Kacamata Pintar Apple AI Mundur ke 2027, Ini Artinya

ORBITINDONESIA.COM – Kacamata pintar Apple AI kembali mundur, dan kini ditargetkan meluncur pada akhir 2027. Informasi ini datang dari Mark Gurman (Bloomberg), yang menyebut Apple mengalami sejumlah “hambatan” pengembangan menjelang WWDC.

Terjemahan artikel sumber: Jika Anda sudah mengincar untuk mengenakan kacamata pintar dari Apple, Anda harus menunggu sedikit lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Apple kini menargetkan merilis kacamata AI yang banyak dirumorkan pada “akhir 2027,” menurut Mark Gurman dari Bloomberg.

Kacamata itu sebelumnya diperkirakan diumumkan akhir tahun ini dan mulai dikirim pada awal 2027. Namun Gurman menulis di buletin Power On pada Minggu, sedikit lebih dari sepekan sebelum WWDC, bahwa perusahaan mengalami “hambatan” dalam pengembangan.

Gurman menulis kacamata pintar Apple dipandang sebagai komponen kunci peta jalan produk perusahaan. Orang-orang dekat Tim Cook mengatakan kepada Gurman bahwa CEO Apple yang akan lengser itu adalah pendukung kuat proyek ini dan menganggap kacamata tersebut sebagai prioritas utamanya.

John Ternus, yang akan mengambil alih kepemimpinan dari Cook pada September, disebut sebagai penggerak di balik proyek ini. Ia memimpin tim pengembangan produk selama dua tahun terakhir.

Gurman mengatakan kacamata itu akan menyertakan elemen desain seperti “kamera berbentuk oval, warna-warna unik, dan beberapa gaya bingkai” untuk menonjol dari pesaing. “Seiring waktu, Apple percaya kacamata itu bisa berkembang menjadi perangkat kesehatan dan pada akhirnya memasukkan teknologi augmented reality yang mampu meningkatkan cara orang melihat,” tulisnya.

Pada April, Gurman melaporkan Apple menguji desain bingkai yang mencakup bingkai persegi panjang besar mirip Ray-Ban Wayfarers. Ada juga gaya persegi panjang yang lebih ramping, desain oval atau bulat yang lebih besar, serta opsi oval atau bulat yang lebih kecil.

Riset Counterpoint Research yang dirilis Maret menyebut kategori kacamata pintar masih pada tahap awal. Mereka melaporkan pasar kacamata pintar tumbuh 139% secara tahunan pada paruh kedua 2025 dibanding 2024.

Meta disebut mendominasi, tetapi gelombang perangkat kacamata pintar dengan kemampuan beragam mulai meluncur sepanjang 2026. Google dan Samsung, di antara yang lain, diperkirakan segera memamerkan kacamata baru.

Kacamata pintar Apple diperkirakan memiliki kamera untuk merekam video dan foto. Perangkat ini juga akan membawa mikrofon dan speaker untuk panggilan telepon, mendengarkan notifikasi, dan memutar musik.

Kacamata itu juga dilaporkan akan memiliki AI multimodal yang bisa merespons permintaan melalui Siri. Dengan kata lain, Apple ingin kacamata menjadi antarmuka baru yang selalu menempel di tubuh pengguna.

Penundaan kacamata pintar Apple AI ke akhir 2027 mengubah kalkulasi pasar yang sedang memanas pada 2026. Saat pesaing berebut panggung lebih dulu, Apple tampak memilih menahan diri demi kualitas, integrasi ekosistem, dan diferensiasi desain.

Data Counterpoint Research menunjukkan pasar kacamata pintar tumbuh 139% year-over-year pada paruh kedua 2025. Angka ini besar, tetapi juga menandakan fase “early adopter” yang rawan ledakan hype dan kekecewaan massal bila pengalaman pengguna belum matang.

Meta memang memimpin, tetapi dominasi awal sering bukan jaminan kemenangan jangka panjang. Kacamata adalah kategori yang menuntut kenyamanan, estetika, dan kebiasaan baru, sehingga pemenang akhirnya bisa ditentukan oleh siapa yang paling mulus menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Di sinilah Apple biasanya bermain: membuat teknologi terasa “normal” dan tidak mengintimidasi. Namun “hambatan” yang disebut Gurman mengisyaratkan tantangan klasik wearable: baterai kecil, panas, bobot, kualitas kamera, dan audio yang harus tetap nyaman dipakai berjam-jam.

Tambahan AI multimodal via Siri juga bukan sekadar fitur, melainkan janji pengalaman. Jika Siri belum konsisten, kacamata akan terasa seperti remote yang sering gagal, bukan asisten yang bisa diandalkan.

Rencana evolusi menuju perangkat kesehatan dan kemudian augmented reality memperlihatkan strategi bertahap. Apple tampaknya ingin memulai dari fungsi yang mudah dipahami—kamera, panggilan, musik, notifikasi—sebelum melompat ke AR yang lebih mahal dan lebih sensitif terhadap privasi.

Desain yang disebut Gurman—kamera oval, warna unik, banyak gaya bingkai—adalah sinyal bahwa Apple sadar kacamata adalah fesyen. Kacamata yang canggih tetapi “tidak enak dilihat” akan mati di etalase, karena pengguna memakainya di wajah, bukan menyimpannya di saku.

Namun, kamera di wajah juga memicu perdebatan sosial yang lebih keras daripada ponsel. Apple akan diuji pada standar privasi yang selama ini menjadi narasi utamanya, terutama soal indikator perekaman, pemrosesan on-device, dan kebijakan data.

Menariknya, proyek ini disebut sebagai prioritas Tim Cook, sementara John Ternus menjadi motor penggerak dan akan mengambil alih pada September. Artinya, kacamata bisa menjadi “produk transisi” yang menentukan warisan Cook sekaligus ujian kepemimpinan Ternus.

Penundaan ini bisa dibaca sebagai kabar buruk bagi penggemar, tetapi kabar baik bagi kategori yang masih rapuh. Produk yang dipaksakan rilis demi mengejar kompetitor sering menjadi “generasi pertama” yang membuat publik kapok.

Apple tampaknya paham bahwa kacamata pintar bukan sekadar gadget, melainkan norma sosial baru. Begitu orang merasa diawasi, atau merasa kacamata itu membuat pemakainya “aneh”, pasar bisa runtuh lebih cepat daripada ia tumbuh.

Di sisi lain, menunggu hingga 2027 juga berisiko membuat Apple kehilangan momentum narasi. Jika Google, Samsung, dan Meta berhasil membakukan standar desain dan perilaku pengguna lebih dulu, Apple akan masuk sebagai pengikut, bukan pengarah.

Karena itu, taruhan Apple seharusnya bukan “paling cepat”, melainkan “paling layak dipakai setiap hari”. Kacamata pintar Apple AI hanya akan menang bila ia menghilang dari kesadaran pengguna, bekerja tanpa drama, dan tidak membuat orang di sekitar merasa terancam.

Kacamata pintar Apple AI yang mundur ke akhir 2027 menegaskan satu hal: masa depan komputasi personal sedang bergeser ke perangkat yang menempel di tubuh. Pertanyaannya bukan lagi apakah kacamata pintar akan populer, melainkan model mana yang bisa dipercaya dan diterima secara sosial.

Jika Apple berhasil, kacamata bisa menjadi layar baru yang lebih halus daripada ponsel dan lebih ringan daripada headset. Jika gagal, ia akan menjadi pengingat bahwa teknologi paling sulit bukan yang paling canggih, tetapi yang paling manusiawi.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)