “tempaan.” Gen Z cenderung melihatnya sebagai kegagalan sistem komunikasi dan kegagalan empati.

Yang sering luput adalah fakta bahwa hasil besar tidak harus lahir dari ketakutan. Budaya kerja yang sehat bisa tetap keras pada target, tetapi lembut pada manusia.

Bias gender juga membuat diskusi menjadi tidak adil jika hanya berfokus pada “sifat” Miranda. Kritik yang tepat sasaran harus menilai perilaku dan dampaknya, bukan jenis kelamin pemimpinnya.

Jika sekuel membuat Miranda lebih tunduk pada HR, itu bukan sekadar “melemahkan karakter.” Itu bisa dibaca sebagai kritik: kekuasaan tanpa akuntabilitas akhirnya harus bernegosiasi dengan etika zaman.

Miranda Priestly mungkin tidak lagi sekadar ikon glamor, melainkan cermin yang memantulkan cara kita memaknai kerja. Pertanyaannya bukan hanya “mau kerja dengan Miranda atau tidak”, tetapi “mengapa kita pernah menganggap itu normal.”

Jika karier menuntut kita menukar martabat dengan promosi, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan ambisi kita, melainkan sistemnya. Dan jika tempat kerja mulai mendengar suara pekerja, tantangannya adalah memastikan perubahan itu bukan kosmetik, melainkan budaya.

Pada akhirnya, standar tinggi adalah kebutuhan industri, tetapi rasa takut bukan satu-satunya bahan bakarnya. Kita berhak membangun kantor yang menghasilkan karya hebat tanpa membuat manusia merasa kecil. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)